Search by Google

PROMOSI

Jumat, 05 Agustus 2016

JADWAL LOMBA PESTA EMAS PAROKI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS

Rabu, 17 Agustus 2016 Pukul 08.00 – Selesai
1.    Lari Kelereng (Perseorangan – SD Kelas 1 – 3)
2.    Makan Kerupuk (Perseorangan – SMP)
3.    Mengisi Air ( Perorangan – SD Kelas 4 – 6)
4.    Ular Pakai Sarung (Umum - Antar Rukun / Stasi)
5.    Bola Gotong Campuran (Umum – Antar Rukun / Stasi)

Minggu, 11 September 2016 Pukul 17.00 –Selesai
1.    Cerita Santo / Santa (Perorangan – SMP)
2.    Mazmur (Perorangan – SD / SMP)
3.    Lektor (Perorangan – SD / SMP)
4.    Kuis Kitab Suci (Keluarga – Antar Rukun / Stasi)

Minggu, 2 dan 9 Oktober 2016 Pukul 19.00 – Selesai
1.    Domino Pasangan (Umum – Antar Rukun / Stasi)

Minggu, 16 Oktober 2016 Pukul 10.00 – Selesai
1.    Tenis Meja Putra (Umum – Antar Rukun / Stasi)

Minggu, 23 Oktober Pukul 10.00 – Selesai
1.    Tenis Meja Putri (Umum – Antar Rukun / Stasi)

Minggu, 13 Nopember 2016 Pukul 19.00 – Selesai
1.    Lektor (OMK – Antar Rukun / Stasi)
2.    Mazmur (OMK – Antar Rukun / Stasi)

Minggu, 20 Nopber 2016 Pukul 10.00 – Selesai
1.    Mewarnai Santo / Santa (Perorangan – SD Kelas 2 – 4 )
2.    Melukis Santa / Santa (Perorangan – SD Kelas 5 – 6)

Minggu, 27 Nopember 2016 Pukul 10.00 – Selesai
1.    Menempel (Perorangan – Pra Sekolah)
2.    Memasak (Kaum Bapak – Antar Rukun / Stasi)
3.    Merangkai Bunga (Kaum Ibu – Antar Rukun / Stasi)

Jumat, 29 Juli 2016

KRONOLOGIS SEJARAH STASI SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA

Pada mulanya adalah iman. Dan iman itu bersatu dalam semangat. Semangat inilah yang menjadi roh dalam laku persekutuan beberapa keluarga umat katolik untuk bersama-sama berkumpul dan berdoa dalam peribadatan di awal keberadaan stasi ini.

Inilah kronologis keberadaan stasi Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga  yang dapat ditelusuri:

1980 – 1993 Ibadat dilaksanakan secara rutin setiap minggu di rumah Kel. Donatus Renyaan oleh ± 5 KK

1992, Minggu 13 September peletakan batu pertama gereja (lama) stasi oleh P. Mateus Bakolu Pr

1994, Senin 15 Agustus pemberkatan gedung gereja sekaligus awal peresmian stasi dengan pelindung Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga oleh P. Mateus Bakolu Pr.

1994 – 1999 ketua Stasi Donatus Renyaan dengan ± 8 KK

1999 – 2003 ketua Stasi Lambertus Margiu

2003 – 2006 ketua Stasi Marten Baga Sadipun dengan ± 35 KK

2006 – 2009 ketua Stasi Robertus Rupang dengan ± 52 KK

2007, 14 September Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gedung Gereja dan Pastoran baru disetujui berdasarkan SK Walikota Kendari No. 202 Tahun 2007 tertanggal 14 September 2007

2008, 10 Januari pembentukan Panitia Pembangunan Gereja dan Pastoran Stasi Anduonohu dengan ketua Bapak Tandibayang SH dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Rp. 2.711.383.000,-

2008, Mei Vikaris Episkopal Sulawesi Tenggara, P. Matheus Bakolu Pr (saat itu) memberikan rekomendasi pembangunan gereja dan pastoran dengan Surat No. 1905/02/Vikep Sultra/2008

2008, 15 Agustus peletakan batu pertama pembangunan gereja dan pastoran oleh P. Martinus Pasomba Pr, Pastor Paroki Santo Fransiskus Xaverius Sadohoa saat itu

2009, 21-22 Nopember pembongkaran gedung gereja lama.

2009, 27 Nopember pemindahan rangka gedung gereja lama ke posisi sekarang

2009, Desember renovasi dan pembangunan gereja sementara di posisi baru (gereja yang saat ini dipakai)

2010 – 2014 ketua Stasi Antonius Budi Utomo dengan ± 62 KK

2010, Kamis 29 Juli stasi Anduonohu dimekarkan menjadi 3 rukun oleh P. Martinus Pasomba Pr yakni
                1. Rukun Santa Maria Tak Bernoda dengan ketua Yane Paternus Yunus
                2. Rukun Santo Yosep Pekerja dengan ketua Alexander Siboro
                3. Rukun Santo Mikael dengan ketua Leonardus Nabe

2012 – 2014 terjadi persoalan hukum karena tanah untuk lokasi gereja dan pastoran digugat yang baru selesai pada akhir tahun 2014 setelah disetujui pembayaran ganti rugi kepada pihak penggugat yang turut disaksikan oleh P. Martin Solon Pr, Pastor Paroki Santo Fransiskus Xaverius Sadohoa saat itu.

2014 – 2018 ketua Stasi Tikno Sarwoko dengan ± 69 KK
Jumlah umat didasarkan statistik Paroki tahun 2013 adalah 69 KK (266 Jiwa).

2015, Pebruari Proses Pembangunan Gedung Gereja dan Pastoran dimulai kembali dengan pertama-tama menyelesaikan pagar gereja

2016, 15 Agustus Ulang Tahun dan Pesta pelindung Stasi Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga yang ke 22


Demikianlah sekilas sejarah stasi ini yang dapat ditelusuri. Memang, masih banyak lagi peristiwa yang belum tercatat dalam perjalanan stasi kita. Namun, semoga kronologis singkat yang dapat ditelusuri ini sanggup meneguhkan iman dan keyakinan kita semua dan pada akhirnya akan berbuah dengan selesainya gedung gereja dan pastoran baru kelak yang jauh lebih baik kondisinya. Semoga demikian adanya. Selamat hari minggu. Semoga Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Foto-foto sejarah dapat dilihat di sini


Jumat, 01 Juli 2016

PERUBAHAN JADWAL LDK OMK

Jadwal baru kegiatan LDK OMK paroki Sto.Fransiskus Xaverius Sanua :
Waktu : Minggu - Rabu, 3 - 6 Juli 2016
Hari minggu, 3 Juli 2016 
Jadwal dimajukan jadi lebih awal yg tadinya registrasi jam 15.00 menjadi jam 13.00 WITA.
Tempat : SMP Frater KENDARI

Lokasi kegiatan dipindahkan dari Lambesu ke SMP Frater Kendari karena pertimbangan cuaca yang tidak menentu, tidak memungkinkan untuk tinggal di tenda.
Perlengkapan yang harus dibawa oleh peserta: 
Pakaian secukupnya, celana trening, sepatu kets, rosario, sendok, gelas plastik/botol minum, sarung/selimut, alat mandi, alat tulis, dan bagi yang memiiliki riwayat penyakit ttt seperti asma silakan membawa obat sendi
ri.
Harap dimaklumi atas perubahan jadwal dan lokasi kegiatan ini, semoga tidak menyurutkan niat kita untuk mengikuti kegiatan,karena perubahan ini tidak akan mengurangi isi dan tujuan kegiatan.
Trims,Tuhan mmberkati.
Ttd, 
Panitia.

Sabtu, 18 Juni 2016

LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN

UNDANGAN KEPADA SEGENAP KAUM MUDA KATOLIK UNTUK MENGIKUTI LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN SEBAGAI SALAH SATU KEGIATAN DALAM PESTA EMAS 50 TAHUN PAROKI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS KENDARI YANG AKAN DIADAKAN PADA:

HARI / TANGGAL : MINGGU - RABU / 3 - 6 JULI 2016
TEMPAT                  : VILLA DA VINCE LAMBESU
PESERTA                : YOX, OMK SMP, SMA, MAHASISWA/I & KARYAWAN/TI BELUM MENIKAH
KONTRIBUSI         : Rp. 10.000 / PESERTA

PENDAFTARAN DENGAN MENGAMBIL FORMULIR PENDAFTARAN PADA PEMBINA YOX


Rabu, 15 Juni 2016

SEJARAH SUSTER-SUSTER JMJ DI KENDARI

Didirikan pada tanggal 4 April 1969. Tujuannya untuk membantu pelayanan kesehatan di Rumah sakit yang dikelola oleh Keuskupan Agung Makassar. Societas JMJ mengutus 3 orang Suster Pionir yaitu Sr. Bertranda  Freliks (perawat dan pemimpin komunitas), Sr. Christophora Rapar (perawat) dan Sr. Quiseppa Laiseno (Kerumahtanggaan dan di paroki). Tahun pun terus berganti terjadilah rotasi suster-suster JMJ, ada yang datang dan ada yang meninggalkan Rumah Sakit Santa Anna. Selanjutnya ada beberapa suster JMJ yang masuk menggantikan suster yang datang di tahun 1970,antara lain : Sr.Theodora Kaunang JMJ, Sr. Beatrix Umboh JMJ, Sr. Josephin Kaparang JMJ, Sr.Asumtiah JMJ. Periode ini berlangsung hanya sampai tahun 1977. Setelah mengadakan perundingan dan persetujuan dengan Uskup Keuskupan Agung Makassar, para suster ditarik kembali ke Makassar.

Pada 31 Maret 1982 Uskup Agung Ujung Pandang meminta Societas JMJ untuk kembali mengelola Rumah sakit Santa Anna sampai sekarang. Kini komunitas suster JMJ Kendari terdiri 5 suster: Sr. Patricia Ngala, JMJ selaku pemimpin komunitas, Sr. Rosa Liling JMJ, Sr. Hedwiga Rua, JMJ, Sr. Mariana Mbasal JMJ dan Sr. Giasinta Wengkang JMJ.

RUMAH SAKIT SANTA ANNA KENDARI
Rumah Sakit St. Anna Kendari termasuk salah satu rumah sakit umum swasta yang dikelola oleh suster-suster JMJ. Rumah Sakit ini sebelumnya dikelola oleh Yayasan Sentosa Ibu, milik Keuskupan Agung Makassar.

Rumah Sakit Santa Anna Kendari, pada awalnya hanya sebuah Balai Pengobatan dan BKIA yang dipelopori seorang misionaris CICM, Pastor dr. Clemens Lemmens, CICM. Pastor misionaris Belgia ini semula bertugas di daerah Muna. Dalam karyanya ia bertugas sebagai imam sekaligus memberikan pelayanan kesehatan. Kegiatan Balai pengobatan dimulai oleh Pastor dr. Lemmens  pada tanggal 12 Agustus 1968. Ia dibantu oleh suster Josepha Waha JMJ dan Sr. Maria Van Nazareth JMJ yang didatangkan dari Makassar.

Pada tahun 1969 poliklinik dan BKIA berubah status dan naik kelas menjadi rumah sakit. Perubahan status ini diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Eddy Sabara. Pada tahun yang sama yakni 1969 Dr. Lemmens minta bantuan suster-suster JMJ untuk berkarya secara menetap di RS. St. Anna, baik sebagai perawat maupun sebagai tugas-tugas social di paroki. Pimpinan provinsi suster JMJ menyetujui permintaan itu dengan mengutus 3 orang suster yaitu Sr.  Bertranda Freriks JMJ, Sr. Christophora Rapar, JMJ dan Sr. Quiseppa Laiseno, JMJ.

Sejak hadirnya suster-suster JMJ, rumah sakit ini semakin ramai dikunjungi pasien, baik yang rawat inap maupun rawat jalan. Tahun 1973 Pastor dr. Lemmens mendapat bantuan tenaga yakni dr. Yohn Manupasa dan sejumlah tenaga medis awam sehingga pelayanan kesehatan RS. St. Anna semakin berkembang.

Karena semangat kerjanya yang tinggi dan tak mengenal lelah, kesehatan Pastor Lemmens kian menurun. Pada tanggal 11 Agustus 1974, Pastor dr. Lemmens dipanggil Bapa di Surga. Seluruh karyawan/karyawati Rumah Sakit Santa Anna bersama umat dan masyarakat kota Kendari berduka cita serta merasa sangat kehilangan. Karena begitu dekatnya dengan umat dan masyarakat kota kendari, Rumah Sakit Santa Anna sering disebut Rumah sakit ‘dokter Lemmens’. Sebagai penggantinya, diangkat dr. Yohn Manupasa sebagai direktur rumah sakit sampai tahun 1976. Kemudian direktur RS. St. Anna diganti oleh dr. Robby Waelan.

Pada tahun 1977  setelah mengadakan perundingan dan persetujuan Uskup Agung Makassar, Mgr. Dr. Th. Lumanauw, Provincial JMJ menarik suster-suster dari Kendari. Sejak saat itu suster-suster JMJ sementara tidak berkarya di kendari. 

Namun, pada tanggal 31 Mei 1982 Uskup Agung Makassar meminta kepada Provinsial agar suster-suster JMJ untuk kembali bekerja di RS Kendari. Provincial JMJ menyetujui permintaan Bapak Uskup. Sejak saat itu, Rumah Sakit yang dikelola oleh Yayasan Sentosa Ibu milik Keuskupan Agung Makassar dialihkan ke Yayasan Joseph, milik kongregasi JMJ. Dengan direkturnya dr. Yohanes Tendean, sampai tahun 1999.

Selanjutnya di tahun 1999 terjadi serah terima jabatan Direktur baru dari direktur sebelumnya dokter Yohanes Tendean ke direktur yang baru  Letkol CKM (Purn) dokter Aloysius Unggul Pribadi. Pada masa kepemimpinan dokter AL Unggul Pribadi, status pengelolaan Rumah Sakit Santa Anna diserahkan dari Yayasan Joseph ke Yayasan Ratna Miriam. Fasilitasnya pun semakin dibenahi seperti pembangunan Ruang ICU,  Beliau menjabat sebagai Direktur RS Santa Anna hingga tahun 2011.

Setelah dr. Aloysius Pribadi, kepemimpinan di Rumah Sakit Santa Anna diserahkan ke dokter Mario Polo Widjaya,M.Kes,Sp.OT, dan status pengelolaan  Rumah Sakit ini pun beralih ke PT. Citra Ratna Nirmala. Dalam mengemban tugasnya sebagai direktur, beliau banyak membenahi  Rumah Sakit ini, Merenovasi UGD, Laboratorium, pengadaan peralatan poliklinik gigi, dsb-nya. Dokter Mario Polo Widjaya,M.Kes,Sp.OT memimpin Rumah Sakit Santa Anna dari tahun 2011 sampai saat ini.

Seiring berjalannya waktu dan tuntutan jaman yang makin kompleks serta kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, Rumah Sakit Santa Anna dalam pelayanannya senantiasa menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Ini juga yang merupakan spiritualitas suster-suster JMJ “kesiap-siagaan apostolik yang senantiasa dapat menyesuaikan diri”. maka dari itu Pimpinan kongregasi JMJ saat ini melengkapi tenaga suster untuk tenaga keperawatan (Sr. Patricia Ngala JMJ, administrasi (Sr. Rosa Liling, JMJ),  gizi (Sr. Hedwiga Rua, JMJ), laboratorium (Sr. Giasinta Wengkang, JMJ) dan farmasi (Sr. Mariana Mbasal, JMJ).

Rumah sakit ini juga telah memiliki beberapa dokter spesialis ; Spesialis jantung, spesialis interna, spesialis tulang, spesialis anak, spesialis kandungan dll serta sudah membuka pelayanan bagi pasien hemodialisa / cuci darah. Pada tahun 2015 rumah sakit ini telah lulus akreditasi dari tim Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Nasional.

Oleh Sr. Mariana Mbasal, JMJ


Disadurkan dari dok. Soc. JMJ

Jumat, 10 Juni 2016

MENJELANG PESTA EMAS: SEBUAH CATATAN SEJARAH

Sebelum tahun 1960-an, umat Katolik di wilayah kota Kendari dan sekitarnya dilayani oleh Pastor Paroki Santo Yohanes Pembaptis Raha, Kabupaten Muna, P. Breces CICM. Kendari saat itu merupakan salah satu Stasi dari Paroki Raha. Setiap minggu kebaktian sabda dilaksanakan di rumah umat dan perayaan Ekaristi Kudus bila ada kunjungan dari Pastor Paroki Raha diselenggarakn di rumah Bapak Petrus Nau di Kampung Salo, Kendari.

Pada tahun 1960, ayah dari keluarga Jie Jau Min (Alm) menghibahkan sebidang tanah kepada Dewan Gereja untuk diprgunakan oleh Gereja. Sebidang tanah itulah yang menjadi cikal bakal lokasi gereja Paroki Santo Fransiskus Xaverius saat ini. Di atas tanah tersebut terdapat sebuah rumah panggung yang dijadikan tempat untuk beribadah sementara bagi umat saat itu secara rutin bilamana ada kunjungan Pastor dari Paroki Raha.

Beberapa keluarga awal yang tercatat berdasarkan informasi umat antara lain:
Kel. Bapak Nayoan
Kel. Bapak Renyaan
Kel. Bapak Louis
Kel. Bapak Hendrikus
Kel. Bapak Suleman
Kel. Bapak Atanasius
Kel. Bapak Yosep Tawang
Kel. Bapak Gregorius Gori
Kel. Bapak Petrus Nau
Kel. Bapak Lambertus Lago
Kel. Bapak John Lalu (Ketua DePa pertama)
Kel. Bapak T.M. Patiung (Korem 143)
Pastor Dr. Clemens CICM

Dalam perkembangan selanjutnya, pada tanggal 2 Desember 1966 oleh P. Dr. Clemens CICM dan P. Paulus Catry CICM di lokasi tanah tersebut telah didirikan sebuah bangunan gereja permanen dengan ukuran 20x14m dengan daya tampung umat sekitar 200 orang dimana terdata jumlah umat saat itu sekitar 50 jiwa. Dan kemudian, Uskup mengangkat P. Paulus Catry CICM sebagai Pastor Paroki Santo Fransiskus Xaverius yang pertama dengan wilayah pelayanan meliputi Kolaka, Pomalaa, Ranomeeto, Wolasi, Unaaha, Pangkalan Udara/Bandara dan Kendari bagian selatan.

Peningkatan jumlah umat di Kota Kendari yang pesat pada tahun 1980-an dengan banyaknya pendatang baru seperti pegawai negeri, militer maupun pengusaha yang menetap di kota Kendari membuat gedung gereja tidak mampu lagi menampung jumlah umat khususnya saat Perayaan hari-hari raya seperti saat Natal dan Paskah. Atas pertimbangan tersebut, maka pada tahun 1985, diprakarsai beberapa tokoh umat, dibangunlah gedung gereja Santo Clemens Mandonga dan pada tanggal 22 Pebruari 2000 dilaksanakan pemekaran menjadi Paroki baru: Paroki Santo Clemens Mandonga sekarang.

Seiring perkembangan kota Kendari menjadi kota administrasi sesuai dengan PP No. 19/1978 tentang Pembentukan Kota Administratif Kendari lalu menjadi Kotamadya dengan UU RI No. 6/1995 tanggal 27 September 1995, maka kapasitas gedung gereja Paroki Santo Fransiskus Xaverius dianggap tidak memadai lagi dan untuk meng-antisipasi perkembangan jumlah umat, maka pada tanggal 24 Pebruari 2003 dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja dengan tugas mengembangkan bangunan gereja dari yang sebelumnya seluas 280m2 menjadi 790m2 sedangkan untuk gedung pastoran dibangun 2 lantai dengan luas bangunan 1.050m2.

Pada hari sabtu tanggal 2 Desember 2006, Gedung Gereja dan Pastoran baru diresmikan oleh Walikota Kendari, Bapak H. Masyhur Masie Abunawas M.Si serta diberkati oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada pada hari minggu tanggal 3 Desember 2006. (Lihat foto-foto di sini)

Para Pastor yang pernah mengabdi di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Kendari adalah:
P. Paulus Catry CICM (Pastor Paroki dari tahun 1966 - 1972)
P. Clemens Lemens CICM (Pastor Pembantu sampai dengan tahun 1974)
P. Robert Suykens CICM (Pastor Paroki dari tahun 1972 - 1976)
P. Piet Muythens CICM (Pastor Pembantu dari September 1975 - Desember 1975)
P. Berigno De Las Reyes CICM (Pastor Pembantu dari Agustus 1975 - Desember 1975)
P. Raymond Stock CICM (Pastor Paroki dari tahun 1976 - Pebruari 1984)
P. Anton Denissen CICM (Pastor Paroki dari Pebruari 1984 - Agustus 1985)
P. Patrick Samperuru Galla Pr Alm (Pastor Pembantu dari Mei 1984 - September 1986)
P. Frans Tandipau Pr (Pastor Paroki dari Oktober 1985 - Agustus 1990, juga merupakan pastor diosesan pertama di Kendari menjadi Pastor Paroki).
P. Emanuel K. Parapak Pr (Pastor Pembantu dari Oktober 1986 - Desember 1987)
P. Albert Maria Rua Pr (Pastor Pembantu dari Desember 1987 - September 1990)
P. Matheus Bakolu Pr (Pastor Paroki dari September 1990 - Agustus 1998)
P. Roby Lamba T. Pr (Pastor Pembantu dari September 1991 - September 1994)
P. Alex Sossang Pr (Pastor Pembantu dari September 1991 - September 1994)
P. Marselinus Lolotandung Pr (Pastor Pembantu dari September 1994 - September 1996)
P. Goris Supu Pr (Pastor Pembantu dari September 1996 - September 1998)
P. Emanuel Mansuetus Mali Pr (Pastor Paroki dari Agustus 1998 - Februari 2000, dan kemudian menjadi Pastor Paroki Santo Clemens Mandonga setelah Stasi Mandonga dijadikan sebagai Paroki tersendiri pada 22 Pebruari 2000 dan kini Pastor Paroki Santo Petrus Gembala Yang Baik Sungguminasa)
P. Isidorus La Rumpu Kaniu Pr - Alm. (Pastor Paroki dari Pebruari 2000 - Oktober 2001, dan saat itu juga merangkap menjadi ketua Regio Sulawesi Tenggara yang lalu digantikan oleh P. Alex Maitimo Pr dan setelah resmi menjadi Kevikepan Sultra pada tanggal 1 Maret 2002 oleh P. Matheus Bakolu Pr - kini Vikaris Episkopal Sultra dipegang oleh P. Willibrordus Welle Pr)
P. Nathanael Runtung Pr (kini Vikep Toraja) - Pastor Paroki dari Oktober tahun 2001 – September 2006
P. Marthinus Pasomba Pr (Pastor Paroki dari September 2006 - September 2010, yang melaksanakan pemekaran Stasi Anduonohu menjadi 3 rukun - kini Vikep Sulawesi Barat)
P. Marthin Solon Pr (Pastor Paroki dari September tahun 2010 - September 2014, kini Pastor Paroki Santo Mikael Palopo)

P. Herman Panggalo Pr (Pastor Paroki dari bulan September 2014 - sekarang, sebelumnya adalah Kepala SMA Katolik Cendrawasih Makassar).

Saat ini, dalam lingkup Paroki Santo Fransiskus Xaverius juga berkarya Komunitas Susteran JMJ dengan RS Santa Anna, Yayasan Paulus dengan TK Kuncup Mekar dan Komunitas Frater HHK dengan SMA Frater Kendari.

Dan data paroki Santo Fransiskus Xaverius untuk tahun 2013 dapat dilihat di sini. Kronologis dari Kevikepan Sulawesi Tenggara dapat dibaca di sini.

Foto-foto sejarah paroki dapat dilihat di sini

Dikutip dari berbagai sumber, terutama Buku Ulang Tahun ke 40


Rabu, 04 Mei 2016

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

Pesan Paus Fransiskus
Untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50
Minggu Paskah VII, 8 Mei 2016
Komunikasi dan Kerahiman: Suatu Perjumpaan yang Berbuah
TAHUN SUCI Kerahiman mengajak  kita untuk merefleksikan hubungan antara komunikasi dan kerahiman. Sesungguhnya Gereja, dalam kesatuan dengan Kristus sebagai penjelmaan yang hidup dari Bapa Yang Maha Rahim, dipanggil untuk mewujudkan kerahiman sebagai ciri khas dari seluruh keberadaan dan  perbuatannya. Apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya,  setiap kata dan sikap, seharusnya mampu mengungkapkan kemurahan, kelembutan dan pengampunan Allah bagi semua orang. Kasih, pada hakikatnya, adalah komunikasi; kasih mengarah kepada keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi. Jika hati dan tindakan kita diilhami oleh kasih, oleh kasih ilahi, maka komunikasi kita akan tersentuh oleh kuasa Allah sendiri.
Sebagai putra dan putri Allah kita semua dipanggil untuk berkomunikasi dengan semua orang, tanpa kecuali. Dengan cara yang khas, kata-kata dan tindakan Gereja dimaksudkan untuk menyampaikan kerahiman, menyentuh hati orang-orang dan  mendukung mereka dalam perjalanan menuju kepenuhan hidup sebagaimana Yesus Kristus , diutus Bapa, telah datang  untuk membawa kepada semua.  Ini berarti bahwa kita sendiri haruslah bersedia menerima kehangatan Bunda Gereja dan berbagi kehangatan itu dengan orang lain, sehingga Yesus semakin dikenal dan dikasihi; kehangatan itulah yang memberi hakikat kepada sabda iman dan yang menyalakan dalam pewartaan dan kesaksian kita “percikan” yang memberi hidup.
Komunikasi memiliki kekuatan untuk menciptakan penghubung, memampukan untuk perjumpaan dan penyertaan, dan dengan demikian memperkaya masyarakat. Betapa indahnya ketika orang-orang dengan hati-hati memilih kata-kata dan tindakan-tindakan, dalam upaya menghindari  kesalahpahaman, menyembuhkan kenangan-kenangan yang terluka dan membangun  perdamaian dan keharmonisan. Kata-kata dapat membangun hubungan antar pribadi-pribadi dan antar anggota keluarga, kelompok-kelompok sosial dan bangsa-bangsa. Hal ini bisa terjadi di  dunia nyata  maupun dunia digital. Kata-kata dan tindakan-tindakan kita harus tampak untuk membantu kita semua untuk keluar dari lingkaran setan yang selalu menyalahkan dan membalas dendam,  yang terus menerus menghantui manusia baik secara pribadi maupun dalam komunitasnya, yang memicu ungkapan-ungkapan  kebencian. Perkataan orang-orang Kristen haruslah terus-menerus mendukung bagi persekutuan dan, bahkan dalam hal di mana mereka harus mengutuk secara tegas kejahatan,  mereka seharusnya tidak sampai  memutus relasi dan komunikasi.
Untuk alasan ini, saya ingin mengajak semua orang yang berkehendak baik menemukan kembali daya kerahiman untuk menyembuhkan relasi yang terluka dan memulihkan perdamaian dan kerukunan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas. Kita semua mengetahui bagaimana luka-luka lama dan dendam kesumat dapat menjerat manusia dan menghalangi untuk komunikasi dan rekonsiliasi. Hal yang sama terjadi juga dalam relasi antar bangsa-bangsa. Dalam setiap kasus, kerahiman selalu mampu menciptakan cara baru untuk berbicara dan berdialog. Shakespeare merumuskannya dengan elok ketika ia berujar: “Kualitas kerahiman tak terkekang. Ia turun dari surga bagaikan hujan yang menyejukkan di atas bumi. Kerahiman membawa berkat ganda: ia memberkati dia yang memberi dan dia yang menerima” (Saudagar Venisia, Lakon IV, Adegan I).
Bahasa politik dan diplomatik kita akan berhasil dengan baik jika terinspirasi oleh kerahiman, yang tidak pernah kehilangan harapan. Saya meminta mereka yang mengemban tanggung jawab institusional dan politik, dan mereka yang diberi amanat membentuk opini publik, untuk tetap memperhatikan secara khusus cara  berbicara kepada orang-orang yang berpikir atau bertindak secara berbeda, atau orang-orang yang mungkin telah bersalah. Sangatlah mudah menyerah pada godaan untuk mengeksploitasi situasi-situasi seperti itu yang dapat  menyulut api kecurigaan, ketakutan dan kebencian. Sebaliknya keberanian dibutuhkan untuk membimbing orang-orang menuju proses rekonsiliasi. Keberanian positif dan kreatif seperti itulah yang sebenarnya menawarkan solusi nyata untuk berbagai perseteruan yang mengesumat dan membuka peluang untuk membangun perdamaian abadi. “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan […] Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:7-9).
Betapa saya sangat berharap agar cara kita berkomunikasi, seperti juga pelayanan kita sebagai  gembala Gereja, jangan sampai memberi kesan superioritas yang angkuh dan sombong atas  musuh, atau merendahkan orang-orang yang dianggap dunia sebagai yang tidak berguna dan dengan mudah dicampakkan. Kerahiman dapat membantu meringankan berbagai kesulitan hidup dan memberi kehangatan kepada mereka yang hanya mengenal dinginnya penghakiman. Semoga cara kita berkomunikasi membantu mengatasi pola pikir yang secara tegas memisahkan para pendosa dari orang-orang benar. Kita bisa dan kita harus  menilai aneka situasi dosa – seperti kekerasan, korupsi dan eksploitasi – akan tetapi kita tidak boleh menghakimi pribadi-pribadi, karena hanya Allahlah  yang mampu melihat ke kedalaman hati manusia. Menjadi tugas kita untuk memperingatkan dan menegur mereka yang berbuat salah serta mengecam kejahatan dan ketidakadilan melalui cara-cara dan tindakan-tindakan tertentu, untuk membebaskan para korban dan membangkitkan mereka yang telah jatuh. Injil Yohanes mengatakan kepada kita bahwa “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Kebenaran itu pada akhirnya ialah Kristus sendiri, kerahiman-Nya yang lembut menjadi tolok ukur untuk menakar cara kita menyatakan kebenaran dan mencela ketidakadilan. Tugas utama kita adalah menegakkan kebenaran dengan kasih (bdk. Ef 4:15). Hanya perkataan yang diucapkan dengan kasih dan disertai dengan kelembutan dan kerahiman mampu menjamah hati kita yang sarat dosa. Kata-kata dan tindakan-tindakan yang keras dan moralistik beresiko mengasingkan orang-orang yang kita harapkan kepada pertobatan dan kebebasan, memperkuat rasa penolakan dan sikap defensif.
Sebagian orang merasa bahwa visi tentang sebuah masyarakat yang berakar  pada kerahiman adalah idealisme tanpa harapan atau berlebihan. Tetapi marilah kita mencoba dan mengingat kembali pengalaman pertama kita tentang relasi di dalam keluarga kita.  Orangtua kita telah mengasihi dan menghargai kita lebih karena siapa kita dan bukan semata-mata karena kemampuan dan kesuksesan kita. Para orangtua secara alamiah menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, namun kasih itu tidak pernah bergantung pada pemenuhan atas syarat-syarat tertentu. Rumah keluarga adalah salah satu tempat di mana anda selalu diterima (bdk. Luk 15:11-32). Saya ingin mendukung setiap  orang untuk memikirkan suatu masyarakat manusia bukan sebagai sebuah tempat di mana orang-orang yang tidak saling mengenal bersaing dan berupaya tampil di puncak, tetapi terlebih sebagai sebuah rumah atau sebuah keluarga yang pintunya pintu selalu terbuka dan setiap orang merasa diterima.
Untuk mewujudkan hal ini, maka pertama-tama kita harus mendengarkan. Berkomunikasi berarti berbagi, dan berbagi menuntut sikap mendengarkan dan penerimaan. Mendengarkan lebih bermakna dari mendengar. Mendengar adalah tentang menerima informasi, sedangkan mendengarkan adalah tentang komunikasi yang mensyaratkan kedekatan dan keakraban. Mendengarkan memungkinkan kita melakukan hal-hal yang benar, dan tidak sekadar menjadi  penonton, pengguna atau pemakai yang pasif. Mendengarkan juga berarti mampu berbagi aneka persoalan dan keraguan, berjalan beriringan, membuang semua klaim akan kekuasaan mutlak dan menempatkan kemampuan-kemampuan dan karunia yang kita miliki untuk melayani kesejahteraan umum.
Mendengarkan tidaklah pernah mudah. Terkadang lebih mudah untuk berpura-pura tuli. Mendengarkan berarti mengindahkan, kerelaan untuk memahami, menghargai, menghormati dan merenungkan apa yang orang lain katakan. Mendengarkan melibatkan semacam kemartiran, pengorbanan diri, seperti kita berusaha untuk meneladan Musa di hadapan semak bernyala: kita harus menanggalkan kasut ketika berdiri di “tanah yang kudus” dari perjumpaan kita dengan orang yang berbicara kepadaku (bdk. Kel 3:5). Memahami bagaimana untuk mendengarkan adalah sebuah karunia yang besar, maka karunia itulah yang perlu kita mohonkan untuk kemudian melatih diri dan melaksanakannya.
Juga surat elektronik (e-mail), sms, jejaring sosial dan chat dapat menjadi bentuk-bentuk komunikasi yang seutuhnya manusiawi. Bukanlah teknologi yang menentukan apakah komunikasi itu asli  atau tidak, melainkan hati dan kemampuan manusia untuk secara bijak memanfaatkan sarana-sarana yang dimiliki. Pelbagai jejaring sosial dapat menguatkan relasi dan memajukan kesejahteraan masyarakat, namun dapat juga menyebabkan pertentangan dan perpecahan yang lebih antar pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok. Dunia digital adalah ruang umum terbuka, sebuah tempat pertemuan di mana kita bisa saling mendukung atau menjatuhkan, terlibat dalam diskusi sarat makna atau melakukan serangan yang tidak jujur. Saya berdoa agar  Tahun Yubileum ini, yang dihayati dalam kerahiman, “dapat membuka diri kita kepada dialog yang lebih bersungguh-sungguh sehingga kita bisa mengenal dan memahami satu sama lain dengan lebih baik: dan ini bisa melenyapkan berbagai bentuk kepicikan dan sikap kurang hormat, dan menghilangkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi” (Misericordiae Vultus, 23). Internet dapat membantu kita untuk menjadi warga negara yang lebih baik. Akses ke jaringan digital membawa sebuah tanggung jawab atas sesama kita yang tidak kita lihat namun benar-benar nyata, dan yang memiliki martabat yang mesti dihormati. Internet dapat digunakan secara bijak untuk membangun sebuah masyarakat yang sehat dan terbuka untuk berbagi.
Komunikasi, tempat dan bentuknya telah membuka aneka cakrawala yang lebih luas bagi banyak orang. Ini adalah sebuah karunia Allah yang menuntut sebuah tanggung jawab besar. Saya ingin merujuk pada kekuatan komunikasi ini sebagai “kedekatan”. Perjumpaan antara komunikasi dan kerahiman adalah bermanfaat sejauh menghasilkan tahap di mana perjumpaan itu menghasilkan sebuah kedekatan yang peduli, memberi rasa nyaman, menyembuhkan, menyertai dan merayakan. Dalam sebuah dunia yang hancur, terbelah, dan bertentangan, berkomunikasi dengan kerahiman berarti membantu menciptakan sebuah kedekatan yang sehat, bebas dan bersaudara di antara anak-anak Allah dengan segenap saudara dan saudari kita dalam satu keluarga umat manusia.
Diberikan di Vatikan, 24 Januari 2016
Paus Fransiskus