Search by Google

PROMOSI

Kamis, 10 Agustus 2017

R I P

Pastor, Dewan Pastoral beserta segenap umat Paroki Santo Fransiskus Xaverius Kendari menyampaikan rasa duka mendalam atas berpulangnya:

P. STEPHANUS TARIGAN, CICM
Vikaris Jendreal Keuskupan Agung Makassar



Pada hari Selasa, 9 Agustus 2017 di Makassar

Kamis, 22 Juni 2017

PENERIMAAN SAKRAMEN KRISMA:

Dibuka pendaftaran calon Krisma. Syarat bagi yang akan menerima Sakramen Krisma telah berusia 16 tahun ke atas atau minimal kelas I SMU dengan membawa foto copy Surat Baptis ke Sekretariat Paroki pada jam kerja. Penerimaan Krisma akan dilaksanakan pada hari Minggu, 29 September 2017.

Jumat, 19 Mei 2017

JADWAL HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

Jadwal Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga:

Rabu, 24 Mei 2017
Pukul 18.30 di Gereja Paroki

Kamis, 25 Mei 2017
Pukul 07.00 di Gereja Paroki
Pukul 09.30 di Gereja Stasi Anduonohu

Selasa, 16 Mei 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS DI HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-51 TAHUN 2017

“Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau.” (Yes 43: 5)
 Mengkomunikasikan Harapan dan Kepercayaan pada Masa Kini
BERKAT kemajuan teknologi, akses ke media kini semakin memungkinkan banyak orang bisa dengan mudah dan cepat berbagi berita dan kemudian menyebarkannya kepada publik secara massif. Berita-berita itu bisa saja berupa kabar baik atau buruk; juga bisa berupa kabar benar atau kabar bohong.
Umat kristiani perdana sering mengidentikkan pikiran manusia layaknya batu kilangan yang tiada hentinya menggiling; itu terserah kepada pemilik batu kilangan apakah dia ingin menggiling biji gandum berkualitas atau biji-bijian lain yang tak berguna. Pikiran kita juga senantiasa ‘menggiling’, tetapi terserah pada  kita sendiri memilih bahan apa yang akan giling. (Lihat: Surat Leontius dari Santo Johannes Kasianus).
Saya ingin menyampaikan pesan ini kepada mereka yang karena pekerjaan profesionalnya atau karena relasi pribadinya seperti batu kilangan tersebut, yang sehari-hari ‘mengolah’ informasi dengan tujuan bisa menyediakan aneka informasi bagus sesuai keinginan pihak dengan siapa mereka menjalin komunikasi.
Saya ingin memotivasi siapa pun agar senantiasa berperilaku secara konstruktif dalam menyikapi cara-cara berkomunikasi yang mengesampingkan segala prasangka terhadap orang lain dan mendorong terciptanya adab perjumpaan, karena ini akan membantu kita memandang dunia di sekitar apa adanya dan penuh kepercayaan.
Saya meyakini bahwa kita memang sudah seharusnya memutus mata rantai lingkaran setan kecemasan dan membendung spiral ketakutan yang muncul karena terlalu  fokus pada “berita-berita buruk” (perang, terorisme, skandal, dan segala macam berita tentang kegagalan manusia). Ini bukan perkara tentang penyebaran informasi salah yang mengabaikan tragedi penderitaan manusia,  juga bukan tentang optimisme buta yang naif terhadap skandal kejahatan.
Lebih dari itu, saya ingin mengajak kita semua berusaha mengatasi ketidakpuasan dan sikap tarik diri yang makin  berkembang  sehingga menimbulkan apatisme, ketakutan atau gagasan bahwa  kejahatan tidak ada batasnya. Apalagi, di industri komunikasi, berita baik diyakini tidak punya nilai jual sementara tragedi kemanusiaan dan misteri kejahatan malah dengan mudah dikemas sebagai hiburan, maka di situ selalu ada godaan yang membuat  hati nurani  tumpul atau terperosok pada pesimisme.
Karenanya, saya ingin menyumbangkan upaya untuk menemukan pola komunikasi terbuka dan kreatif yang tidak berusaha mengagungkan kejahatan, melainkan fokus pada solusi dan menginspirasi pendekatan positif dan bertanggungjawab bagi pihak perima informasi. Saya mengimbau semua orang agar memberi kepada manusia dewasa ini inti cerita yang pada hakekatnya adalah “kabar baik”.
Kabar baik
Hidup bukanlah semata-mata rangkaian susul-menyusul aneka peristiwa yang begitu saja ‘telanjang’, melainkan merupakan sebuah sejarah, sebuah jalinan cerita yang  menunggu saat untuk kemudian dikisahkan menggunakan lensa interpretasi  tertentu yang  bisa menyeleksi dan mengumpulkan data paling relevan.
Di dan pada dirinya sendiri, realitas itu tak punya satu makna yang jelas. Semuanya tergantung pada cara bagaimana orang  melihat realitas tersebut, pada lensa mana yang dianggapnya  paling tepat. Kalau saja kita mengganti lensa pandang, maka realitas itu dengan sendirinya juga akan berubah. Lalu, bagaimana kita mesti mulai ‘membaca’ realitas  dengan lensa  yang tepat pula?
Bagi kita, segenap umat kristiani, lensa tersebut adalah kabar gembira, berawal  dari Kabar Baik yang tak lain tak bukan adalah Sang Kabar Baik itu sendiri: “Inilah Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Mk 1: 1). Dengan rumusan kalimat itu, Santo Markus  mengawali penulisan Injilnya tidak dengan cara mempertautkan kabar baik tentang Yesus Kristus, melainkan menegaskan bahwa Kabar Baik itu tidak lain adalah Yesus sendiri.
Benarlah, dengan membaca teks Injil Markus,  kita jadi tahu bahwa judul itu memang  sesuai dengan isinya dan –lebih dari semua hal— isinya pun  juga berkisah tentang pribadi Yesus.
Kabar gembira –Yesus sendiri— itu baik, bukan karena tidak ada kaitannya dengan penderitaan, melainkan menderita itu sendiri hanyalah bagian kecil dari sebuah gambar yang lebih besar. Hal ini dipandang sebagai bagian integral dari cinta Yesus kepada Bapa-Nya dan kepada seluruh umat manusia. Dalam Kristus, Tuhan telah menunjukkan solidaritas-Nya dengan setiap kondisi manusia. Ia sendiri telah mengatakan kepada kita bahwa kita tidak sendirian, karena kita memiliki Bapa yang senantiasa peduli dengan anak-anak-Nya. “Janganlah takut, sebab Aku ini menyertaimu.” (Yes 43: 5): ini adalah kata-kata hiburan dari Tuhan yang telah merasuk ke dalam sejarah umat manusia.  Dalam diri Putera-Nya yang terkasih, janji ilahi  –“Aku senantiasa bersamamu” itu– telah menyatu padu dengan semua kelemahan manusia, bahkan sampai saat mati pun.
Dalam Kristus itu, bahkan kegelapan dan kematian menjadi titik pertemuan  antara Terang dan Hidup. Harapan muncul, sebuah harapan  yang merengkuh semua orang—terutama di bagian paling persimpangan dimana kehidupan menghadapi pahitnya kegagalan. Harapan ini tidak mengecewakan, karena kasih Tuhan telah dicurahkan kepada hati kita (Roma 5: 5) dan menjadikan hidup baru bersemi, sama seperti tumbuhan baru yang muncul dari benih yang jatuh. Dipandang dari perspektif ini, setiap tragedi baru yang terjadi di sejarah  umat manusia bisa menjadi wahana bagi munculnya kabar baik, sejauh kasih itu menemukan jalan untuk mendekatkan dan membangkitkan banyak  hati yang simpati, wajah yang teguh dan tangan yang siap membangun yang baru.
Keyakinan akan benih Kerajaan Allah
Guna mengantar para murid-Nya dan kerumunan orang akan cara pandang  Injil  ini dan untuk menyediakan kepada mereka lensa tepat, yang dibutuhkan untuk melihat dan merengkuh kasih yang kadang mati dan bangkit kembali tersebut, maka Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Sering kali Yesus  membandingkan Kerajaan Allah seumpama benih yang memperlihatkan daya hidupnya manakala  benih tersebut  jatuh ke tanah dan mati (Mk 4: 1-34).
Penggunaan  gambaran  dan metafor untuk menjelaskan kuasa Kerajaan Allah yang tenang itu tidak mengurangi penting dan urgensi pesan yang ingin disampaikan; lebih dari itu, inilah cara penuh kasih yang  bisa  memberi ruang bagi para pendengar sabda-Nya untuk secara bebas menerima dan menghargai  kuasa tersebut. Ini juga merupakan cara paling efektif  untuk mengungkapkan martabat agung Misteri Paska dengan lebih menggunakan gambaran daripada konsep, untuk mengkomunikasikan keindahan paradoksal akan hidup baru dalam Kristus. Dalam kehidupan tersebut,  kesulitan dan salib tidak saling menghalangi, melainkan membawa keselamatan Allah; kelemahan membuktikan diri lebih kuat dibanding semua kekuatan manusiawi; kegagalan bisa menjadi awal bagi pemenuhan akan segala sesuatu dalam kasih.
Ini adalah bagaimana harapan dalam Kerajaan Allah itu akan menjadi matang dan semakin mendalam: ini adalah “Seperti seseorang yang harus menyebarkan benih di tanah, kemudian tidur di malam hari dan ketika bangun keesokan harinya, maka tunas itu telah tumbuh dan berkembang.” (Mk 4: 26-27).
Kerajaan Allah sebenarnya telah hadir di tengah-tengah kita, mirip sebuah benih yang tidak mencolok mata namun kemudian akarnya tumbuh bersemi. Kepada mereka yang oleh Roh Kudus mendapatkan pandangan yang jernih,  akan dimampukan  melihat benih itu mekar dan bertumbuh. Mereka tidak membiarkan dirinya terbuai  dengan kegirangan akan Kerajaan Allah karena semak belukar pun ikut bermunculan.
Cakrawala Roh
Harapan kita berdasarkan kabar baik yakni Yesus sendiri itu telah membuat kita mengangkat pandangan dalam merenungkan Tuhan saat perayaan liturgis Kenaikan. Sekalipun Tuhan sekarang ini tampak makin jauh, namun cakrawala harapan justru berkembang makin luas. Di dalam Kristus, yang membawa kemanusiaan kita semakin ilahi, maka setiap laki-laki dan perempuan sekarang bebas “masuk ke dalam tempat kudus berkat darah Yesus, di jalan baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (Ibr 10: 19-20). Oleh “kekuatan Roh Kudus”,  kita menjadi saksi dan “komunikator” akan kemanusiaan kita yang baru dan tertebus “bahkan sampai ke ujung bumi” (Kis 1: 7-8).
Keyakinan akan benih Kerajaan Allah dan Misteri Paska itu seharusnya juga membentuk cara kita berkomunikasi.  Kepercayaan ini memungkinkan kita mampu melaksanakan pekerjaan kita –dalam segala cara berkomunikasi di zaman modern ini—dengan keyakinan bahwa mungkinlah bisa mengenali dan menyoroti hadirnya  kabar baik di setiap cerita dan pada wajah setiap orang.
Mereka yang dalam iman  mempercayakan kepada bimbingan Roh Kudus akan menyadari betapa Allah hadir dan bekerja di setiap saat dalam hidup dan sejarah kita, dengan sabar membawa kita kepada  sejarah keselamatan. Harapan adalah untaian benang dengan apa sejarah suci ini ditenun, dan sang penenun itu tidak lain adalah Roh Kudus, Sang Penghibur.
Harapan merupakan kebajikan paling bersahaja, karena ia tetap tersembunyi di relung kehidupan;  namun harapan itu mirip ragi yang mengolah semua adonan. Kita memeliharanya dengan cara membaca Injil lagi dan lagi, “dicetak ulang” ke banyak edisi dalam rupa  hidup para kudus yang telah menjadi simbol akan kasih Tuhan di dunia ini.
Sekarang ini pun, Roh Kudus masih terus menabur dalam diri kita hasrat akan Kerajaan Allah, terima kasih kepada semua orang yang bisa mengambil inspirasi dari Kabar Gembira di tengah hiruk pikuknya  peristiwa dramatik sekarang ini, karena Roh Kudus senantiasa memancarkan cahaya seperti mercusuar di tengah gelapnya dunia, mencurahkan sinar terangnya itu sepanjang waktu dan membuka jalan baru  menuju keyakinan dan harapan senantiasa.
Dari Vatikan, 24 Januari 2017
FRANSISKUS

Jumat, 12 Mei 2017

JADWAL KEGIATAN ZIARAH DI STASI SANTA MARIA RATU DAMAI DKB I

Sabtu, 27 Mei 2017 Mulai Pukul 19.00
-          Pawai Lilin
-          Doa Rosario
-          Malam Kebersamaan OMK

Minggu, 28 Mei 2017 Mulai Pukul  07.00
-          Jalan Salib bersama Bunda Maria
-          Perayaan Ekaristi

CATATAN:
1.    Tidak ada Perayaan Ekaristi di Pusat Paroki dan Stasi pada hari Minggu 28 Mei 2017
2.    Transportasi, Akomodasi dan Konsumsi disiapkan oleh Rukun / Stasi masing-masing


Terima kasih.

Kamis, 04 Mei 2017

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-54

Hari Doa Sedunia untuk Panggilan ke-54

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS
UNTUK HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-54

Roh Tuhan Gerakkan Misi


Saudara-saudari terkasih,

Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang.

Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani. Mereka yang terpikat oleh panggilan Tuhan dan bertekad mengikuti Yesus akan merasakan hasrat tak tertahankan di dalam hatinya untuk membawa Kabar Baik kepada saudara-saudari mereka melalui pewartaan dan pelayanan cinta kasih. Semua orang Kristiani dipanggil menjadi misionaris Injil! Sebagai murid, kita tidak menerima rahmat cinta Allah untuk penghiburan personal semata, atau kita tidak dipanggil untuk mempromosikan diri kita sendiri, atau untuk  kepentingan usaha pribadi. Kita adalah para pria dan wanita sederhana yang dijamah dan diubah oleh sukacita Injil, yang tidak dapat menyimpan pengalaman ini hanya untuk diri kita sendiri. Karena, “sukacita Injil yang menghidupkan komunitas para murid adalah sukacita misioner” (Evangelii Gaudium, 21).

Komitmen Misioner
Komitmen misioner bukanlah suatu tambahan pada hidup Kristiani seperti layaknya suatu hiasan, tetapi merupakan unsur esensial dari iman itu sendiri. Relasi dengan Tuhan mengandung panggilan untuk diutus ke dunia sebagai nabi-nabi sabda-Nya dan saksi-saksi cinta-Nya.
Bahkan jika pada saat ini kita menyadari kelemahan-kelemahan kita dan tergoda untuk putus asa, kita perlu berbalik  bersama Allah dengan keyakinan diri. Kita harus mengatasi rasa kekurangan diri dan tidak menghasilkan pesimisme, yang semata-mata menjadikan kita penonton pasif dari hidup yang suram dan monoton. Tidak ada tempat untuk takut! Allah sendiri datang membersihkan “bibir kotor” kita dan melengkapi kita untuk misi: “Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni. Kemudian aku mendengar suara Tuhan berkata, ‘Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’ dan sahutku, ‘Ini aku, utuslah aku’” (Yes 6:6-8).
Di kedalaman hati, setiap murid misioner mendengar panggilan ilahi ini yang mengundangnya untuk “berbuat”, seperti Yesus, “berbuat baik dan menyembuhkan semua orang” (bdk. Kis 10:38). Saya telah mengingatkan bahwa, oleh rahmat baptisan, setiap orang Kristiani adalah seorang “Christopher”, seorang pembawa Kristus, kepada saudara-saudarinya (bdk. Katekesis, 30 Januari 2016). Hal ini secara khusus menjadi perhatian bagi para imam dan mereka yang dipanggil untuk menjalani hidup bakti, yang dengan kemurahan hati telah menjawab, “Ini aku, Tuhan, utuslah aku!” Dengan antusiasme misioner yang dibarui, para imam dipanggil untuk melangkah keluar dari ruang bait suci dan membiarkan kelembutan cinta Allah mengalir untuk kepentingan kemanusiaan (bdk. Homili pada misa Krisma, 24 Maret 2016). Gereja membutuhkan imam-imam yang seperti ini: yang dengan tenang percaya diri karena mereka telah menemukan harta sejati, ingin pergi keluar dan dengan sukacita membuatnya dikenal semua orang (bdk. Mat 13:44).

Misi Kristiani
Tentu banyak pertanyaan muncul ketika kita berbicara tentang misi Kristiani. Apa maksudnya menjadi misionaris Injil? Siapa yang memberi kita kekuatan dan keberanian untuk mewartakan? Apa dasar penginjilan dan inspirasi misi? Kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan merenungkan tiga kisah Injil: pemakluman  misi perutusan Yesus di sinagoga Nazaret (bdk. Luk 4:16-30); perjalanan yang Ia lakukan bersama dengan para murid Emaus setelah kebangkitan-Nya (bdk. Luk 24:13-35); serta, perumpamaan tentang penabur dan benih (bdk. Mat 4:26-27).
Yesus diurapi oleh Roh dan diutus.
Menjadi seorang murid misioner berarti secara aktif terlibat dalam misi Kristus. Yesus sendiri melukiskan misi di sinagoga Nazaret itu dalam kata-kata ini: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19). Ini juga misi kita: diurapi oleh Roh Tuhan, untuk mewartakan Sang Sabda kepada saudara-saudari kita dan menjadi sarana keselamatan bagi mereka.
Yesus menyertai setiap langkah perjalanan kita.
Persoalan-persoalan yang bergejolak dalam hati dan tantangan-tantangan yang keluar dari realitas hidup dapat membuat kita bingung, tidak mengerti dan putus asa. Ada risiko bahwa misi Kristiani mungkin tampak seperti semata-mata ilusi utopia atau sekurang-kurangnya sesuatu yang melampaui daya kemampuan kita. Tetapi, jika kita mengkontemplasikan Yesus yang bangkit menyertai perjalanan para murid Emaus (bdk. Luk 24:13-15), kita dapat dipenuhi dengan kepercayaan diri yang baru. Dalam kisah Injil itu, kita memiliki sebuah “liturgi jalan” yang benar, yang mendahului pewartaan sabda dan pemecahan roti. Kita melihat bahwa, pada setiap langkah, Yesus menyertai kita! Dua murid, yang diliputi skandal salib, pulang ke rumah dalam kegalauan.  Hati mereka hancur, harapan mereka hilang dan mimpi mereka berantakan. Sukacita Injil telah menyingkapkan kesedihan itu. Apa yang dikerjakan Yesus? Dia tidak menghakimi mereka, tetapi berjalan bersama mereka. Daripada mendirikan tembok, Ia membuka terobosan. Perlahan-lahan Ia mengubah keputusasaan mereka. Ia membuat hati mereka berkobar-kobar dan membuka mata mereka dengan mewartakan sabda dan memecah-mecah roti. Dalam cara yang sama, seorang Kristiani tidak membawa beban misi sendirian, tetapi menyadari bahwa, bahkan di tengah kelesuan dan ketidakmengertian, “Yesus berjalan bersamanya, berbicara dengannya, bernafas bersamanya, bekerja dengannya. Ia merasakan Yesus hidup bersamanya di tengah-tengah upaya perutusan” (EG, 266).
Yesus membuat benih tumbuh.
Akhirnya, penting untuk membiarkan Injil mengajarkan kita jalan pewartaan. Kadang kala, bahkan dengan niat terbaik, kita dapat menundukkan diri pada kehausan akan kekuasaan, proselitisme atau fanatisme intoleran. Tetapi, Injil menyerukan kita untuk menolak berhala kekuasaan dan kesuksesan, perhatian tak pantas untuk struktur-struktur, dan semacam kecemasan yang lebih bekerja dengan semangat penaklukan daripada semangat pelayanan. Benih Kerajaan Allah, meski kecil, tak terlihat dan kadang kala tak berarti, diam-diam tumbuh terus-menerus. Puji syukur atas karya Allah yang tak kunjung putus. “Kerajaan Allah seumpama orang yang menabur benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu” (Mrk 4:26-27). Inilah alasan utama kita untuk yakin: Allah melampaui seluruh harapan kita dan terus-menerus mengejutkan kita dengan kemurahan hati-Nya. Ia membuat usaha-usaha kita menghasilkan buah yang melampaui semua perhitungan manusiawi. Dengan keyakinan diri yang lahir dari Injil ini, kita menjadi terbuka pada karya Roh yang tersembunyi yang menjadi dasar misi.

Promosi Panggilan
Tidak mungkin ada promosi panggilan atau misi Kristiani tanpa doa kontemplatif yang konstan. Hidup Kristiani butuh dipupuk dengan penuh perhatian mendengarkan sabda Allah dan, di atas semuanya itu, dengan keintiman relasi personal dengan Tuhan dalam adorasi Ekaristi, “tempat” istimewa untuk perjumpaan kita dengan Tuhan. Saya sungguh-sungguh ingin mendorong keintiman yang mendalam dengan Tuhan, di atas semua itu demi memohon panggilan imamat dan hidup bakti.  Umat Allah perlu dibimbing oleh para gembalanya yang mempersembahkan hidupnya secara penuh pada pelayanan Injil. Saya meminta komunitas-komunitas paroki, asosiasi-asosiasi dan kelompok-kelompok doa yang ada dalam Gereja untuk tidak menimbulkan perpecahan, melainkan untuk meneruskan doa supaya Tuhan mengirimkan pekerja-pekerja bagi panenan-Nya. Semoga Ia memberi kita imam-imam yang terpesona pada Injil, dekat dengan semua saudara-saudarinya, dan menjadi tanda yang hidup akan cinta belaskasih Allah.
Saudara-saudari terkasih, hari ini juga, kita dapat memperoleh kembali semangat mewartakan Injil dan kita dapat mendorong kaum muda khususnya untuk mengambil jalan kemuridan Kristiani. Meskipun rasa yang meluas bahwa iman  lesu atau tereduksi menjadi semata-mata “kewajiban untuk menjalankan”, kaum muda kita ingin menemukan daya tarik Yesus yang abadi, ditantang oleh sabda-sabda dan tindakan-tindakan-Nya, serta menyimpan harapan bahwa Ia bertahan dari kehidupan yang sepenuhnya manusiawi, gembira menghabiskan dirinya dalam cinta.
Maria tersuci, Bunda Penyelamat, memiliki keberanian untuk merengkuh harapan ini, dengan menempatkan masa mudanya dan entusiasmenya ke dalam tangan Allah. Melalui kepengantaraannya, semoga kita dianugerahi keterbukaan hati yang sama, kesiapsediaan yang sama untuk menjawab, “Ini aku”, kepada panggilan Tuhan, dan dianugerahi sukacita yang sama  (bdk. Luk 1:39), seperti dia, untuk mewartakan-Nya ke seluruh dunia.

Dari Vatikan, 27 November 2016
Pada Minggu Adven I

Paus Fransiskus