Search by Google

PROMOSI

Jumat, 17 November 2017

RAPAT DEPAS PLENO

Rapat Dewan Pastoral Pleno akan diadakan pada hari Minggu, 19 Nopember 2017 mulai pukul 17.00 - selesai di aula paroki. Diharapkan segenap anggota DePas, para pengurus Stasi dan rukun se Paroki Santo Fransiskus Xaverius. Terima kasih.

RANGKAIAN ACARA PESTA PELINDUNG DAN ULANG TAHUN KE 51

RANGKAIAN ACARA PESTA PELINDUNG DAN ULANG TAHUN KE 51
PAROKI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS

Dalam rangka memeriahkan Perayaan Pesta Pelindung dan Ulang Tahun ke 51 Paroki Santo Fransiskus Xaverius – Kendari, akan dilaksanakan lomba-lomba pada hari Minggu 26 Nopember 2017 sebagai berikut:

  1. Lomba Menyusun Puzzle (kategori TK – Kelas 2 SD) pukul 09.00 – 09.30
  2. Lomba Cerita Santo-Santa (kategori Kelas 3 – 6 SD) pukul 09.30 – 10.30
  3. Lomba Cerdas Cermat seputar PPA dan Liturgi (kategori SMP – SMA) pukul 10.30 – 11.30
  4. Lomba Bakiak, Lomba Sambung Pipa, Lomba Bola Terong Estafet (kategori DePas) pukul 15.00 – selesai
Catatan: Sebelum Lomba DePas dimulai, akan diawali dengan Senam Zumba yang diikuti semua umat paroki maka sangat diharapkan partisipasi seluruh umat paroki.



Panitia Pelaksana

Kamis, 16 November 2017

PESAN NATAL 2017 KWI DAN PGI


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus
NATAL adalah perayaan kelahiran Sang Juru Selamat dan Raja Damai. Perayaan ini mengajak kita untuk menyimak kembali pesan utamanya. Karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia, Allah telah mengutus Putra-Nya ke dunia (bdk. Yoh 3:16). Putra-Nya itu mengosongkan diri sehabis-habisnya dan menjadi manusia seperti kita (bdk. Flp 2:17). Ia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan (bdk. Yoh. 10:10).
Ia, yang adalah Raja Damai dan Imanuel, Allah beserta kita, datang untuk membawa damai sejahtera kepada dunia, seperti yang diwartakan para malaikat kepada para gembala, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Luk.2:14).
Bagi umat Kristiani, kelahiran Sang Raja Damai merupakan suatu momentum untuk membarui hidup pribadi maupun hidup bersma, Sebagai umat beriman, yang dilahirkan kembali, kita harus membuka diri agar damai sejahtera Kristus benar-benar memerintah dalam hati kita (bdk. Kol 3:15).
Kita mendambakan damai sejahtera, baik dalam hidup pribadi maupun dalam hidup bersama. Kita merindukan suatu bumi yang penuh damai dan umat manusia yang makin bersaudara. Hanya dengan demikian, kita akan mengalami sukacita sejati.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sudah sepatutnya kita semua berusaha menemukan makna dan relevansi perayaan Natal bagi kita umat Kristiani dan bagi bangsa Indonesia. Perayaan Natal seharusnya menjadi momentum indah bagi kita untuk menyadari kembali tugas perutusan serta komitmen kita, sebagai elemen bangsa dan negara tercinta ini.
Kondisi dan situasi bangsa Indonesia saat ini merupakan tantangan sekaligus panggilan bagi kita untuk merenungkan dan menarik secara lebih seksama makna dari seruan Santo Paulus, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kami telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah “ (Kol 3:15). Kata-kata Paulus ini seharusnya mendorong kita untuk terus menerus mengupayakan terwujudnya damai sejahtera, karena hanya dengan demikian kita memahami makna sejati Natal. Sebagai anak-anak Allah, sumber damai kita, kita harus mewujudkan komitmen Kristiani kita, yakni menjadi pembawa damai (bdk. Mat 5:9).
Saat ini kita sedang cemas. Persatuan kita sebagai bangsa Indonesia sedang terancam perpecahan. Keresahan dan kecemasan itu semakin terasa beberapa tahun belakangan ini. Ada pihak-pihak yang, entah secara samar-samar atau pun secara terang-terangan, tergoda untuk menempuh jalan dan cara yang berbeda dengan konsensus dasar kebangsaan kita, yaitu Pancasila.
Hal itu terlihat dalam banyak aksi dan peristiwa; dalam persaingan politik yang tidak sehat dan yang menghalalkan segala cara, dalam fanatisme yang sempit, bahkan yang tidak sungkan membawa-bawa serta agama dan kepercayaan, dan dalam banyak hal lain. Dengan demikian, hasrat bangsa kita untuk menciptakan damai sejahtera menjadi sulit terwujud.
Cita-cita luhur bangsa Indonesia, sebagaimana diungkapkan dalam Pembukaan UUD 1945, untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan damai sejahtera, bukan saja di antara kita, tetapi juga di dunia, masih perlu kita perjuangankan terus bersama-sama. Sistem dan mekanisme demokrasi masih perlu kita tata dan benahi terus agar mampu mewujudkan secara efektif cita-cita bersama kita. Tentu saja hal ini tidaklah mudah.
Sebagai elemen bangsa, yang adalah kawanan kecil, kita umat Kristiani tidak mampu menyelesaikan semua persoalan yang kita hadapi hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Inilah saatnya bagi kita untuk membiarkan damai Kristus memerintah dalam hati. Damai Kristus yang memerintah dalam hati kita, merupakan kekuatan yang mempersatukan dan merobohkan tembok pemisah:
“Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatuakn kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef 2:14). Hanya dengan damai Kristus yang menguasai hati kita, kita akan dimampukan untuk membuka diri, merangkul dan menyambut sesama anak bangsa dan bersama mereka merajut kesatuan dan melangkah bersama menuju masa depan yang semakin cerah.
Inspirasi dan kekuatan spiritual yang mendorong kita untuk mewujudkan kesatuan dan untuk sungguh-sungguh melibatkan diri dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia yang tercinta, kita timba dari Kabar Sukacita Yesaya:
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan kepada kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib,, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar Kekuasaan-Nya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan di dalam kerajaan_Nya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes 9:5-6).
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kita selalu mendambakan damai sejati, yang dilandaskan pada keadilan dan kebenaran. Isi kabar Sukacita Natal adalah kelahiran Sang Mesias, yang akan mengokohkan Kerajaan-Nya,  yaitu kerajaan keadilan dan kebenaran, di mana kita semua adalah warganya.
Sebagai warga Kerajaan itu kita ditantang untuk memperjuangkan kesatuan, persaudaraan, kebenaran dan keadilan serta damai sejahtera. Memperjuangkan keadilan, memperkecil jurang kaya dan miskin, memberantas korupsi, merobohkan tembok pemisah atas nama suku, agama, dan ras adalah mandat Injil yang mesti kita perjuangkan di bumi Indonesia ini.
Ketika kita sendiri berusaha memberikan kesaksian dalam usaha mewujudkan keadilan, kebenaran, damai sejahtera dan persaudaraan, tentu kita patut mawa diri. Mungkin kita masih menutup diri dalam kenyaamanan hidup menggereja, sehingga lali mewujudkan diri sebagai garam dan terang dunia. Mungkin kita sendiri masih enggan megulurkan tangan kasih dan persaudaraan kepada sesama anak bangsa, terutama kepada mereka yang kecil dan terpinggirkan.
Bukankah damai sejahtera hanya dapat terwujud ketika kita berhasil mengalahkan kepentingan diri demi kebaikan bersama? Bukankah Raja Damai yang lahir ke dunia menyadarkan kita bagaimana Dia telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil2:7)?
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Sebagai warga Kristiani, kita sendiri ditantang untuk tak henti-hentinya mewujudkan damai sejahtera, kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Karena itu, kita patut bersyukuy atas hasil kerja keras dari Komisi Gereja Lutheran dan Gereja Katolik untuk menggalang persatuan.
Selama 500 tahun, kita merajut kerukunan dan kehangatan persaudaraan di antara kita dengan jatuh bangun. Dari Juru Selamat, yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14;6), kita belajar untuk merendahkan diri  dan membuka diri satu sama  lain. Dalam semangat itulah, kita belajar mengulurkan kebaikan dan kasih kepada sesama. Kita belajar saling mengampuni dan memaafkan.
Jika ada kasih dan damai dalam hati kita masing-masing, kita akan bersukacita dan dapat bersama-sama mewujudkan komunitas ekumenis. Dengan bersatu sebagai umat Kristiani, kesaksikan kita tentang kerukunan dan persaudaraan kepada masyarakat majemuk di negeri ini lebih berarti dan meyakinkan.
Selain rukun dengan sesama, damai yang dibawa Sang Juru Selamat juga mengajak kita untuk berdamai dengan segenap ciptaan. Saat ini ciptaan menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya. Tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahhgunakan kekayaan yang ditanamkan Allah di dalamnya. Mewujudkan damai sejahtera dengan alam ciptaan berarti tanggung jawa memulihkan keutuhannya.
Selain itu, kita wajib mewujudkan keadilan dalam hidup bersama, karena  alam merupakan sumber hidup yang disediakan Tuhan bagi semua manusia, dan bahwa segala sesuatu bersatu dan tertuju kepada Kristus sebagai kepala (Kol 1:15-22). Dengan demikian, masih ada banyak yang perlu kita kerjakan untuk menciptakan kerukunan dan persaudaraaan, sementara di lain pihak kita patut bersyukur karena karya besar Tuhan yang kita alami bersama.
Semoga perayaan Natal mendorong dan menyemangati kita semua untuk belajar dan mengembangkan kemampuan  menerima  perbedaan dan mensyukurinya sebagai kekayaan kehidupan bersama kita di negeri ini.
Marilah kita menghidupi dan mengembangkan damai sejahtera yang merupakan anugerah dari Allah, dengan jalan merangkul sesama, merawat ciptaan serta memajukan kerukunan dan persaudaraan di antara kita. Hanya dengan demikian, kita dapat memberi kesaksian bahwa damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita.
Selamat Natal, Tuhan Memberkati.

Selasa, 24 Oktober 2017

JADWAL PAROKI

Sabtu, 28 Oktober 2017 Pukul 18.30 : Perayaan Ekaristi 

Minggu, 29 Oktober 2017 Pukul 18.30 : Perayaan Ekaristi (Misa Pagi Pukul 07.00 ditiadakan sehubungan dengan Ziarah Bulan Rosario se-Kevikepan Sultra (Daratan) di Paroki Roh Kudus, Unaaha)

Rabu, 1 Nopember 2017 Pukul 18.30 : Misa Hari Raya Semua Orang Kudus

Kamis, 2 Nopember 2017 Pukul 18.30 : Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

Jumat, 3 Nopember 2017 Pukul 18.30 : Misa Jumat Pertama Dalam Bulan

ZIARAH BULAN ROSARIO 2017

Ziarah sekaligus Hari Minggu Penutupan bulan Rosario se-Kevikepan Sultra (Daratan) akan diselenggarakan pada hari Minggu 29 Oktober 2017 di Paroki Roh Kudus Unaaha dengan jadwal:

Pukul 07.00 : Jalan Salib
Pukul 10.00 : Perayaan Ekaristi Penutupan Bulan Rosario

Diharapkan agar umat dapat berkumpul bersama-sama di Paroki Roh Kudus Unaaha

Senin, 16 Oktober 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI MINGGU MISI SEDUNIA KE 91 TAHUN 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS
UNTUK HARI MINGGU MISI SEDUNIA 2017

Misi di Jantung Hati Iman Kristiani


Saudari-saudara terkasih,
Sekali lagi tahun ini, Hari Minggu Misi Sedunia menyatukan kita bersama di sekeliling pribadi Yesus, “Penginjil pertama dan terbesar” (Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 7), yang terus menerus mengutus kita untuk mewartakan Injil cinta Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus. Hari Minggu Misi ini mengundang kita untuk merenungkan kembali misi di jantung hati iman Kristiani. Gereja pada hakikatnya bersifat misioner; jika tidak demikian, ia tidak lagi Gereja Kristus, tetapi satu kelompok di antara sekian banyak yang lain yang segera berakhir maksud tujuan pelayanannya dan kemudian mati. Untuk itu, pentinglah bertanya pada diri kita sendiri tentang identitas iman Kristiani dan tanggung jawab kita sebagai umat beriman di dunia yang ditandai oleh kebingungan, ketidakpuasan dan frustrasi, serta tangisan karena banyaknya perang saudara yang menyasar orang-orang tidak berdosa secara tidak adil. Apa dasar misi kita? Apa pokok misi kita? Cara-cara seperti apa yang dibutuhkan untuk menjalankan misi kita?
Misi dan daya pembaruan Injil Kristus, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup
1. Misi Gereja, yang ditujukan kepada semua pria dan wanita yang berkehendak baik, didasarkan pada daya pembaruan Injil. Injil adalah Kabar Baik yang dipenuhi dengan sukacita yang mudah menjalar, karena memuat dan memberikan hidup baru: hidup Kristus yang bangkit yang, dengan mencurahkan Roh-Nya, menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup bagi kita (bdk. Yoh 14:6). Dia adalah Jalan yang mengundang kita untuk mengikuti-Nya dengan keyakinan dan keberanian. Sepanjang mengikuti Yesus sebagai Jalan, kita mengalami Kebenaran dan menerima Hidup-Nya, yang merupakan kepenuhan kesatuan dengan Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus. Hidup itu membebaskan kita dari segala bentuk keegoisan, dan merupakan sumber daya cipta dalam cinta.
2. Allah Bapa menghendaki pembaruan eksistensial dari anak-anak-Nya, sebuah pembaruan yang menemukan ungkapannya dalam penyembahan dalam roh dan kebenaran (bdk. Yoh 4:23-24), melalui hidup yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam menyerupai Yesus Sang Putera kepada kemuliaan Allah Bapa. “Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup” (Irenaeus, Adversus HaeresesIV, 20, 7). Pewartaan Injil dengan demikian menjadi kata yang vital dan berdaya guna yang mengerjakan apa yang diwartakannya (bdk. Yes 55:10-11): Yesus Kristus, yang menjadi daging di setiap situasi kemanusiaan (bdk. Yoh 1:14).
Misi dan kairos Kristus
3. Misi Gereja bukan untuk menyebarluaskan ideologi religius, apalagi mengajukan suatu ajaran etis yang tinggi. Banyak gerakan di belahan dunia ini memberikan inspirasi cita-cita yang tinggi atau cara-cara untuk menghayati hidup yang bermakna. Melalui misi Gereja, Yesus Kristus sendiri terus menerus  berevangelisasi dan bertindak; misinya dalam perjalanan sejarah menghadirkan kairos, waktu keselamatan yang tepat. Melalui pewartaan Injil, Yesus yang bangkit menjadi orang sejaman kita, sehingga orang-orang yang menerima-Nya dengan iman dan cinta dapat mengalami daya pembaruan Roh-Nya, yang membuat umat manusia dan seluruh ciptaan berbuah limpah, bahkan seperti hujan yang mengairi bumi. “Kebangkitan Kristus bukanlah suatu peristiwa masa lampau; peristiwa itu mengandung kekuatan vital yang telah meresapi dunia ini. Di mana segalanya tampak mati, tanda-tanda kebangkitan tiba-tiba muncul. Ini adalah daya kekuatan yang tidak dapat ditolak” (Evangelii Gaudium, 276).
4. Jangan pernah lupa bahwa “menjadi Kristiani bukan hasil dari sebuah pilihan etis atau gagasan luhur, tetapi perjumpaan dengan suatu peristiwa, seorang Pribadi, yang memberi kehidupan suatu cakrawala baru dan arah yang menentukan” (Benediktus XVI, Deus Caritas Est, 1). Injil adalah Pribadi yang terus menerus memberikan diri-Nya dan mengundang mereka yang menerima-Nya dengan iman dan kerendahan hati untuk membagikan hidup-Nya dengan ikut ambil bagian secara efektif dalam misteri Paskah wafat dan kebangkitan-Nya. Melalui Pembaptisan, Injil menjadi sumber hidup baru, pembebasan dari kuasa dosa, diterangi dan dibarui oleh Roh Kudus. Melalui Penguatan, Injil menjadi urapan yang menguatkan yang, melalui Roh yang sama, menunjukkan cara-cara dan strategi-strategi untuk kesaksian dan penyertaan. Melalui Ekaristi, Injil menjadi santapan bagi kehidupan baru, suatu “obat keabadian” (Ignatius dari Antiokhia, Ad Ephesios, 20, 2).
5. Dunia sangat membutuhkan Injil Yesus Kristus. Melalui Gereja, Kristus melanjutkan misi-Nya sebagai Orang Samaria yang baik hati, merawat luka-luka umat manusia yang berlumur darah, dan sebagai Gembala yang baik, terus-menerus mencari mereka yang berjalan di sepanjang jalan yang berliku-liku dan tak menentu. Syukur kepada Allah, banyak pengalaman bermakna terus memberikan kesaksian akan daya pembaruan Injil. Saya memikirkan tindakan murid Dinka yang memberikan nyawanya sendiri untuk melindungi seorang pelajar yang akan dibunuh dari kelompok musuh suku Nuer. Saya memikirkan perayaan Ekaristi di Kitgum, di Uganda Utara, di mana, setelah pembantaian brutal oleh sekelompok pemberontak, seorang misionaris membuat orang-orang mengulangi kata-kata Yesus di salib: “Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” sebagai ungkapan jeritan putus asa dari para saudari dan saudara Tuhan yang tersalib. Bagi umat tersebut, perayaan itu adalah sumber penghiburan dan keberanian yang luar biasa. Kita dapat memikirkan juga begitu banyak kesaksian iman yang tak terhitung jumlahnya tentang bagaimana Injil membantu mengatasi kesesakan, konflik, rasisme, kesukuan, dan mempromosikan perdamaian, persaudaraan dan tindakan berbagi di mana-mana dan di antara semua orang.
Misi mengilhami spiritualitas eksodus, peziarahan, dan pengasingan terus-menerus
6. Misi Gereja disemarakkan oleh spiritualitas eksodus yang terus-menerus. Kita diminta “untuk pergi keluar dari zona nyaman kita sendiri untuk menjangkau semua ‘pinggiran’ yang membutuhkan terang Injil” (Evangelii Gaudium, 20). Misi Gereja mendorong kita untuk melakukan peziarahan terus-menerus melintasi berbagai padang gurun kehidupan, melewati beragam pengalaman lapar dan haus akan kebenaran dan keadilan. Misi Gereja mengantar pada rasa keterasingan terus-menerus, untuk menyadarkan kita, dalam kehausan akan yang tidak terbatas, bahwa kita adalah orang-orang terasing yang sedang berjalan menuju rumah kediaman akhir kita, yang berada pada tegangan Kerajaan Surga antara “sudah” dan “belum”.
7. Misi mengingatkan Gereja bahwa ia bukanlah akhir dari dirinya sendiri, tetapi merupakan alat dan perantara sahaja dari Kerajaan Allah. Gereja yang mengarah pada dirinya sendiri, dengan ukuran kesuksesan duniawi, bukan lah Gereja Kristus, Tubuh-Nya yang tersalib dan mulia. Itulah mengapa kita seharusnya lebih menyukai “Gereja yang memar, terluka dan kotor karena pergi keluar ke jalan-jalan, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” (Evangelii Gaudium, 49).
Kaum muda, harapan misi
8. Kaum muda adalah harapan misi. Pribadi Yesus Kristus dan Kabar Baik-Nya yang ia wartakan terus-menerus menarik banyak kaum muda. Mereka mencari cara-cara untuk menempatkan diri mereka sendiri dengan keberanian dan antusiasme pada pelayanan kemanusiaan.  “Ada demikian banyak kaum muda yang memberikan bantuan dalam solidaritas untuk menghadapi masalah-masalah dunia dan melakukan berbagai bentuk kegiatan dan kerja sukarela... Betapa indahnya menyaksikan bahwa kaum muda adalah ‘pengkhotbah-pengkhotbah jalanan’, yang dengan sukacita membawa Yesus ke setiap jalan, setiap lapangan kota dan setiap sudut dunia!” (Evangelii Gaudium, 106). Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup yang akan diselenggarakan pada tahun 2018 dengan tema “Kaum Muda, Iman dan Kearifan Panggilan”, menyediakan kesempatan istimewa untuk melibatkan kaum muda dalam tanggung jawab misioner yang membutuhkan kekayaan daya imaginasi dan kreativitas mereka.
Pelayanan Serikat-serikat Karya Kepausan
9. Serikat-serikat Karya Kepausan adalah sarana berharga bagi setiap komunitas Kristiani untuk membangkitkan kesadaran dan hasrat melintasi batas dan kenyamanan diri sendiri untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa. Dalam diri serikat-serikat ini, berkat spiritualitas misioner yang mendalam, yang dipupuk setiap hari, dan berkat komitmen misioner yang teguh untuk membangkitkan kesadaran dan antusiasme misioner, kaum muda, dewasa, keluarga, imam, uskup serta kaum religius pria dan wanita bekerja untuk mengembangkan jiwa misioner dalam diri setiap orang. Hari Minggu Misi Sedunia, yang dipromosikan oleh Serikat Kepausan Pengembangan Iman, merupakan kesempatan bagus untuk memampukan jiwa misioner komunitas-komunitas Kristiani untuk kerjasama dalam doa, kesaksian hidup dan pengumpulan derma, dalam tanggung jawab pada kebutuhan evangelisasi yang luas serta penting dan mendesak
Menjalankan misi bersama Maria, Bunda Evangelisasi
10. Saudari-saudara terkasih, untuk menjalankan misi, marilah kita meneladan Maria, Bunda Evangelisasi. Dia digerakkan oleh Roh Kudus, menyambut Sang Sabda Kehidupan dalam kedalaman imannya yang bersahaja. Semoga Perawan Maria membantu kita untuk mengatakan “YA”, dengan sadar akan mendesaknya menggemakan Kabar Baik Yesus di zaman kita ini. Semoga Bunda Maria memberikan semangat baru untuk membawa kepada setiap orang Kabar Baik kehidupan yang menang atas kematian. Semoga melalui pengantaraannya, kita dapat memperoleh keberanian suci yang diperlukan untuk menemukan cara-cara baru membawa karunia keselamatan kepada semua orang pria dan wanita.


Vatikan, 4 Juni 2017
Hari Raya Pentakosta

Rabu, 27 September 2017

JADWAL USKUP AGUNG MAKASSAR

Kamis, 28 September 2017
Pukul 19.00: Sarasehan bersama pengurus Dewan Pastoral

Jumat, 29 September 2017 
Pukul 17.00: Misa Krisma di Gereja Paroki

Sabtu, 30 September 2017
Pukul 09.00: Kunjungan kerja di Stasi Anduonohu

Minggu, 1 Oktober 2017
Pukul 07.00: Misa Pelantikan P. Daud La Bolo Pr sebagai Pastor Paroki menggantikan P. Herman S. Panggalo Pr