Search by Google

PROMOSI

Jumat, 17 November 2017

RAPAT DEPAS PLENO

Rapat Dewan Pastoral Pleno akan diadakan pada hari Minggu, 19 Nopember 2017 mulai pukul 17.00 - selesai di aula paroki. Diharapkan segenap anggota DePas, para pengurus Stasi dan rukun se Paroki Santo Fransiskus Xaverius. Terima kasih.

RANGKAIAN ACARA PESTA PELINDUNG DAN ULANG TAHUN KE 51

RANGKAIAN ACARA PESTA PELINDUNG DAN ULANG TAHUN KE 51
PAROKI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS

Dalam rangka memeriahkan Perayaan Pesta Pelindung dan Ulang Tahun ke 51 Paroki Santo Fransiskus Xaverius – Kendari, akan dilaksanakan lomba-lomba pada hari Minggu 26 Nopember 2017 sebagai berikut:

  1. Lomba Menyusun Puzzle (kategori TK – Kelas 2 SD) pukul 09.00 – 09.30
  2. Lomba Cerita Santo-Santa (kategori Kelas 3 – 6 SD) pukul 09.30 – 10.30
  3. Lomba Cerdas Cermat seputar PPA dan Liturgi (kategori SMP – SMA) pukul 10.30 – 11.30
  4. Lomba Bakiak, Lomba Sambung Pipa, Lomba Bola Terong Estafet (kategori DePas) pukul 15.00 – selesai
Catatan: Sebelum Lomba DePas dimulai, akan diawali dengan Senam Zumba yang diikuti semua umat paroki maka sangat diharapkan partisipasi seluruh umat paroki.



Panitia Pelaksana

Kamis, 16 November 2017

PESAN NATAL 2017 KWI DAN PGI


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus
NATAL adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat dan Raja Damai. Perayaan ini mengajak kita untuk menyimak kembali pesan utamanya. Karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, Allah telah mengutus Putra-Nya ke dunia (bdk. Yoh 3:16). Putra-Nya itu mengosongkan diri sehabis-habisnya dan menjadi manusia seperti kita (bdk. Flp 2:17). Ia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan (bdk. Yoh. 10:10).
Ia, yang adalah Raja Damai dan Imanuel, Allah beserta kita, datang untuk membawa damai sejahtera kepada dunia, seperti yang diwartakan para malaikat kepada para gembala, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Luk.2:14).
Bagi umat Kristiani, kelahiran Sang Raja Damai merupakan suatu momentum untuk membarui hidup pribadi maupun hidup bersma, Sebagai umat beriman, yang dilahirkan kembali, kita harus membuka diri agar damai sejahtera Kristus benar-benar memerintah dalam hati kita (bdk. Kol 3:15).
Kita mendambakan damai sejahtera, baik dalam hidup pribadi maupun dalam hidup bersama. Kita merindukan suatu bumi yang penuh damai dan umat manusia yang makin bersaudara. Hanya dengan demikian, kita akan mengalami sukacita sejati.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sudah sepatutnya kita semua berusaha menemukan makna dan relevansi perayaan Natal bagi kita umat Kristiani dan bagi bangsa Indonesia. Perayaan Natal seharusnya menjadi momentum indah bagi kita untuk menyadari kembali tugas perutusan serta komitmen kita, sebagai elemen bangsa dan negara tercinta ini.
Kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini merupakan tantangan sekaligus panggilan bagi kita untuk merenungkan dan menarik secara lebih seksama makna dari seruan Santo Paulus, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kami telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah “ (Kol 3:15). Kata-kata Paulus ini seharusnya mendorong kita untuk terus menerus mengupayakan terwujudnya damai sejahtera, karena hanya dengan demikian kita memahami makna sejati Natal. Sebagai anak-anak Allah, sumber damai kita, kita harus mewujudkan komitmen Kristiani kita, yakni menjadi pembawa damai (bdk. Mat 5:9).
Saat ini kita sedang cemas. Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa beberapa tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara samar-samar atau pun secara terang-terangan, tergoda untuk menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus dasar kebangsaan kita, yaitu Pancasila.
Hal itu terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa; dalam persaingan politik yang tidak sehat dan yang menghalalkan segala cara, dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak sungkan membawa-bawa serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lain. Dengan demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi sulit terwujud.
Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan UUD 1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan damai sejahtera, bukan saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih perlu kita perjuangankan terus bersama-sama. Sistem dan mekanisme demokrasi masih perlu kita tata dan benahi terus agar mampu mewujudkan secara efektif cita-cita bersama kita. Tentu saja hal ini tidaklah mudah.
Sebagai elemen bangsa, yang adalah kawanan kecil, kita umat Kristiani tidak mampu menyelesaikan semua persoalan yang kita hadapi hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Inilah saatnya bagi kita untuk membiarkan damai Kristus memerintah dalam hati. Damai Kristus yang memerintah dalam hati kita, merupakan kekuatan yang mempersatukan dan merobohkan tembok pemisah:
“Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatuakn kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef 2:14). Hanya dengan damai Kristus yang menguasai hati kita, kita akan dimampukan untuk membuka diri, merangkul dan menyambut sesama anak bangsa dan bersama mereka merajut kesatuan dan melangkah bersama menuju masa depan yang semakin cerah.
Inspirasi dan kekuatan spiritual yang mendorong kita untuk mewujudkan kesatuan dan untuk sungguh-sungguh melibatkan diri dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia yang tercinta, kita timba dari Kabar Sukacita Yesaya:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan kepada kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib,, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar Kekuasaan-Nya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan di dalam kerajaan_Nya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes 9:5-6).
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kita selalu mendambakan damai sejati, yang dilandaskan pada keadilan dan kebenaran. Isi kabar Sukacita Natal adalah kelahiran Sang Mesias, yang akan mengokohkan Kerajaan-Nya,  yaitu kerajaan keadilan dan kebenaran, di mana kita semua adalah warganya.
Sebagai warga Kerajaan itu kita ditantang untuk memperjuangkan kesatuan, persaudaraan, kebenaran dan keadilan serta damai sejahtera. Memperjuangkan keadilan, memperkecil jurang kaya dan miskin, memberantas korupsi, merobohkan tembok pemisah atas nama suku, agama, dan ras adalah mandat Injil yang mesti kita perjuangkan di bumi Indonesia ini.
Ketika kita sendiri berusaha memberikan kesaksian dalam usaha mewujudkan keadilan, kebenaran, damai sejahtera dan persaudaraan, tentu kita patut mawa diri. Mungkin kita masih menutup diri dalam kenyaamanan hidup menggereja, sehingga lali mewujudkan diri sebagai garam dan terang dunia. Mungkin kita sendiri masih enggan megulurkan tangan kasih dan persaudaraan kepada sesama anak bangsa, terutama kepada mereka yang kecil dan terpinggirkan.
Bukankah damai sejahtera hanya dapat terwujud ketika kita berhasil mengalahkan kepentingan diri demi kebaikan bersama? Bukankah Raja Damai yang lahir ke dunia menyadarkan kita bagaimana Dia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil2:7)?
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sebagai warga Kristiani, kita sendiri ditantang untuk tak henti-hentinya mewujudkan damai sejahtera, kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Karena itu, kita patut bersyukuy atas hasil kerja keras dari Komisi Gereja Lutheran dan Gereja Katolik untuk menggalang persatuan.
Selama 500 tahun, kita merajut kerukunan dan kehangatan persaudaraan di antara kita dengan jatuh bangun. Dari Juru Selamat, yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14;6), kita belajar untuk merendahkan diri  dan membuka diri satu sama  lain. Dalam semangat itulah, kita belajar mengulurkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Kita belajar saling mengampuni dan memaafkan.
Jika ada kasih dan damai dalam hati kita masing-masing, kita akan bersukacita dan dapat bersama-sama mewujudkan komunitas ekumenis. Dengan bersatu sebagai umat Kristiani, kesaksikan kita tentang kerukunan dan persaudaraan kepada masyarakat majemuk di negeri ini lebih berarti dan meyakinkan.
Selain rukun dengan sesama, damai yang dibawa Sang Juru Selamat juga mengajak kita untuk berdamai dengan segenap ciptaan. Saat ini ciptaan menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya. Tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahhgunakan kekayaan yang ditanamkan Allah di dalamnya. Mewujudkan damai sejahtera dengan alam ciptaan berarti tanggung jawa memulihkan keutuhannya.
Selain itu, kita wajib mewujudkan keadilan dalam hidup bersama, karena  alam merupakan sumber hidup yang disediakan Tuhan bagi semua manusia, dan bahwa segala sesuatu bersatu dan tertuju kepada Kristus sebagai kepala (Kol 1:15-22). Dengan demikian, masih ada banyak yang perlu kita kerjakan untuk menciptakan kerukunan dan persaudaraaan, sementara di lain pihak kita patut bersyukur karena karya besar Tuhan yang kita alami bersama.
Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita semua untuk belajar dan mengembangkan kemampuan  menerima  perbedaan dan mensyukurinya sebagai kekayaan kehidupan bersama kita di negeri ini.
Marilah kita menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah dari Allah, dengan jalan merangkul sesama, merawat ciptaan serta memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Hanya dengan demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita.
Selamat Natal, Tuhan Memberkati.

Selasa, 24 Oktober 2017

JADWAL PAROKI

Sabtu, 28 Oktober 2017 Pukul 18.30 : Perayaan Ekaristi 

Minggu, 29 Oktober 2017 Pukul 18.30 : Perayaan Ekaristi (Misa Pagi Pukul 07.00 ditiadakan sehubungan dengan Ziarah Bulan Rosario se-Kevikepan Sultra (Daratan) di Paroki Roh Kudus, Unaaha)

Rabu, 1 Nopember 2017 Pukul 18.30 : Misa Hari Raya Semua Orang Kudus

Kamis, 2 Nopember 2017 Pukul 18.30 : Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

Jumat, 3 Nopember 2017 Pukul 18.30 : Misa Jumat Pertama Dalam Bulan

ZIARAH BULAN ROSARIO 2017

Ziarah sekaligus Hari Minggu Penutupan bulan Rosario se-Kevikepan Sultra (Daratan) akan diselenggarakan pada hari Minggu 29 Oktober 2017 di Paroki Roh Kudus Unaaha dengan jadwal:

Pukul 07.00 : Jalan Salib
Pukul 10.00 : Perayaan Ekaristi Penutupan Bulan Rosario

Diharapkan agar umat dapat berkumpul bersama-sama di Paroki Roh Kudus Unaaha

Senin, 16 Oktober 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI MINGGU MISI SEDUNIA KE 91 TAHUN 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS
UNTUK HARI MINGGU MISI SEDUNIA 2017

Misi di Jantung Hati Iman Kristiani


Saudari-saudara terkasih,
Sekali lagi tahun ini, Hari Minggu Misi Sedunia menyatukan kita bersama di sekeliling pribadi Yesus, “Penginjil pertama dan terbesar” (Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 7), yang terus menerus mengutus kita untuk mewartakan Injil cinta Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus. Hari Minggu Misi ini mengundang kita untuk merenungkan kembali misi di jantung hati iman Kristiani. Gereja pada hakikatnya bersifat misioner; jika tidak demikian, ia tidak lagi Gereja Kristus, tetapi satu kelompok di antara sekian banyak yang lain yang segera berakhir maksud tujuan pelayanannya dan kemudian mati. Untuk itu, pentinglah bertanya pada diri kita sendiri tentang identitas iman Kristiani dan tanggung jawab kita sebagai umat beriman di dunia yang ditandai oleh kebingungan, ketidakpuasan dan frustrasi, serta tangisan karena banyaknya perang saudara yang menyasar orang-orang tidak berdosa secara tidak adil. Apa dasar misi kita? Apa pokok misi kita? Cara-cara seperti apa yang dibutuhkan untuk menjalankan misi kita?
Misi dan daya pembaruan Injil Kristus, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup
1. Misi Gereja, yang ditujukan kepada semua pria dan wanita yang berkehendak baik, didasarkan pada daya pembaruan Injil. Injil adalah Kabar Baik yang dipenuhi dengan sukacita yang mudah menjalar, karena memuat dan memberikan hidup baru: hidup Kristus yang bangkit yang, dengan mencurahkan Roh-Nya, menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup bagi kita (bdk. Yoh 14:6). Dia adalah Jalan yang mengundang kita untuk mengikuti-Nya dengan keyakinan dan keberanian. Sepanjang mengikuti Yesus sebagai Jalan, kita mengalami Kebenaran dan menerima Hidup-Nya, yang merupakan kepenuhan kesatuan dengan Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus. Hidup itu membebaskan kita dari segala bentuk keegoisan, dan merupakan sumber daya cipta dalam cinta.
2. Allah Bapa menghendaki pembaruan eksistensial dari anak-anak-Nya, sebuah pembaruan yang menemukan ungkapannya dalam penyembahan dalam roh dan kebenaran (bdk. Yoh 4:23-24), melalui hidup yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam menyerupai Yesus Sang Putera kepada kemuliaan Allah Bapa. “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup” (Irenaeus, Adversus HaeresesIV, 20, 7). Pewartaan Injil dengan demikian menjadi kata yang vital dan berdaya guna yang mengerjakan apa yang diwartakannya (bdk. Yes 55:10-11): Yesus Kristus, yang menjadi daging di setiap situasi kemanusiaan (bdk. Yoh 1:14).
Misi dan kairos Kristus
3. Misi Gereja bukan untuk menyebarluaskan ideologi religius, apalagi mengajukan suatu ajaran etis yang tinggi. Banyak gerakan di belahan dunia ini memberikan inspirasi cita-cita yang tinggi atau cara-cara untuk menghayati hidup yang bermakna. Melalui misi Gereja, Yesus Kristus sendiri terus menerus  berevangelisasi dan bertindak; misinya dalam perjalanan sejarah menghadirkan kairos, waktu keselamatan yang tepat. Melalui pewartaan Injil, Yesus yang bangkit menjadi orang sejaman kita, sehingga orang-orang yang menerima-Nya dengan iman dan cinta dapat mengalami daya pembaruan Roh-Nya, yang membuat umat manusia dan seluruh ciptaan berbuah limpah, bahkan seperti hujan yang mengairi bumi. “Kebangkitan Kristus bukanlah suatu peristiwa masa lampau; peristiwa itu mengandung kekuatan vital yang telah meresapi dunia ini. Di mana segalanya tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak” (Evangelii Gaudium, 276).
4. Jangan pernah lupa bahwa “menjadi Kristiani bukan hasil dari sebuah pilihan etis atau gagasan luhur, tetapi perjumpaan dengan suatu peristiwa, seorang Pribadi, yang memberi kehidupan suatu cakrawala baru dan arah yang menentukan” (Benediktus XVI, Deus Caritas Est, 1). Injil adalah Pribadi yang terus menerus memberikan diri-Nya dan mengundang mereka yang menerima-Nya dengan iman dan kerendahan hati untuk membagikan hidup-Nya dengan ikut ambil bagian secara efektif dalam misteri Paskah wafat dan kebangkitan-Nya. Melalui Pembaptisan, Injil menjadi sumber hidup baru, pembebasan dari kuasa dosa, diterangi dan dibarui oleh Roh Kudus. Melalui Penguatan, Injil menjadi urapan yang menguatkan yang, melalui Roh yang sama, menunjukkan cara-cara dan strategi-strategi untuk kesaksian dan penyertaan. Melalui Ekaristi, Injil menjadi santapan bagi kehidupan baru, suatu “obat keabadian” (Ignatius dari Antiokhia, Ad Ephesios, 20, 2).
5. Dunia sangat membutuhkan Injil Yesus Kristus. Melalui Gereja, Kristus melanjutkan misi-Nya sebagai Orang Samaria yang baik hati, merawat luka-luka umat manusia yang berlumur darah, dan sebagai Gembala yang baik, terus-menerus mencari mereka yang berjalan di sepanjang jalan yang berliku-liku dan tak menentu. Syukur kepada Allah, banyak pengalaman bermakna terus memberikan kesaksian akan daya pembaruan Injil. Saya memikirkan tindakan murid Dinka yang memberikan nyawanya sendiri untuk melindungi seorang pelajar yang akan dibunuh dari kelompok musuh suku Nuer. Saya memikirkan perayaan Ekaristi di Kitgum, di Uganda Utara, di mana, setelah pembantaian brutal oleh sekelompok pemberontak, seorang misionaris membuat orang-orang mengulangi kata-kata Yesus di salib: “Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” sebagai ungkapan jeritan putus asa dari para saudari dan saudara Tuhan yang tersalib. Bagi umat tersebut, perayaan itu adalah sumber penghiburan dan keberanian yang luar biasa. Kita dapat memikirkan juga begitu banyak kesaksian iman yang tak terhitung jumlahnya tentang bagaimana Injil membantu mengatasi kesesakan, konflik, rasisme, kesukuan, dan mempromosikan perdamaian, persaudaraan dan tindakan berbagi di mana-mana dan di antara semua orang.
Misi mengilhami spiritualitas eksodus, peziarahan, dan pengasingan terus-menerus
6. Misi Gereja disemarakkan oleh spiritualitas eksodus yang terus-menerus. Kita diminta “untuk pergi keluar dari zona nyaman kita sendiri untuk menjangkau semua ‘pinggiran’ yang membutuhkan terang Injil” (Evangelii Gaudium, 20). Misi Gereja mendorong kita untuk melakukan peziarahan terus-menerus melintasi berbagai padang gurun kehidupan, melewati beragam pengalaman lapar dan haus akan kebenaran dan keadilan. Misi Gereja mengantar pada rasa keterasingan terus-menerus, untuk menyadarkan kita, dalam kehausan akan yang tidak terbatas, bahwa kita adalah orang-orang terasing yang sedang berjalan menuju rumah kediaman akhir kita, yang berada pada tegangan Kerajaan Surga antara “sudah” dan “belum”.
7. Misi mengingatkan Gereja bahwa ia bukanlah akhir dari dirinya sendiri, tetapi merupakan alat dan perantara sahaja dari Kerajaan Allah. Gereja yang mengarah pada dirinya sendiri, dengan ukuran kesuksesan duniawi, bukan lah Gereja Kristus, Tubuh-Nya yang tersalib dan mulia. Itulah mengapa kita seharusnya lebih menyukai “Gereja yang memar, terluka dan kotor karena pergi keluar ke jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” (Evangelii Gaudium, 49).
Kaum muda, harapan misi
8. Kaum muda adalah harapan misi. Pribadi Yesus Kristus dan Kabar Baik-Nya yang ia wartakan terus-menerus menarik banyak kaum muda. Mereka mencari cara-cara untuk menempatkan diri mereka sendiri dengan keberanian dan antusiasme pada pelayanan kemanusiaan.  “Ada demikian banyak kaum muda yang memberikan bantuan dalam solidaritas untuk menghadapi masalah-masalah dunia dan melakukan berbagai bentuk kegiatan dan kerja sukarela... Betapa indahnya menyaksikan bahwa kaum muda adalah ‘pengkhotbah-pengkhotbah jalanan’, yang dengan sukacita membawa Yesus ke setiap jalan, setiap lapangan kota dan setiap sudut dunia!” (Evangelii Gaudium, 106). Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup yang akan diselenggarakan pada tahun 2018 dengan tema “Kaum Muda, Iman dan Kearifan Panggilan”, menyediakan kesempatan istimewa untuk melibatkan kaum muda dalam tanggung jawab misioner yang membutuhkan kekayaan daya imaginasi dan kreativitas mereka.
Pelayanan Serikat-serikat Karya Kepausan
9. Serikat-serikat Karya Kepausan adalah sarana berharga bagi setiap komunitas Kristiani untuk membangkitkan kesadaran dan hasrat melintasi batas dan kenyamanan diri sendiri untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa. Dalam diri serikat-serikat ini, berkat spiritualitas misioner yang mendalam, yang dipupuk setiap hari, dan berkat komitmen misioner yang teguh untuk membangkitkan kesadaran dan antusiasme misioner, kaum muda, dewasa, keluarga, imam, uskup serta kaum religius pria dan wanita bekerja untuk mengembangkan jiwa misioner dalam diri setiap orang. Hari Minggu Misi Sedunia, yang dipromosikan oleh Serikat Kepausan Pengembangan Iman, merupakan kesempatan bagus untuk memampukan jiwa misioner komunitas-komunitas Kristiani untuk kerjasama dalam doa, kesaksian hidup dan pengumpulan derma, dalam tanggung jawab pada kebutuhan evangelisasi yang luas serta penting dan mendesak
Menjalankan misi bersama Maria, Bunda Evangelisasi
10. Saudari-saudara terkasih, untuk menjalankan misi, marilah kita meneladan Maria, Bunda Evangelisasi. Dia digerakkan oleh Roh Kudus, menyambut Sang Sabda Kehidupan dalam kedalaman imannya yang bersahaja. Semoga Perawan Maria membantu kita untuk mengatakan “YA”, dengan sadar akan mendesaknya menggemakan Kabar Baik Yesus di zaman kita ini. Semoga Bunda Maria memberikan semangat baru untuk membawa kepada setiap orang Kabar Baik kehidupan yang menang atas kematian. Semoga melalui pengantaraannya, kita dapat memperoleh keberanian suci yang diperlukan untuk menemukan cara-cara baru membawa karunia keselamatan kepada semua orang pria dan wanita.


Vatikan, 4 Juni 2017
Hari Raya Pentakosta

Rabu, 27 September 2017

JADWAL USKUP AGUNG MAKASSAR

Kamis, 28 September 2017
Pukul 19.00: Sarasehan bersama pengurus Dewan Pastoral

Jumat, 29 September 2017 
Pukul 17.00: Misa Krisma di Gereja Paroki

Sabtu, 30 September 2017
Pukul 09.00: Kunjungan kerja di Stasi Anduonohu

Minggu, 1 Oktober 2017
Pukul 07.00: Misa Pelantikan P. Daud La Bolo Pr sebagai Pastor Paroki menggantikan P. Herman S. Panggalo Pr 

PASTOR PAROKI BARU

Selamat datang dan selamat berkarya kepada:

P. Daud La Bolo Pr

Tgl lahir 15 juli 1973
Tahbisan 25 januari 2002



Pelantikan pada hari Minggu 1 Oktober 2017 Pukul 07.00 di Gereja Paroki

Kamis, 10 Agustus 2017

R I P

Pastor, Dewan Pastoral beserta segenap umat Paroki Santo Fransiskus Xaverius Kendari menyampaikan rasa duka mendalam atas berpulangnya:

P. STEPHANUS TARIGAN, CICM
Vikaris Jendreal Keuskupan Agung Makassar



Pada hari Selasa, 9 Agustus 2017 di Makassar

Kamis, 22 Juni 2017

PENERIMAAN SAKRAMEN KRISMA:

Dibuka pendaftaran calon Krisma. Syarat bagi yang akan menerima Sakramen Krisma telah berusia 16 tahun ke atas atau minimal kelas I SMU dengan membawa foto copy Surat Baptis ke Sekretariat Paroki pada jam kerja. Penerimaan Krisma akan dilaksanakan pada hari Minggu, 29 September 2017.

Jumat, 19 Mei 2017

JADWAL HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

Jadwal Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga:

Rabu, 24 Mei 2017
Pukul 18.30 di Gereja Paroki

Kamis, 25 Mei 2017
Pukul 07.00 di Gereja Paroki
Pukul 09.30 di Gereja Stasi Anduonohu

Selasa, 16 Mei 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS DI HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-51 TAHUN 2017

“Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau.” (Yes 43: 5)
 Mengkomunikasikan Harapan dan Kepercayaan pada Masa Kini
BERKAT kemajuan teknologi, akses ke media kini semakin memungkinkan banyak orang bisa dengan mudah dan cepat berbagi berita dan kemudian menyebarkannya kepada publik secara massif. Berita-berita itu bisa saja berupa kabar baik atau buruk; juga bisa berupa kabar benar atau kabar bohong.
Umat kristiani perdana sering mengidentikkan pikiran manusia layaknya batu kilangan yang tiada hentinya menggiling; itu terserah kepada pemilik batu kilangan apakah dia ingin menggiling biji gandum berkualitas atau biji-bijian lain yang tak berguna. Pikiran kita juga senantiasa ‘menggiling’, tetapi terserah pada  kita sendiri memilih bahan apa yang akan giling. (Lihat: Surat Leontius dari Santo Johannes Kasianus).
Saya ingin menyampaikan pesan ini kepada mereka yang karena pekerjaan profesionalnya atau karena relasi pribadinya seperti batu kilangan tersebut, yang sehari-hari ‘mengolah’ informasi dengan tujuan bisa menyediakan aneka informasi bagus sesuai keinginan pihak dengan siapa mereka menjalin komunikasi.
Saya ingin memotivasi siapa pun agar senantiasa berperilaku secara konstruktif dalam menyikapi cara-cara berkomunikasi yang mengesampingkan segala prasangka terhadap orang lain dan mendorong terciptanya adab perjumpaan, karena ini akan membantu kita memandang dunia di sekitar apa adanya dan penuh kepercayaan.
Saya meyakini bahwa kita memang sudah seharusnya memutus mata rantai lingkaran setan kecemasan dan membendung spiral ketakutan yang muncul karena terlalu  fokus pada “berita-berita buruk” (perang, terorisme, skandal, dan segala macam berita tentang kegagalan manusia). Ini bukan perkara tentang penyebaran informasi salah yang mengabaikan tragedi penderitaan manusia,  juga bukan tentang optimisme buta yang naif terhadap skandal kejahatan.
Lebih dari itu, saya ingin mengajak kita semua berusaha mengatasi ketidakpuasan dan sikap tarik diri yang makin  berkembang  sehingga menimbulkan apatisme, ketakutan atau gagasan bahwa  kejahatan tidak ada batasnya. Apalagi, di industri komunikasi, berita baik diyakini tidak punya nilai jual sementara tragedi kemanusiaan dan misteri kejahatan malah dengan mudah dikemas sebagai hiburan, maka di situ selalu ada godaan yang membuat  hati nurani  tumpul atau terperosok pada pesimisme.
Karenanya, saya ingin menyumbangkan upaya untuk menemukan pola komunikasi terbuka dan kreatif yang tidak berusaha mengagungkan kejahatan, melainkan fokus pada solusi dan menginspirasi pendekatan positif dan bertanggungjawab bagi pihak perima informasi. Saya mengimbau semua orang agar memberi kepada manusia dewasa ini inti cerita yang pada hakekatnya adalah “kabar baik”.
Kabar baik
Hidup bukanlah semata-mata rangkaian susul-menyusul aneka peristiwa yang begitu saja ‘telanjang’, melainkan merupakan sebuah sejarah, sebuah jalinan cerita yang  menunggu saat untuk kemudian dikisahkan menggunakan lensa interpretasi  tertentu yang  bisa menyeleksi dan mengumpulkan data paling relevan.
Di dan pada dirinya sendiri, realitas itu tak punya satu makna yang jelas. Semuanya tergantung pada cara bagaimana orang  melihat realitas tersebut, pada lensa mana yang dianggapnya  paling tepat. Kalau saja kita mengganti lensa pandang, maka realitas itu dengan sendirinya juga akan berubah. Lalu, bagaimana kita mesti mulai ‘membaca’ realitas  dengan lensa  yang tepat pula?
Bagi kita, segenap umat kristiani, lensa tersebut adalah kabar gembira, berawal  dari Kabar Baik yang tak lain tak bukan adalah Sang Kabar Baik itu sendiri: “Inilah Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Mk 1: 1). Dengan rumusan kalimat itu, Santo Markus  mengawali penulisan Injilnya tidak dengan cara mempertautkan kabar baik tentang Yesus Kristus, melainkan menegaskan bahwa Kabar Baik itu tidak lain adalah Yesus sendiri.
Benarlah, dengan membaca teks Injil Markus,  kita jadi tahu bahwa judul itu memang  sesuai dengan isinya dan –lebih dari semua hal— isinya pun  juga berkisah tentang pribadi Yesus.
Kabar gembira –Yesus sendiri— itu baik, bukan karena tidak ada kaitannya dengan penderitaan, melainkan menderita itu sendiri hanyalah bagian kecil dari sebuah gambar yang lebih besar. Hal ini dipandang sebagai bagian integral dari cinta Yesus kepada Bapa-Nya dan kepada seluruh umat manusia. Dalam Kristus, Tuhan telah menunjukkan solidaritas-Nya dengan setiap kondisi manusia. Ia sendiri telah mengatakan kepada kita bahwa kita tidak sendirian, karena kita memiliki Bapa yang senantiasa peduli dengan anak-anak-Nya. “Janganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu.” (Yes 43: 5): ini adalah kata-kata hiburan dari Tuhan yang telah merasuk ke dalam sejarah umat manusia.  Dalam diri Putera-Nya yang terkasih, janji ilahi  –“Aku senantiasa bersamamu” itu– telah menyatu padu dengan semua kelemahan manusia, bahkan sampai saat mati pun.
Dalam Kristus itu, bahkan kegelapan dan kematian menjadi titik pertemuan  antara Terang dan Hidup. Harapan muncul, sebuah harapan  yang merengkuh semua orang—terutama di bagian paling persimpangan dimana kehidupan menghadapi pahitnya kegagalan. Harapan ini tidak mengecewakan, karena kasih Tuhan telah dicurahkan kepada hati kita (Roma 5: 5) dan menjadikan hidup baru bersemi, sama seperti tumbuhan baru yang muncul dari benih yang jatuh. Dipandang dari perspektif ini, setiap tragedi baru yang terjadi di sejarah  umat manusia bisa menjadi wahana bagi munculnya kabar baik, sejauh kasih itu menemukan jalan untuk mendekatkan dan membangkitkan banyak  hati yang simpati, wajah yang teguh dan tangan yang siap membangun yang baru.
Keyakinan akan benih Kerajaan Allah
Guna mengantar para murid-Nya dan kerumunan orang akan cara pandang  Injil  ini dan untuk menyediakan kepada mereka lensa tepat, yang dibutuhkan untuk melihat dan merengkuh kasih yang kadang mati dan bangkit kembali tersebut, maka Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Sering kali Yesus  membandingkan Kerajaan Allah seumpama benih yang memperlihatkan daya hidupnya manakala  benih tersebut  jatuh ke tanah dan mati (Mk 4: 1-34).
Penggunaan  gambaran  dan metafor untuk menjelaskan kuasa Kerajaan Allah yang tenang itu tidak mengurangi penting dan urgensi pesan yang ingin disampaikan; lebih dari itu, inilah cara penuh kasih yang  bisa  memberi ruang bagi para pendengar sabda-Nya untuk secara bebas menerima dan menghargai  kuasa tersebut. Ini juga merupakan cara paling efektif  untuk mengungkapkan martabat agung Misteri Paska dengan lebih menggunakan gambaran daripada konsep, untuk mengkomunikasikan keindahan paradoksal akan hidup baru dalam Kristus. Dalam kehidupan tersebut,  kesulitan dan salib tidak saling menghalangi, melainkan membawa keselamatan Allah; kelemahan membuktikan diri lebih kuat dibanding semua kekuatan manusiawi; kegagalan bisa menjadi awal bagi pemenuhan akan segala sesuatu dalam kasih.
Ini adalah bagaimana harapan dalam Kerajaan Allah itu akan menjadi matang dan semakin mendalam: ini adalah “Seperti seseorang yang harus menyebarkan benih di tanah, kemudian tidur di malam hari dan ketika bangun keesokan harinya, maka tunas itu telah tumbuh dan berkembang.” (Mk 4: 26-27).
Kerajaan Allah sebenarnya telah hadir di tengah-tengah kita, mirip sebuah benih yang tidak mencolok mata namun kemudian akarnya tumbuh bersemi. Kepada mereka yang oleh Roh Kudus mendapatkan pandangan yang jernih,  akan dimampukan  melihat benih itu mekar dan bertumbuh. Mereka tidak membiarkan dirinya terbuai  dengan kegirangan akan Kerajaan Allah karena semak belukar pun ikut bermunculan.
Cakrawala Roh
Harapan kita berdasarkan kabar baik yakni Yesus sendiri itu telah membuat kita mengangkat pandangan dalam merenungkan Tuhan saat perayaan liturgis Kenaikan. Sekalipun Tuhan sekarang ini tampak makin jauh, namun cakrawala harapan justru berkembang makin luas. Di dalam Kristus, yang membawa kemanusiaan kita semakin ilahi, maka setiap laki-laki dan perempuan sekarang bebas “masuk ke dalam tempat kudus berkat darah Yesus, di jalan baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (Ibr 10: 19-20). Oleh “kekuatan Roh Kudus”,  kita menjadi saksi dan “komunikator” akan kemanusiaan kita yang baru dan tertebus “bahkan sampai ke ujung bumi” (Kis 1: 7-8).
Keyakinan akan benih Kerajaan Allah dan Misteri Paska itu seharusnya juga membentuk cara kita berkomunikasi.  Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan pekerjaan kita –dalam segala cara berkomunikasi di zaman modern ini—dengan keyakinan bahwa mungkinlah bisa mengenali dan menyoroti hadirnya  kabar baik di setiap cerita dan pada wajah setiap orang.
Mereka yang dalam iman  mempercayakan kepada bimbingan Roh Kudus akan menyadari betapa Allah hadir dan bekerja di setiap saat dalam hidup dan sejarah kita, dengan sabar membawa kita kepada  sejarah keselamatan. Harapan adalah untaian benang dengan apa sejarah suci ini ditenun, dan sang penenun itu tidak lain adalah Roh Kudus, Sang Penghibur.
Harapan merupakan kebajikan paling bersahaja, karena ia tetap tersembunyi di relung kehidupan;  namun harapan itu mirip ragi yang mengolah semua adonan. Kita memeliharanya dengan cara membaca Injil lagi dan lagi, “dicetak ulang” ke banyak edisi dalam rupa  hidup para kudus yang telah menjadi simbol akan kasih Tuhan di dunia ini.
Sekarang ini pun, Roh Kudus masih terus menabur dalam diri kita hasrat akan Kerajaan Allah, terima kasih kepada semua orang yang bisa mengambil inspirasi dari Kabar Gembira di tengah hiruk pikuknya  peristiwa dramatik sekarang ini, karena Roh Kudus senantiasa memancarkan cahaya seperti mercusuar di tengah gelapnya dunia, mencurahkan sinar terangnya itu sepanjang waktu dan membuka jalan baru  menuju keyakinan dan harapan senantiasa.
Dari Vatikan, 24 Januari 2017
FRANSISKUS

Jumat, 12 Mei 2017

JADWAL KEGIATAN ZIARAH DI STASI SANTA MARIA RATU DAMAI DKB I

Sabtu, 27 Mei 2017 Mulai Pukul 19.00
-          Pawai Lilin
-          Doa Rosario
-          Malam Kebersamaan OMK

Minggu, 28 Mei 2017 Mulai Pukul  07.00
-          Jalan Salib bersama Bunda Maria
-          Perayaan Ekaristi

CATATAN:
1.    Tidak ada Perayaan Ekaristi di Pusat Paroki dan Stasi pada hari Minggu 28 Mei 2017
2.    Transportasi, Akomodasi dan Konsumsi disiapkan oleh Rukun / Stasi masing-masing


Terima kasih.

Kamis, 04 Mei 2017

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-54

Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ke-54

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS
UNTUK HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-54

Roh Tuhan Gerakkan Misi


Saudara-saudari terkasih,

Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang.

Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani. Mereka yang terpikat oleh panggilan Tuhan dan bertekad mengikuti Yesus akan merasakan hasrat tak tertahankan di dalam hatinya untuk membawa Kabar Baik kepada saudara-saudari mereka melalui pewartaan dan pelayanan cinta kasih. Semua orang Kristiani dipanggil menjadi misionaris Injil! Sebagai murid, kita tidak menerima rahmat cinta Allah untuk penghiburan personal semata, atau kita tidak dipanggil untuk mempromosikan diri kita sendiri, atau untuk  kepentingan usaha pribadi. Kita adalah para pria dan wanita sederhana yang dijamah dan diubah oleh sukacita Injil, yang tidak dapat menyimpan pengalaman ini hanya untuk diri kita sendiri. Karena, “sukacita Injil yang menghidupkan komunitas para murid adalah sukacita misioner” (Evangelii Gaudium, 21).

Komitmen Misioner
Komitmen misioner bukanlah suatu tambahan pada hidup Kristiani seperti layaknya suatu hiasan, tetapi merupakan unsur esensial dari iman itu sendiri. Relasi dengan Tuhan mengandung panggilan untuk diutus ke dunia sebagai nabi-nabi sabda-Nya dan saksi-saksi cinta-Nya.
Bahkan jika pada saat ini kita menyadari kelemahan-kelemahan kita dan tergoda untuk putus asa, kita perlu berbalik  bersama Allah dengan keyakinan diri. Kita harus mengatasi rasa kekurangan diri dan tidak menghasilkan pesimisme, yang semata-mata menjadikan kita penonton pasif dari hidup yang suram dan monoton. Tidak ada tempat untuk takut! Allah sendiri datang membersihkan “bibir kotor” kita dan melengkapi kita untuk misi: “Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni. Kemudian aku mendengar suara Tuhan berkata, ‘Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ dan sahutku, ‘Ini aku, utuslah aku’” (Yes 6:6-8).
Di kedalaman hati, setiap murid misioner mendengar panggilan ilahi ini yang mengundangnya untuk “berbuat”, seperti Yesus, “berbuat baik dan menyembuhkan semua orang” (bdk. Kis 10:38). Saya telah mengingatkan bahwa, oleh rahmat baptisan, setiap orang Kristiani adalah seorang “Christopher”, seorang pembawa Kristus, kepada saudara-saudarinya (bdk. Katekesis, 30 Januari 2016). Hal ini secara khusus menjadi perhatian bagi para imam dan mereka yang dipanggil untuk menjalani hidup bakti, yang dengan kemurahan hati telah menjawab, “Ini aku, Tuhan, utuslah aku!” Dengan antusiasme misioner yang dibarui, para imam dipanggil untuk melangkah keluar dari ruang bait suci dan membiarkan kelembutan cinta Allah mengalir untuk kepentingan kemanusiaan (bdk. Homili pada misa Krisma, 24 Maret 2016). Gereja membutuhkan imam-imam yang seperti ini: yang dengan tenang percaya diri karena mereka telah menemukan harta sejati, ingin pergi keluar dan dengan sukacita membuatnya dikenal semua orang (bdk. Mat 13:44).

Misi Kristiani
Tentu banyak pertanyaan muncul ketika kita berbicara tentang misi Kristiani. Apa maksudnya menjadi misionaris Injil? Siapa yang memberi kita kekuatan dan keberanian untuk mewartakan? Apa dasar penginjilan dan inspirasi misi? Kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan merenungkan tiga kisah Injil: pemakluman  misi perutusan Yesus di sinagoga Nazaret (bdk. Luk 4:16-30); perjalanan yang Ia lakukan bersama dengan para murid Emaus setelah kebangkitan-Nya (bdk. Luk 24:13-35); serta, perumpamaan tentang penabur dan benih (bdk. Mat 4:26-27).
Yesus diurapi oleh Roh dan diutus.
Menjadi seorang murid misioner berarti secara aktif terlibat dalam misi Kristus. Yesus sendiri melukiskan misi di sinagoga Nazaret itu dalam kata-kata ini: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19). Ini juga misi kita: diurapi oleh Roh Tuhan, untuk mewartakan Sang Sabda kepada saudara-saudari kita dan menjadi sarana keselamatan bagi mereka.
Yesus menyertai setiap langkah perjalanan kita.
Persoalan-persoalan yang bergejolak dalam hati dan tantangan-tantangan yang keluar dari realitas hidup dapat membuat kita bingung, tidak mengerti dan putus asa. Ada risiko bahwa misi Kristiani mungkin tampak seperti semata-mata ilusi utopia atau sekurang-kurangnya sesuatu yang melampaui daya kemampuan kita. Tetapi, jika kita mengkontemplasikan Yesus yang bangkit menyertai perjalanan para murid Emaus (bdk. Luk 24:13-15), kita dapat dipenuhi dengan kepercayaan diri yang baru. Dalam kisah Injil itu, kita memiliki sebuah “liturgi jalan” yang benar, yang mendahului pewartaan sabda dan pemecahan roti. Kita melihat bahwa, pada setiap langkah, Yesus menyertai kita! Dua murid, yang diliputi skandal salib, pulang ke rumah dalam kegalauan.  Hati mereka hancur, harapan mereka hilang dan mimpi mereka berantakan. Sukacita Injil telah menyingkapkan kesedihan itu. Apa yang dikerjakan Yesus? Dia tidak menghakimi mereka, tetapi berjalan bersama mereka. Daripada mendirikan tembok, Ia membuka terobosan. Perlahan-lahan Ia mengubah keputusasaan mereka. Ia membuat hati mereka berkobar-kobar dan membuka mata mereka dengan mewartakan sabda dan memecah-mecah roti. Dalam cara yang sama, seorang Kristiani tidak membawa beban misi sendirian, tetapi menyadari bahwa, bahkan di tengah kelesuan dan ketidakmengertian, “Yesus berjalan bersamanya, berbicara dengannya, bernafas bersamanya, bekerja dengannya. Ia merasakan Yesus hidup bersamanya di tengah-tengah upaya perutusan” (EG, 266).
Yesus membuat benih tumbuh.
Akhirnya, penting untuk membiarkan Injil mengajarkan kita jalan pewartaan. Kadang kala, bahkan dengan niat terbaik, kita dapat menundukkan diri pada kehausan akan kekuasaan, proselitisme atau fanatisme intoleran. Tetapi, Injil menyerukan kita untuk menolak berhala kekuasaan dan kesuksesan, perhatian tak pantas untuk struktur-struktur, dan semacam kecemasan yang lebih bekerja dengan semangat penaklukan daripada semangat pelayanan. Benih Kerajaan Allah, meski kecil, tak terlihat dan kadang kala tak berarti, diam-diam tumbuh terus-menerus. Puji syukur atas karya Allah yang tak kunjung putus. “Kerajaan Allah seumpama orang yang menabur benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu” (Mrk 4:26-27). Inilah alasan utama kita untuk yakin: Allah melampaui seluruh harapan kita dan terus-menerus mengejutkan kita dengan kemurahan hati-Nya. Ia membuat usaha-usaha kita menghasilkan buah yang melampaui semua perhitungan manusiawi. Dengan keyakinan diri yang lahir dari Injil ini, kita menjadi terbuka pada karya Roh yang tersembunyi yang menjadi dasar misi.

Promosi Panggilan
Tidak mungkin ada promosi panggilan atau misi Kristiani tanpa doa kontemplatif yang konstan. Hidup Kristiani butuh dipupuk dengan penuh perhatian mendengarkan sabda Allah dan, di atas semuanya itu, dengan keintiman relasi personal dengan Tuhan dalam adorasi Ekaristi, “tempat” istimewa untuk perjumpaan kita dengan Tuhan. Saya sungguh-sungguh ingin mendorong keintiman yang mendalam dengan Tuhan, di atas semua itu demi memohon panggilan imamat dan hidup bakti.  Umat Allah perlu dibimbing oleh para gembalanya yang mempersembahkan hidupnya secara penuh pada pelayanan Injil. Saya meminta komunitas-komunitas paroki, asosiasi-asosiasi dan kelompok-kelompok doa yang ada dalam Gereja untuk tidak menimbulkan perpecahan, melainkan untuk meneruskan doa supaya Tuhan mengirimkan pekerja-pekerja bagi panenan-Nya. Semoga Ia memberi kita imam-imam yang terpesona pada Injil, dekat dengan semua saudara-saudarinya, dan menjadi tanda yang hidup akan cinta belaskasih Allah.
Saudara-saudari terkasih, hari ini juga, kita dapat memperoleh kembali semangat mewartakan Injil dan kita dapat mendorong kaum muda khususnya untuk mengambil jalan kemuridan Kristiani. Meskipun rasa yang meluas bahwa iman  lesu atau tereduksi menjadi semata-mata “kewajiban untuk menjalankan”, kaum muda kita ingin menemukan daya tarik Yesus yang abadi, ditantang oleh sabda-sabda dan tindakan-tindakan-Nya, serta menyimpan harapan bahwa Ia bertahan dari kehidupan yang sepenuhnya manusiawi, gembira menghabiskan dirinya dalam cinta.
Maria tersuci, Bunda Penyelamat, memiliki keberanian untuk merengkuh harapan ini, dengan menempatkan masa mudanya dan entusiasmenya ke dalam tangan Allah. Melalui kepengantaraannya, semoga kita dianugerahi keterbukaan hati yang sama, kesiapsediaan yang sama untuk menjawab, “Ini aku”, kepada panggilan Tuhan, dan dianugerahi sukacita yang sama  (bdk. Luk 1:39), seperti dia, untuk mewartakan-Nya ke seluruh dunia.

Dari Vatikan, 27 November 2016
Pada Minggu Adven I

Paus Fransiskus

Jumat, 10 Maret 2017

SEMINAR PELAYANAN IBU LINDA

Seminar dalam rangka meningkatkan semangat pelayanan pastoral di Paroki akan dibawakan oleh ibu Linda Wahyudi, motivator dari Denpasar, Bali yang menjadi salah seorang motivator dari Daily Fresh Juice. Adapun jadwal seminar sebagai berikut:

Untuk Pendamping SEKAMI

Minggu, 26 Maret 2017 mulai pukul 08.00 - Selesai di SMP Frater Kendari



Untuk Tim Pastoral, PPK, Pemimpin Ibadat dan siapa saja yang berminat:
Senin, 27 Maret 2017 mulai pukul 17.00 - Selesai

Selasa, 28 Maret 2017 mulai pukul 08.00 - Selesai
Tempat di Aula Paroki Santo Fransiskus Xaverius, Kendari

Contact Person:

Ibu Devita Lucia Siri HP. 081341971248
Bapak Robert Keytimu HP. 081341999060

Pastor Paroki, P. Herman Panggalo Pr HP. 082188990499

Mari bergabung dalam kegiatan ini.

Selasa, 28 Februari 2017

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2017 Keuskupan Agung Makassar : KELUARGA BERWAWASAN EKOLOGIS

Kepada para Pastor, Biarawan-Biarawati dan segenap Umat Katolik Keuskupan Agung Makassar: salam sejahtera dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, “gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala sesuatu yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu” (Kol. 1:15-16a). Lingkaran 3-tahunan gerakan APP Nasional 2017-2019 mengangkat tema besar “Penghormatan dan Penghargaan Keutuhan Ciptaan demi Kesejahteraan Hidup Bersama”. Subtema pertama pada tahun 2017 ini berjudul “Keluarga Berwawasan Ekologis”. Marilah kita merenungkan topik ini bertitiktolak dari Kitab Suci, sabda Allah.
(1.
Kitab Kejadian menampilkan dua model penciptaan manusia oleh Allah. Model yang disebut pertama, ialah melalui Sabda atau Firman. “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya …; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:26-27). Menurut para ahli, model ini bersumber dari tradisi P (Priestercodex, dari masa sesudah pembuangan: sejak akhir abad ke-6 B.C). Sedangkan model kedua menggambarkan Tuhan Allah bagai pematung, yang “membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7). Model ini, menurut para ahli, sumbernya adalah tradisi Y (Yahwis), yang sesungguhnya jauh lebih tua dari tradisi P, karena berasal dari sekitar abad ke-10 B.C.
Indah Rencana Tuhan)
Pertanyaan yang penting diajukan, ialah: untuk apa Tuhan Allah menciptakan manusia? Pastilah bukan untuk kepentingan-Nya sendiri. Mengapa? Karena Allah itu Mahasempurna, tidak ada satu pun kekurangan dalam Diri-Nya. Maka Ia tidak memerlukan apa pun dari luar Diri-Nya. Jadi apa sesungguhnya tujuan Tuhan Allah menciptakan manusia? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam kisah taman Eden (Kej. 2:8-25): “Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuknya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (2:8-9). Di situ ada sungai yang mengalir untuk membasahi taman itu (2:10-14). Di taman Eden itu juga Tuhan Allah membentuk dari tanah segala ternak (2:20), binatang hutan dan burung-burung di udara (2:19.20).
Di taman Eden itu pulalah Tuhan Allah menjadikan penolong bagi manusia itu, yang sepadan dengan dia: “Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak … Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk daripadanya … Dan dari rusuk … itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: ‘Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki’. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (2:21-24). Jadi lembaga keluarga sebagai ikatan cinta kasih suci antara suami-isteri sudah ditegakkan Allah sendiri sejak awal mula. Di atas kita sudah melihat, bahwa juga dalam model penciptaan melalui Sabda ditegaskan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Berdasarkan ketetapan sejak semula ini, Yesus Kristus kemudian menegaskan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:6; Mrk. 10:9).
Adapun keluarga manusia pertama itu hidup berbahagia di taman Eden, dalam lingkungan yang harmonis, segala kebutuhan terpenuhi, dan mereka berada dalam relasi akrab dengan Tuhan Allah. Tuhan Allah digambarkan sering “berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” (3:8). Sebagai gambar dan rupa Allah, tentu saja manusia tidak dapat hanya duduk bermalas-malas di taman Eden. Sebagaimana Allah sendiri terus berkarya, manusia juga harus terus bekerja “mengusahakan dan memelihara taman itu” (2:15).
(2. Dirusak oleh Dosa)
Akibat dosa, kebahagiaan keluarga manusia pertama, yang disimbolkan dengan taman Eden, hilang. Apa sesungguhnya hakekat dosa manusia/keluarga pertama itu? Mereka diciptakan “menurut gambar (selem) dan rupa (demût) Allah”. Kata Ibrani selem berarti copy yang persis sama dengan aslinya, reproduksi; sedangkan demût berarti serupa, mirip. Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia tidak dapat tidak harus tetap dalam ikatan ketergantungan pada Allah. Sebuah reproduksi atau ‘yang mirip’ tidak dapat berubah menjadi ‘yang asli’. Tetapi itulah yang terjadi dengan kisah kejatuhan manusia (Kej. 3): Manusia tidak tunduk kepada Allah; ia melepaskan ketergantungannya pada Allah, dan mau menjadi Allah sendiri. Sebagai akibatnya, rencana asli penciptanya ditunggangbalikkan: kisah kebahagiaan (taman Eden) menjadi kisah penderitaan, sejarah keselamatan menjadi sejarah kemalangan. Dan ini mengena semua dimensi relasional manusia:

(a). Hubungan Manusia dengan Allah: Akibat dosa putuslah hubungan akrab antara manusia dengan Allah, yang dilambangkan dengan pengusiran manusia dari taman Eden (Kej. 3:22-24). Sebagai konsekwensi putusnya hubungan dengan Allah ini, manusia diserahkan kepada penderitaan dan kematian yang menakutkan (maut). “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil” (3:19). Ganti menerima kehidupan ilahi sebagai anugerah (“Tuhan Allah … menghembuskan nafas ke dalam hidungnya”, Kej. 2:7), Adam dan Hawa, pasutri pertama itu, membuang hidup ilahi itu, dan sendiri mau menjadi allah dengan makan buah terlarang (=tidak tunduk kepada Allah). Akibat ketidaktaatan ini manusia menghancurkan kehidupannya. Kematian yang seharusnya hanya merupakan peralihan final kepada Allah, kini tidak lagi berupa gejala kodrati (biologis) semata. Kini kematian itu menjadi pengalaman fatal, menandakan penghukuman, kematian abadi. Dengan menolak hukum batin, yang merupakan kehadiran ilahi dalam dirinya, manusia diserahkan kepada dirinya sendiri, kepada otonominya yang salah. Sejarah mencatat kegagalan-kegagalan berulang kali dari orang-orang yang menyangka dapat menyamai Allah dan kemudian hanya berjumpa dengan kematian, berupa maut yang menakutkan.

(b). Hubungan Manusia dengan Sesamanya: Hal pertama yang ditemukan Adam dan Hawa, si pendosa, ialah bahwa mereka telanjang (3:7.10-11). Apa yang sampai saat itu hanya berupa simbol, kini menjadi pemisahan. Ketika ditanya Allah, Adam mempersalahkan isterinya (taktik mengelak dari tanggungjawab dengan melempar kesalahan kepada yang lain), dan dengan demikian dia menjauhkan diri dari isterinya (3:12). Allah kemudian memberitahu mereka bahwa kesatuan mereka (sebagai “satu daging” = kesatuan perkawinan/keluarga) telah rusak. Relasi mereka akan dikuasai oleh dorongan naluri dan nafsu, oleh iri hati dan dominasi; dan buah cinta mereka (anak) hanya akan diberikan kepada mereka dengan sangat kesakitan waktu melahirkan (3:16). Bab-bab selanjutnya dari kitab Kejadian memperlihatkan betapa pemisahan pasutri/keluarga pertama ini berpengaruh pada segala macam ikatan sosial; antara Kain dan Habel, saudara sekandung yang bermusuhan dan bahkan memuncak pada tindakan pembunuhan (Kej. 4), dan di kalangan penduduk Babel yang tak lagi dapat saling mengerti satu sama lain (Kej. 11:1-9). Sejarah agama-agama merupakan sebuah rentang kusut jaringan perpecahan, silih bergantinya perang antar suku dan bangsa, antara kelompok dalam satu bangsa atau negara, jurang pemisahan antara yang kaya dan yang miskin.

(c). Hubungan Manusia dengan Alam: Dosa tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Dosa membawa pula pengaruh buruk pada hubungan manusia dengan alam. Akibat dosa pasutri pertama, Adam dan Hawa, untuk selanjutnya tanah menjadi terkutuk. Manusia akan memperoleh makanannya tidak lagi sebagai buah spontan bumi, melainkan sebagai hasil jerih payah dengan berpeluh (Kej. 3:17-19). Ciptaan lalu ditaklukkan kepada kesia-siaan (Rom. 8:20); ganti tunduk dengan rela, alam memberontak melawan manusia. Dan ini berlangsung sampai sekarang. Ketika pada Desember 1987 banjir besar melanda Kabupaten Polmas (kini bagian dari Propinsi Sulbar), Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan waktu itu, Prof. Dr. A. Amiruddin, berkomentar: “Kalau manusia berlaku tidak ramah terhadap alam, maka alam pun akan balik berlaku tidak ramah kepada manusia”.
Dalam Ensikliknya Laudato Si’, yang dikeluarkan pada Hari Pentakosta, 24 Mei 2015, Paus Fransiskus menulis: “Saudari (bumi) ini kini menjerit kepada kita karena kerusakan yang telah kita timpakan padanya dengan penggunaan dan penyalahgunaan barang-barang yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Kita telah sampai melihat diri kita berlagak sebagai tuan-tuan dan pemiliknya, yang merasa berhak menjarah dia semau kita. Kekerasan yang ada dalam hati kita, terluka oleh dosa, juga tercermin pada gejala-gejala penyakit yang tampak jelas pada tanah, air, udara dan pada segala bentuk kehidupan. Inilah sebabnya bumi sendiri, yang terbebani dan terabaikan, adalah yang paling teraniaya dan terbuang di kalangan kaum miskin kita; ia “mengeluh kesakitan” (Rom. 8:22). Kita telah melupakan bahwa kita sendiri adalah debu tanah (bdk.Kej.2:7); tubuh kita sendiri terbentuk dari unsur-unsurnya, kita menghirup udaranya dan kita menerima kehidupan serta minuman dari airnya” (no. 2).
Sudah sejak pertengahan dekade 1960-an merebak ramai debat teologis, khususnya di Amerika Utara, sekitar masalah ekologi. Para ekologist menuduh etika Kristen, yang menekankan wewenang manusia atas alam (bdk.Kej.1:26-28), telah melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi buta dan budaya ekonomistik yang tidak sehat. Tentu saja para teolog Kristen menolak tuduhan tersebut. Khususnya dalam tradisi Katolik, etika menyangkut hubungan antara manusia dan alam tidak dibangun atas dasar pandangan antroposentrisme, yang terasa kuat dalam Kej. 1:26-28, melainkan atas teologi inkarnasi Sabda Allah dalam Perjanjian Baru. Atas dasar ini hubungan antara manusia dan alam kodrati dipahami secara lebih positif dan terdapat suatu sikap bekerjasama dengan alam. Tetapi pertanyaannya ialah, sejauh mana kita orang-orang Katolik melandaskan sikap dan perilaku kita terhadap alam pada teologi inkarnasi dan pada kisah taman Eden? Sejauh mana kita tidak memperlakukan ibu pertiwi secara semena-mena, melainkan “mengusahakan dan memelihara”-nya bagai taman Eden?
(3. Membangkitkan Pertobatan Ekologis Berawal dari Keluarga).
Pertama-tama, mari kita menyegarkan kesadaran kita lagi akan makna pertobatan sejati. Pertobatan dalam bahasa Latin disebut conversio (kembalinya), bahasa Yunani metanoia (meta = perubahan, nous = mentalitas), merupakan padanan kata Ibrani syûb, yang menjadi ciri pemberitaan para nabi (Yer. 18:8; 24:7; Yeh. 33:9.11; Am. 4:6-12). Pertobatan mengungkapkan perubahan radikal dalam diri manusia, yang mewujud dalam tindakan dan perilaku nyata.
Di sini kita ingin mencanangkan gerakan pertobatan ekologis berawal dari keluarga. Dalam kaitan ini barangkali kita masih ingat apa yang pernah dikemukakan Paus Yohannes Paulus II, yang sekarang sudah santo. Beliau mengatakan, kalau keluarga-keluarga Katolik baik, maka Gereja akan baik. Sesungguhnya dengan pernyataan ini beliau hanya mengetrapkan dalil sosiologi pada Gereja. Dalam sosiologi, keluarga dipandang sebagai sel dasar masyarakat. Kalau sel itu sehat, maka masyarakat akan sehat; sebaliknya, kalau sel itu sakit, maka masyarakat akan sakit. Dan masyarakat manusia tidak terbayangkan tanpa hubungan hakiki dan eksistensial dengan alam ciptaan. Selanjutnya, kebenaran dalil sosiologis tentang sentralnya posisi keluarga dalam keutuhan ciptaan sesungguhnya mempunyai landasan biblis yang kuat. Bukankah, sebagaimana kita sudah lihat, Allah menciptakan manusia pria dan wanita dan menempatkan pasutri pertama itu di taman Eden? Dan apa yang disebut “dosa asal” itu pada hakekatnya adalah dosa keluarga pertama, Adam dan Hawa! Maka gerakan pertobatan ekologis yang berawal dari keluarga mempunyai fungsi yang sangat strategis.
Pertama-tama kita harus berpegang pada kebenaran iman, bahwa dalam Kristus segala sesuatu telah ditebus. Namun, di lain pihak, penebusan dalam Kristus tidak menghapus kehendak bebas manusia. Manusia tetap dapat menerima dan setia pada Allah atau, sebaliknya, menolak Allah. Karena itu, pusat pewartaan Yesus adalah: “Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15//Mat. 3:2; 4:17).
Bagaimana secara konkret pertobatan ekologis itu mewujud dalam keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita mulai dengan memperhatikan keprihatinan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’. Beliau menulis: “Patut disayangkan, banyak upaya mencari solusi-solusi konkret terhadap krisis lingkungan telah terbukti tidak efektif, tidak saja karena adanya oposisi yang kuat melainkan juga karena kurangnya kepedulian secara umum. Sikap-sikap yang menghalangi, juga di kalangan kaum beriman, dari menyangkal adanya masalah ke sikap acuh tak acuh, tak ambil pusing atau kepercayaan buta pada solusi-solusi teknis. Kita membutuhkan suatu solidaritas baru dan universal…Kita semua dapat bekerjasama sebagai alat-alat (dalam tangan) Allah untuk memelihara ciptaan, masing-masing menurut budaya, pengalaman, keterlibatan dan talenta sendiri-sendiri” (no. 14).
Kembali ke lembaga keluarga, simaklah anekdot ini: Alkisah, adalah suatu keluarga yang sibuk membangun rumah. Kemudian datanglah seorang membawa berita, bumi sedang terbakar. Tetapi keluarga itu tidak peduli. Mereka hanya fokus pada upaya menyelesaikan segera pembangunan rumah mereka. Ketika rumah sudah selesai dibangun, baru mereka sadar tidak ada tempat lagi untuk meletakkan rumah itu, karena bumi sudah terbakar hangus. Kiranya pesan cerita kecil ini jelas. Dalam hal memelihara dan menjaga bumi, sang ibu pertiwi, tak ada satu keluarga pun yang boleh mengambil sikap tak peduli. Barangkali keluarga anda bukanlah pengusaha besar kayu yang telah merusak hutan dalam skala besar, bukan industrialis yang menyebabkan polusi udara dan air, bukan pula pengusaha tambang yang menggunduli kulit bumi sampai terancam menjadi padang pasir, dst.! Mungkin keluarga anda hanyalah keluarga sederhana. Tetapi setiap keluarga, tak terkecuali keluarga anda menjadi si alamat seruan Paus Fransiskus, untuk menjadi alat-alat di tangan Allah dalam memelihara keutuhan ciptaan.
Hendaknya ritus tobat yang kita ucapkan pada setiap awal perayaan Ekaristi tidak tinggal menjadi kata-kata hampa, tanpa makna. Kita berkata, dan selanjutnya menepuk dada: “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa”. Pentinglah memperhatikan rumusan, berdosa “dengan perbuatan dan kelalaian”. Berdosa “dengan perbuatan” adalah tindakan melanggar hukum moral dengan tahu dan mau. Berdosa “dengan kelalaian” ialah tidak membuat apa yang seharusnya dibuat. Jadi, lalai memelihara lingkungan, lalai menjaga keutuhan ciptaan adalah dosa!
Kalau setiap keluarga Katolik sudah sampai pada kesadaran itu, ia akan terdorong untuk berubah. Kita telah melihat, pertobatan pertama-tama berarti perubahan mental, yang selanjutnya terungkap keluar dalam perilaku, tindakan. Paus Fransiskus mengajak kita melibatkan diri dalam memelihara lingkungan menurut budaya, pengalaman, posisi dan bakat kita masing-masing. Yang paling penting dan mendasar ialah upaya setiap keluarga membangun kesadaran akan tanggungjawab memelihara lingkungan, dan selalu mengingat bahwa mengabaikan tanggungjawab tersebut adalah dosa kelalaian! Dan jangan lupa, kelalaian memelihara lingkungan adalah sekaligus dosa terhadap Allah, Sang Pencipta, yang pada awalmula menempatkan pasutri pertama di taman Eden, untuk mengusahakan dan memeliharanya! Bahwa kelalaian merawat lingkungan adalah juga dosa sosial, dosa terhadap sesama, itu dengan sendirinya jelas. Bukankah, misalnya, membuang sampah ke selokan di samping rumah kita dan menyebabkan air tidak dapat mengalir pada musim hujan, akan merugikan tetangga-tetangga kita pula?
Jadi, kita melihat dosa kelalaian merawat lingkungan adalah sekaligus dosa terhadap Sang Pencipta dan terhadap sesama. Hal ini jelas pada apa yang disebut “dosa asal”, dosa pasutri pertama, Adam dan Hawa. Dosa terhadap Allah sekaligus merusak relasi antar mereka (relasi sosial) dan relasi mereka dengan lingkungan (alam). Karena itu pertobatan kita pada Masa Prapaskah tidak dapat hanya dengan berupa upaya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dan mengabaikan perbaikan hubungan dengan sesama dan dengan alam ciptaan.
Kembali ke gerakan pertobatan ekologis berawal dari keluarga, kita perlu berpaling ke Keluarga Kudus Nazaret untuk mendapatkan inspirasi. Inti spiritualitas Keluarga Kudus ialah ketaatan total kepada kehendak Allah. Ini persis bertolak-belakang dengan inti dosa pasutri/keluarga pertama, Adam dan Hawa, yaitu ketidaksetiaan kepada perintah Allah, dan sendiri mau “menjadi seperti Allah” (Kej. 3:5). Maria (ibu keluarga) menegaskannya dengan kata-kata: “Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Yusuf (bapa keluarga) mengungkapkannya bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti apa yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya” (Mat. 1:24). Dan, seperti kata pepatah, buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya; sikap dasar itu turun kepada sang anak. Yesus merumuskannya dalam bentuk doa: “Ya, Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42).
Kesetiaan total kepada Allah sekaligus mewujud dalam relasi dengan orang lain, berupa perhatian, keprihatinan, belarasa, kasih, khususnya kepada mereka yang miskin dan menderita. Mengenai segi ini memang Injil tak banyak bicara tentang orang tua Yesus. Tetapi itu tidak berarti orang tua Yesus kurang peduli terhadap sesama. Kita melihat kepekaan Maria terhadap kesulitan yang sedang dihadapi orang lain, misalnya pada pesta perkawinan di Kana. Dan bahwa kemudian sang Anak tampil sebagai pribadi yang peka terhadap penderitaan orang lain, yang rela mengorbankan diri karena kasih terhadap sesama, itu tentu berkat didikan orang tua-Nya.
Lalu bagaimana sikap dan perhatian Keluarga Kudus Nazaret terhadap lingkungan hidup? Hal ini memang sulit ditelusuri dalam Injil.Tetapi jangan dilupakan, bahwa masalah serius menyangkut ekologi baru mulai sejak abad ke-19, ketika kemajuan industri dan ilmu pengetahuan saling menunjang dalam melahirkan revolusi teknologis, yang secara harafiah merubah muka bumi. Seandainya Keluarga Kudus Nazaret hidup pada zaman sekarang, mereka tentu akan menjadi teladan dalam merawat keutuhan ciptaan! Tetapi tidakkah setiap keluarga Katolik pada dewasa ini terpanggil menjadi Keluarga Kudus Nazaret?
(4. Pendidikan Anak Berwawasan Ekologis)
Di atas kita terutama mengarahkan pesan ekologis kepada orang tua dalam keluarga. Tentu saja kita tidak boleh melupakan anak-anak, generasi penerus yang akan mewarisi bumi sebagai rumah bersama dan sebagai “ibu yang menopang dan membimbing kita, dan yang menghasilkan berbagai jenis buah-buahan dengan bebungaan berwarna-warni serta bumbu-bumbuan” (Madah Makhluk Fransiskus Asisi; Laudato Si’, no. 1).
Gereja selalu memandang keluarga sebagai sekolah pertama. Dasar pertimbangannya ialah karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak. Oleh sebab itu orang tua terikat kewajiban teramat berat untuk mendidik anak-anak mereka; orang tualah pendidik pertama dan utama anak-anaknya. Dalam keluargalah anak-anak menemukan pengalaman pertama masyarakat manusia yang sehat serta Gereja. Melalui keluargalah akhirnya mereka lambat laun diajak berintegrasi dalam masyarakat manusia dan umat Allah dalam dunia (lih. GE,1).
Kecuali itu, harus disadari betapa pentingnya pendidikan nilai bagi anak-anak kita sejak dini. Sebab apa yang diterima dan dialami anak manusia pada masa kecilnya akan tetap tinggal dan berpengaruh dalam hidupnya di masa dewasa. Semakin dalam pengalaman di masa kecil itu tertanam, akan semakin besar pengaruhnya kelak dalam hidupnya sampai akhir. Karena itu pendidikan berwawasan ekologis bagi anak-anak amat penting dan sangat strategis.

Lalu apa yang secara konkret dapat diberikan orang tua dalam pendidikan berwawasan ekologis kepada anak-anaknya? Menurut hemat saya, sesuai dengan tingkat perkembangan daya tangkap si anak, orang tua perlu menceritakan (berkisah) tentang apa yang sudah dibahas dalan nomor 1 dan 2 Surat Gembala Prapaskah ini. Orang tua dan kakak-kakak perlu berkisah kepada anggota keluarga yang masih kecil tentang betapa indahnya rencana Allah pada awal mula ketika menciptakan langit dan bumi serta isinya, yang memuncak pada penciptaan manusia, Adam dan Hawa. Tetapi rencana Tuhan yang indah itu dirusak oleh dosa manusia, yang melawan perintah Tuhan dan mau menjadi Tuhan sendiri. Selanjutnya berkisah tentang dosa terhadap Allah adalah sekaligus dosa terhadap sesama dan terhadap alam ciptaan. Dalam berkisah mengenai semua segi itu, hendaknya diberi contoh-contoh nyata dari apa yang terjadi dewasa ini akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab terhadap alam: pengotoran air akibat pembuangan sampah dan limbah industri secara sembarangan; polusi udara; banjir dan tanah longsor akibat penggundulan hutan; perubahan iklim yang tidak menentu; panas bumi yang semakin meningkat yang mengancam cairnya gunung es di kutub selatan, dan akan menyebabkan permukaan bumi yang rendah akan tenggelam; dst. Tetapi anak-anak juga harus dididik untuk memelihara lingkungannya, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, menanam tanaman dan pohon. Sesekali juga hendaknya seluruh keluarga mengadakan wisata alam.
Akhirnya, selamat menjalani Masa Prapaskah, khususnya selamat memulai gerakan pertobatan ekologis berawal dari keluarga Anda! Tuhan memberkati kita semua!
Makassar, 17 Februari 2017
+John Liku-Ada’