Search by Google

PROMOSI

Minggu, 17 Agustus 2014

SUSUNAN DEWAN STASI SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA ANDUONOHU – POASIA MASA BAKTI AGUSTUS 2014 – AGUSTUS 2018

DEWAN HARIAN
Ketua : Victorianus Tikno Sarwoko
Wakil Ketua : Antonius Tonny Sutedja
Sekretaris : Simon La Sarudi
Bendahara : Martha Rissing

SEKSI-SEKSI
BIDANG PEWARTAAN
Seksi Liturgi dan Katekese
1. Antonius Budi Utomo
2. Leonardus Nabe
3. Alexius Jimpeo
4. Johanes Tato
5. Yeni Alexander




BIDANG PEMBINAAN
1. Seksi Kerasulan Keluarga dan Kaum Ibu Katolik
1. Maria Goretti Indri Dwisetianti
2. Yunita Yuli Salosso
3. Dina Ada

2. Seksi Kepemudaan
1. Christoporus Malli
2. Frans Oktavianus Djo
3. Tiberius Melki Sado
4. Anselmus Willy

3. Seksi Sekami
1. Windy Sau Galla
2. Flaviana Restin Sado
3. Ana Devita Sari
4. Claudia Harkesenia

BIDANG SOSIAL
1. Seksi Pelayanan Sosial Ekonomi
1. Bartolomeus Paseno
2. Imelda Seru
3. Yohanes Massora
4. Bate’ Suppa Tandibayang

2. Seksi Pengembangan, Dana dan APP
1. Vicky Mintarja
2. Yunus Sibau
3. Yan Leroux Sare
4. Agnes Besse Simon

BIDANG SARANA-PRASARANA PASTORAL
Seksi Sarana – Prasarana Pastoral
1. Antonius Agung Setyawan
2. Robertus Ruppang
3. Marcelinus Randy Pasudi
4. Pardingat Tamba


PENGURUS RUKUN STASI SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA ANDUONOHU
MASA BAKTI AGUSTUS 2014 – AGUSTUS 2018

RUKUN SANTO MIKAEL
1. Ketua                       : Leonardus Nabe
2. Sekretaris                : Windy Sau’ Galla
3. Bendahara I            : Christina Dian Pancawati
4. Bendahara II           : Hermin Pasanderan

RUKUN SANTO YOSEP PEKERJA
1. Ketua                       : Alexander Siboro
2. Sekretaris                : Yunita Yuli Salosso
3. Bendahara             : Anastasia Nina

RUKUN SANTA MARIA TAK BERNODA
1. Ketua                       : Yane Paternus Yunus
2. Sekretaris                : Agnes Besse Simon
3. Bendahara              : Agustina Sado

Minggu, 22 Juni 2014

JADWAL MISA MINGGU INI

Selasa 24 Juni 2014 Pukul 18.30: Perayaan Ekaristi Hari Raya Kelahiran Santo Yohannes Pembaptis

PENERIMAAN KOMUNI PERTAMA 2014

Pada hari Minggu 22 Juni 2014 yang bertepatan dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, telah berlangsung penerimaan komuni perta kepada 37 anak (lihat daftar lengkapnya disini). Perayaan Ekaristi yang dimulai pada pukul 08.00 dan dipimpin langsung oleh P. Marthin Solon Pr, pastor paroki, berlangsung dengan semarak. Dalam homilinya, P. Marthin Solon memerikan pesan kepada para anak-anak yang hari itu akan menerima komuni pertama mereka bahwa ada tiga hal untuk menjawab ‘siapakah saya’ yakni, dari pakaian (seragam), makanan dan kemana. Dari pakaian seragam jika putih merah hati berarti masih SD, putih biru adalah SMP dan putih abu-abu sudah di SMA. Dari makanan, dengan menerimakan Tubuh dan Darah Kristus sebagai seorang Kristiani dan setiap hari minggu ke gereja sebagai kewajiban seorang Kristen.

Dalam perayaan tersebut juga telah dilaksanakan pelantikan Koster Gereja Sadohoa, dimana berdasarkan SK 0106/III.12.2/2014, bapak ANTONIUS NYOMAN SUADNYA telah diangkat menjadi Koster baru gereja Sadohoa sekaligus penerimaan kunci gedung gereja.


Setelah perayaan Ekaristi, berlanjut dengan ramah tamah di aula gereja yang dihadiri oleh seluruh anak-anak yang telah menerima komuni pertama, para orang tua dan umat paroki. Foto-foto dapat dilihat disini. Proficiat untuk anak-anak yang telah menerima komuni pertama mereka.

DAFTAR PENERIMA KOMUNI PERTAMA 2014

Para penerima Komuni Pertama pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu 22 Juni 2014

1.    Yuvita Mariana (Sadohoa)
2.    Antonius Ronaldo (Unaaha)
3.    Elza Tombowo (Sadohoa)
4.    Arsenius Reinhart Suroso (Sadohoa)
5.    Karvilius Dodi (Kloangrotat)
6.    Maria Yemilia Konsolata (Kloangrotat)
7.    Calistus Caravario Nara (Sadohoa)
8.    Valentino Jonathan Reinhard (Sadohoa)
9.    Gregorius Nicholas Theodore (Sadohoa)
10. Aurelia Chrysilia Kusuma Jaya (Sadohoa)
11. Cyrillus Fidel Jonathan Kontarya (Sadohoa)
12. Hernandes Adriano M’bata (Mandonga)
13. Aryoa Steven Saputra (Sadohoa)
14. Brigitta Fidelya Lontana (Sadohoa)
15. Emanuel Bella Gobang (Sadohoa)
16. Antonius Pentura Tebu (Sadohoa)
17. Maria Magdalena Adriana Fitrizki Siri (Mariso)
18. Theodore Roesevelt Titamena (Sadohoa)
19. Albertus Reynhard Dharmawan (Gotong-Gotong)
20. Ishak Dean Salim (Gotong-Gotong)
21. Agatha Christie Bunggulawa (Sadohoa)
22. Maria Resky Selfira (Mandonga)
23. Maria Valencia Cassandra Widjaja (Sadohoa)
24. Desmond Axel Osbert Pandean (Sadohoa)
25. Stefanus Adi Lee (Sadohoa)
26. Fransiscus Nelxon (Denpasar)
27. Elia Gading (Sadohoa)
28. Fransisca Stiofany (Sadohoa)
29. Christian Ferreri Hortalanus (Sampit)
30. Diana Defourtuna (Sadohoa)
31. Theresia Resky Pananungan (Sadohoa)
32. Andika Tiara Natalia Kris Biantoro (Raha)
33. Adolfina Tiwe (Loah Berah)
34. Stefania Tandi Allo (Sadohoa)
35. Puput (Sadohoa)
36. Eugenia Putri Andini Tarang (Sadohoa)
37. Stivan Apriyanto Thetrawan (Sadohoa)

Proficiat!

Kamis, 29 Mei 2014

Surat Gembala KWI Menyambut Pemilihan Presiden 9 Juli 2014

PILIHLAH SECARA BERTANGGUNGJAWAB,
BERLANDASKAN SUARA HATI

Segenap Umat Katolik Indonesia yang terkasih,
Kita bersyukur karena salah satu tahap penting dalam Pemilihan Umum 2014 yaitu pemilihan anggota legislatif telah selesai dengan aman. Kita akan memasuki tahap berikutnya yang sangat penting dan menentukan perjalanan bangsa kita ke depan. Pada tanggal 9 Juli 2014 kita akan kembali memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin bangsa kita selama lima tahun ke depan. Marilah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini kita jadikan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi kita untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta kita agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa kita.
Ke depan bangsa kita akan menghadapi tantangan-tantangan berat yang harus diatasi di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, misalnya  masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial, pendidikan, pengangguran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Masalah dan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup dan upaya untuk mengembangkan sikap toleran,  inklusif dan plural demi terciptanya suasana rukun dan damai dalam masyarakat. Tantangan-tantangan yang berat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga dan tanpa henti. Kita semua berharap semoga di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih, bangsa Indonesia mampu menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah itu.
Kami mendorong agar pada saat pemilihan mendatang umat memilih sosok yang mempunyai integritas moral. Kita perlu mengetahui rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden, khususnya mengamati apakah mereka sungguh-sungguh mempunyai watak pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja: menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung. Kita sungguh mengharapkan pemimpin yang gigih memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu kenalilah sungguh-sungguh para calon sebelum menjatuhkan pilihan.
Agar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa berjalan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia serta berkualitas, kita harus mau terlibat. Oleh karena itu kalau saudara dan saudari memiliki kesempatan dan kemampuan, sungguh mulia jika Anda bersedia ikut menjaga agar tidak terjadi kecurangan pada tahap-tahap pemilihan. Hal ini perlu kita lakukan melulu sebagai wujud tanggungjawab kita, bukan karena tidak percaya kepada kinerja penyelenggara Pemilu.
Kami juga menghimbau agar umat katolik yang terlibat dalam kampanye mengusahakan agar kampanye berjalan dengan santun dan beretika, tidak menggunakan kampanye hitam dan tidak menggunakan isu-isu  SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Khususnya kami berharap agar media massa menjalankan jurnalisme damai dan berimbang. Pemberitaan media massa hendaknya mendukung terciptanya damai, kerukunan serta persaudaraan, mencerdaskan dan tidak melakukan penyesatan terhadap publik, sebaliknya menjadi corong kebaikan dan kebenaran.
Marilah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihan dengan hati dan pikiran yang jernih. Konferensi Waligereja Indonesia menyerukan agar saudara-saudari menggunakan hak untuk memilih dan jangan tidak ikut memilih. Hendaknya pilihan Anda tidak dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya. Sikap demikian merupakan perwujudan ajaran Gereja yang menyatakan, “Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum” (Gaudium et Spes 75).
Pada akhirnya, marilah kita dukung dan kita berikan loyalitas kita kepada siapa pun yang akan terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019. Segala perbedaan pendapat dan pilihan politik, hendaknya berhenti saat Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada bulan Oktober 2014. Kita menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, menjadi seratus prosen Katolik dan seratus prosen Indonesia, karena kita adalah bagian sepenuhnya dari bangsa kita, yang ingin menyatu dalam kegembiraan dan harapan, dalam keprihatinan dan kecemasan bangsa kita (bdk. Gaudium et Spes 1).
Marilah kita mengiringi proses pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dengan memohon berkat dari Tuhan, agar semua berlangsung dengan damai serta berkualitas dan dengan demikian terpilihlah pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia. Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.
Jakarta, 26 Mei 2014
P R E S I D I U M  KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,

Mgr. Ignatius Suharyo – K e t u aMgr. Johanes Pujasumarta – Sekretaris Jenderal

PESAN SRI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-48

PESAN SRI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-48
1 Juni 2014
Saudara-saudari terkasih,
Dewasa ini kita hidup dalam suatu dunia yang tumbuh semakin “kecil” dan di mana, sebagai hasilnya, nampaknya lebih mudah bagi kita sekalian untuk menjadi sesama. Perkembangan dalam teknologi perjalanan dan komunikasi lebih mendekatkan kita bersama dan membuat kita lebih terhubungkan, karena globalisasi semakin membuat kita saling bergantung. Biarpun demikian, pemisahan-pemisahan, yang seringkali demikian mendalam, terus menerus hadir dalam keluarga manusiawi. Pada tataran global kita melihat suatu kesenjangan yang mencengangkan antara kelimpahan kaum kaya raya dan keterbuangan yang menganga dari kaum miskin. Kita hanya perlu menjalani jalan-jalan dari sebuah kota untuk melihat perbedaan antara orang-orang yang hidup di jalanan dan cahaya yang berkilauan dari jendela-jendela kawasan perdagangan. Kita sudah menjadi biasa dengan hal-hal ini, sehingga tidak lagi mengusik kita. Dunia kita menderita banyak bentuk dari pengasingan, keterpinggiran dan kemiskinan, tanpa mengutarakan perselisihan-perselisihan yang muncul dari suatu kombinasi dari alasan-alasan ekonomi, politik dan ideologi, serta sayangnya, juga agamawi.
Dalam sebuah dunia seperti ini, media dapat membantu kita untuk merasa lebih dekat satu sama lain, dengan menciptakan suatu makna persatuan dari keluarga manusiawi yang pada gilirannya dapat mengilhami solidaritas dan upaya-upaya serius untuk menjamin suatu hidup yang lebih bermartabat bagi semua orang. Komunikasi yang baik membantu kita tumbuh lebih dekat, saling mengenal lebih baik, dan akhirnya, berkembang dalam persatuan. Tembok-tembok yang memisahkan kita, hanya dapat diruntuhkan jika kita bersedia untuk mendengarkan dan belajar satu sama lain. Kita perlu menyelesaikan perbedaan-perbedaan melalui bentuk-bentuk dialog yang membantu kita berkembang dalam sikap saling memahami dan menghargai . Suatu budaya perjumpaan menuntut bahwa kita tidak saja siap sedia untuk memberi, tetapi juga menerima. Media dapat sangat membantu kita dalam hal ini, terutama dewasa ini, sewaktu jejaring komunikasi manusiawi mengalami kemajuan yang tak terkirakan. Internet khususnya mempersembahkan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas bagi perjumpaan dan solidaritas. Ini adalah sesuatu yang sejatinya baik, suatu pemberian dari Allah.
Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa persoalan-persoalan tertentu tidak ada. Kecepatan penyampaian informasi melampaui kemampuan kita untuk berefleksi dan menilai, dan hal ini tidak membuat bentuk-bentuk yang tepat dan lebih seimbang untuk mengungkapkan diri. Keragaman pendapat yang tertayangkan dapat dipandang sebagai sesuatu yang membantu, tetapi juga membuka kemungkinan bagi orang untuk membentengi dirinya sendiri di balik sumber-sumber informasi yang hanya memperkuat keinginan-keinginan dan cita-cita, atau kepentingan politik dan ekonomi sendiri. Dunia komunikasi dapat membantu kita entah memperluas pengetahuan kita atau menjadikan kita tersesat. Keinginan akan keterhubungan digital dapat membawa dampak yang mengasingkan kita dari sesama kita, dari mereka yang paling dekat dengan kita. Kita tidak seharusnya menyepelekan kenyataan bahwa mereka yang atas alasan apapun kehilangan akses pada media sosial, berada dalam bahaya tertinggal.
Biarpun kelemahan-kelemahan ini memang nyata, mereka tidak membenarkan untuk menolak media sosial; sebaliknya, mereka mengingatkan kita bahwa komunikasi pada akhirnya berwatak manusiawi lebih daripada pencapaian teknologis. Jadi, apa yang membantu kita dalam lingkungan digital untuk berkembang dalam kemanusiaan dan sikap saling memahami? Kita perlu misalnya untuk menemukan kembali suatu makna tertentu dari kebebasan dan ketenangan. Hal ini meminta waktu dan tenaga untuk berdiam diri dan mendengarkan. Kita juga perlu bersabar jika kita ingin memahami mereka yang berbeda dengan kita. Orang hanya mengungkapkan diri sepenuhnya sewaktu mereka tidak hanya menemukan tenggang rasa, tetapi tahu bahwa mereka benar-benar diterima. Jika kita benar-benar peka mendengarkan orang lain, kita akan belajar untuk memandang dunia dengan mata berbeda dan siap menghargai kekayaan pengalaman manusiawi, sebagaimana terungkap dalam budaya-budaya dan tradisi-tradisi yang berbeda. Kita juga akan belajar untuk menghargai lebih penuh nilai-nilai utama yang diilhami oleh Kristianitas, seperti pandangan tentang pribadi manusia, kodrat perkawinan dan keluarga, pembedaan yang benar antara lingkup agamawi dan politik, prinsip-prinsip solidaritas dan subsidiaritas, dan banyak lagi hal lain.
Bagaimana komunikasi dapat hadir demi suatu budaya sejati dari perjumpaan? Apa artinya bagi kita, sebagai murid-murid Tuhan, berjumpa dengan orang lain dalam terang Injil? Meskipun keterbatasan-keterbatasan dan kedosaan kita, bagaimana kita sesungguhnya menjadi dekat satu sama lain? Pertanyaan-pertanyaan ini tersimpulkan dalam apa yang seorang ahli kitab – seorang komunikator - pernah mempertanyakan kepada Yesus: “Dan siapakah sesama-ku?” (Lk 10:29). Pertanyaan ini dapat membantu kita untuk melihat komunikasi dalam istilah “kesesamaan”. Mungkin kita dapat mengkalimatkannya sebagai berikut: Bagaimana kita dapat menjadi “sesama” dalam penggunaan media komunikasi dan dalam lingkungan baru yang diciptakan oleh teknologi digital? Saya menemukan suatu jawaban dalam perumpamaan Orang Samaria yang baik, yang juga merupakan sebuah perumpamaan tentang komunikasi. Orang-orang yang mengadakan komunikasi, nyatanya, menjadi sesama. Orang Samaria yang baik tidak hanya lebih mendekatkan orang yang ia temukan setengah mati di pinggir jalan; dia mengambil tanggungjawab baginya. Yesus mengalihkan pemahaman kita: itu bukan saja perihal memandang orang lain sebagai seseorang seperti diri saya sendiri, tetapi kemampuan untuk membuat diri saya seperti orang lain. Komunikasi sesungguhnya menyangkut kesadaran bahwa kita sekalian adalah makhluk manusiawi, anak-anak Allah. Saya ingin memandang kemampuan komunikasi sebagai “kesesamaan”.
Manakalah komunikasi pertama-tama bertujuan untuk memajukan konsumsi atau memanipulasi orang-orang lain, kita berhadapan dengan suatu bentuk penyerangan yang kejam seperti apa yang diderita oleh orang dalam perumpamaan itu, yang dipukuli oleh perampok dan ditinggalkan di jalan. Orang Levi dan imam tidak memandang dia sebagai seorang sesama, tetapi sebagai seorang asing yang tidak boleh dijamah. Dalam masa itu, peraturan dari kemurnian ritual yang mengkondisikan jawaban mereka. Dewasa ini terdapat seorang asing yang media tertentu mengkondisikan jawaban-jawaban kita, sehingga kita gagal memandang sesama kita yang sebenarnya.
Tidaklah cukup untuk lalu lalang dalam jalan bebas hambatan digital, asalkan “terhubungkan”; keterhubungan perlu berkembang menjadi rekan-rekan perjumpaan yang sejati. Kita tidak dapat hidup terpisah, tertutup dalam diri kita sendiri. Kita perlu mencintai dan dicintai. Kita perlu kelembutan. Strategi-strategi media tidak menjamin kecantikan, kebaikan dan kebenaran dalam komunikasi. Dunia media juga harus peduli akan kemanusiaan; media juga dipanggil untuk menunjukkan kelembutan. Dunia digital dapat menjadi suatu lingkungan yang kaya dalam kemanusiaan; suatu jejaring bukanlah untaian kabel-kabel, tetapi hubungan orang-orang. Ketidak-berpihakan media hanyalah suatu penampilan; hanya orang-orang yang keluar dari dirinya sendiri dalam komunikasi dapat menjadi titik rujukan yang benar bagi orang-orang lain. Keterlibatan pribadi adalah dasar dari kepercayaan dari seorang komunikator. Kesaksian Kristiani, terima kasih atas internet, olehnya dapat mencapai kawasan pinggiran dari keberadaan manusiawi.
Sebagaimana saya sering mengamati, jika suatu pilihan harus dilakukan antara sebuah gereja memar yang pergi keluar ke jalan-jalan dan sebuah gereja yang menderita karena kepuasan diri, maka pasti saya lebih menyukai yang pertama. “Jalan-jalan” itu adalah dunia di mana orang-orang hidup dan di mana mereka dapat dijumpai, baik secara efektif maupun secara afektif. Jalan bebas hambatan digital adalah salah satunya, sebuah jalan yang digandrungi oleh orang-orang yang sering terlukai, laki-laki dan perempuan, yang mencari keselamatan atau pengharapan. Dengan sarana internet, pesan Kristiani dapat menjangkau “sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Dengan menjaga pintu-pintu gereja-gereja terbuka juga berarti menjaganya terbuka dalam lingkungan digital, sehingga orang-orang, apapun keadaan hidupnya, dapat masuk, dan demikian Injil dapat pergi menjumpai setiap orang. Kita dipanggil untuk menunjukkan bahwa Gereja adalah rumah semua orang. Apakah kita mampu menayangkan gambaran dari sebuah Gereja demikian? Komunikasi adalah suatu sarana untuk mengungkapkan panggilan misioner dari seluruh Gereja; dewasa ini jejaring sosial adalah salah satu jalan untuk mengalami panggilan ini guna menemukan kembali keindahan dari iman, kecantikan perjumpaan dengan Kristus. Dalam lingkup komunikasi juga, kita perlu sebuah Gereja yang mampu membawa kehangatan dan menggerakkan hati.
Kesaksian Kristiani yang efektif bukanlah tentang mencekoki orang-orang dengan pesan-pesan agamawi, tetapi tentang kerelaan kita untuk siap sedia bagi orang-orang lain “dengan menanggapi secara sabar dan penuh hormat pertanyaan-pertanyaan dan keragu-raguan yang mereka ajukan guna mencari kebenaran dan makna keberadaan manusiawi” (Benediktus XVI, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-47, 2013). Kita cukup mengingat kembali kisah murid-murid dalam perjalanan ke Emmaus. Kita harus mampu berdialog dengan laki-laki dan perempuan semasa, untuk memahami kecemasan, keraguan dan pengharapan mereka, dan memperkenalkan Injil, Yesus Kristus sendiri, Allah yang menjelma, yang wafat dan bangkit untuk membebaskan kita dari dosa dan kematian. Kita ditantang untuk menjadi orang-orang berkerohanian, peka terhadap apa yang terjadi sekitar kita dan siap sedia secara rohaniah. Berdialog berarti percaya bahwa “orang lain” mempunyai sesuatu yang pantas disampaikan, dan menyenangi pandangan dan perspektifnya. Dengan melibatkan dalam dialog tidak berarti mengesampingkan ide-ide dan tradisi-tradisi kita sendiri, tetapi menampik pendakuan bahwa hanya milik kita yang sah atau mutlak. Semoga gambaran Orang Samaria yang baik yang peduli akan luka-luka dari orang itu dengan menuangkan minyak dan anggur atasnya menjadi inspirasi kita. Biarlah komunikasi kita menjadi sebuah balsam yang meringankan rasa sakit dan anggur enak yang meriangkan hati. Semoga terang yang kita bawa kepada orang-orang lain tidak merupakan buah hasil kosmetik atau akibat-akibat khusus, tetapi “kasih dan belaskasih “bersesama” kita akan mereka yang terluka dan ditinggalkan di tepi jalan. Biarlah kita dengan berani menjadi warga dari dunia digital. Gereja perlu menjadi peduli dan hadir dalam dunia komunikasi, agar berdialog dengan orang-orang semasa dan membantu mereka berjumpa dengan Kristus. Dia perlu menjadi sebuah Gereja yang berpihak pada orang-orang lain, mampu menemani siapa saja sepanjang jalan. Revolusi yang terjadi dalam media komunikasi dan dalam teknologi informasi menghadirkan suatu tantangan yang besar dan mendebarkan hati; semoga kita menanggapi tantangan itu dengan tenaga dan imaginasi yang segar, sewaktu kita berupaya untuk berbagi kecantikan Allah bersama orang-orang lain.
Vatikan, 24 januari 2014, Pesta St. Fransiskus dari Sales.
PAUS FRANSISKUS
*) alihbahasa oleh Mgr. Petrus Turang (Uskup Keuskupan Agung Kupang)

Kamis, 01 Mei 2014

SAFARI BULAN MARIA & LITURGI NASIONAL 2014

Kamis, 1 Mei 2014 Pukul 18.30
DOA ROSARIO dan MISA Pembukaan Bulan Maria & Liturgi Nasional di Gereja Pusat

Minggu, 4 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes.
Petugas dan Koor : Rukun Santo Yohanes Pembaptis

Senin, 5 Mei 2014 Pukul 08.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Tanea

Selasa, 6 Mei 2014 Pukul 09.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Moramo

Rabu, 7 Mei 2014 Pukul 18.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Punggaluku

Jumat, 9 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi DKB 1

Minggu, 11 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes
Petugas dan Koor: Rukun Santa Monika

Minggu, 11 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Lapoa

Minggu, 18 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes
Petugas dan Koor: Rukun Regna Rosari

Selasa, 20 Mei 2014 Pukul 09.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi SP 1

Selasa, 20 Mei 2014 Pukul 16.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Rumbia

Rabu, 21 Mei 2014 Pukul 17.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi DKB 5

Kamis, 22 Mei 2014 Pukul 09.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Baito

Minggu, 25 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes
Petugas dan Koor: Rukun Santo Stefanus


Rabu, 28 Mei 2014: ZIARAH di DKB 1
Pagi – Sore : Acara Khusus OMK dan REFRANXA
Pukul 18.30 – Selesai : Pawai Lilin, Pendalaman Iman, Nonton Bareng

Kamis, 29 Mei 2014
Pukul 07.00 – Selesai : Jalan Salib, Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan

Sabtu, 31 Mei 2014 Pukul 18.30
DOA ROSARIO dan MISA Penutupan Bulan Maria & Liturgi Nasional di Gereja Pusat

CATATAN:
Susunan AcaraPendalaman Iman selama Bulan Maria & Liturgi Nasional:
-       Tentang Liturgi
-       Tendang Bunda Maria
-       Doa Litani Santa Perawan Maria (PS 214)

Sepanjang Bulan Maria ini sangat diharapkan agar Stasi dan Rukun menjadwalkan Doa Rosario Bersama.


Untuk ZIARAH DKB 1 pada hari Rabu – Kamis, 28 – 29 Mei 2014, sangat diharapkan kehadiran seluruh umat. Untuk itu, para pengurus Stasi dan Rukun dapat sesegera mungkin untuk mengkoordinir umatnya masing-masing.