Search by Google
PROMOSI
Minggu, 22 Juni 2014
JADWAL MISA MINGGU INI
Selasa 24 Juni 2014 Pukul 18.30: Perayaan Ekaristi Hari Raya Kelahiran Santo Yohannes Pembaptis
PENERIMAAN KOMUNI PERTAMA 2014
Pada hari Minggu 22 Juni 2014 yang bertepatan dengan Hari
Raya Tubuh dan Darah Kristus, telah berlangsung penerimaan komuni perta kepada
37 anak (lihat daftar lengkapnya disini).
Perayaan Ekaristi yang dimulai pada pukul 08.00 dan dipimpin langsung oleh P.
Marthin Solon Pr, pastor paroki, berlangsung dengan semarak. Dalam homilinya, P.
Marthin Solon memerikan pesan kepada para anak-anak yang hari itu akan menerima
komuni pertama mereka bahwa ada tiga hal untuk menjawab ‘siapakah saya’ yakni,
dari pakaian (seragam), makanan dan kemana. Dari pakaian seragam jika putih
merah hati berarti masih SD, putih biru adalah SMP dan putih abu-abu sudah di
SMA. Dari makanan, dengan menerimakan Tubuh dan Darah Kristus sebagai seorang
Kristiani dan setiap hari minggu ke gereja sebagai kewajiban seorang Kristen.
Dalam perayaan tersebut juga telah dilaksanakan
pelantikan Koster Gereja Sadohoa, dimana berdasarkan SK 0106/III.12.2/2014,
bapak ANTONIUS NYOMAN SUADNYA telah diangkat menjadi Koster baru gereja
Sadohoa sekaligus penerimaan kunci gedung gereja.
Setelah perayaan Ekaristi, berlanjut dengan ramah tamah
di aula gereja yang dihadiri oleh seluruh anak-anak yang telah menerima komuni
pertama, para orang tua dan umat paroki. Foto-foto dapat dilihat disini. Proficiat untuk
anak-anak yang telah menerima komuni pertama mereka.
DAFTAR PENERIMA KOMUNI PERTAMA 2014
Para penerima Komuni Pertama pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Minggu 22 Juni
2014
1. Yuvita
Mariana (Sadohoa)
2. Antonius
Ronaldo (Unaaha)
3. Elza
Tombowo (Sadohoa)
4. Arsenius
Reinhart Suroso (Sadohoa)
5. Karvilius
Dodi (Kloangrotat)
6. Maria
Yemilia Konsolata (Kloangrotat)
7. Calistus
Caravario Nara (Sadohoa)
8. Valentino
Jonathan Reinhard (Sadohoa)
9. Gregorius
Nicholas Theodore (Sadohoa)
10. Aurelia
Chrysilia Kusuma Jaya (Sadohoa)
11. Cyrillus
Fidel Jonathan Kontarya (Sadohoa)
12. Hernandes
Adriano M’bata (Mandonga)
13. Aryoa
Steven Saputra (Sadohoa)
14. Brigitta
Fidelya Lontana (Sadohoa)
15. Emanuel
Bella Gobang (Sadohoa)
16. Antonius
Pentura Tebu (Sadohoa)
17. Maria
Magdalena Adriana Fitrizki Siri (Mariso)
18. Theodore
Roesevelt Titamena (Sadohoa)
19. Albertus
Reynhard Dharmawan (Gotong-Gotong)
20. Ishak
Dean Salim (Gotong-Gotong)
21. Agatha
Christie Bunggulawa (Sadohoa)
22. Maria
Resky Selfira (Mandonga)
23. Maria
Valencia Cassandra Widjaja (Sadohoa)
24. Desmond
Axel Osbert Pandean (Sadohoa)
25. Stefanus
Adi Lee (Sadohoa)
26. Fransiscus
Nelxon (Denpasar)
27. Elia
Gading (Sadohoa)
28. Fransisca
Stiofany (Sadohoa)
29. Christian
Ferreri Hortalanus (Sampit)
30. Diana
Defourtuna (Sadohoa)
31. Theresia
Resky Pananungan (Sadohoa)
32. Andika
Tiara Natalia Kris Biantoro (Raha)
33. Adolfina
Tiwe (Loah Berah)
34. Stefania
Tandi Allo (Sadohoa)
35. Puput
(Sadohoa)
36. Eugenia
Putri Andini Tarang (Sadohoa)
37. Stivan
Apriyanto Thetrawan (Sadohoa)
Proficiat!
Kamis, 29 Mei 2014
Surat Gembala KWI Menyambut Pemilihan Presiden 9 Juli 2014
PILIHLAH SECARA BERTANGGUNGJAWAB,
BERLANDASKAN SUARA HATI
Segenap Umat Katolik Indonesia yang terkasih,
Kita bersyukur karena salah satu tahap penting dalam Pemilihan Umum 2014 yaitu pemilihan anggota legislatif telah selesai dengan aman. Kita akan memasuki tahap berikutnya yang sangat penting dan menentukan perjalanan bangsa kita ke depan. Pada tanggal 9 Juli 2014 kita akan kembali memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin bangsa kita selama lima tahun ke depan. Marilah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini kita jadikan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi kita untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta kita agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa kita.
Ke depan bangsa kita akan menghadapi tantangan-tantangan berat yang harus diatasi di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, misalnya masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial, pendidikan, pengangguran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Masalah dan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup dan upaya untuk mengembangkan sikap toleran, inklusif dan plural demi terciptanya suasana rukun dan damai dalam masyarakat. Tantangan-tantangan yang berat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga dan tanpa henti. Kita semua berharap semoga di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih, bangsa Indonesia mampu menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah itu.
Kami mendorong agar pada saat pemilihan mendatang umat memilih sosok yang mempunyai integritas moral. Kita perlu mengetahui rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden, khususnya mengamati apakah mereka sungguh-sungguh mempunyai watak pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja: menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung. Kita sungguh mengharapkan pemimpin yang gigih memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu kenalilah sungguh-sungguh para calon sebelum menjatuhkan pilihan.
Agar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa berjalan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia serta berkualitas, kita harus mau terlibat. Oleh karena itu kalau saudara dan saudari memiliki kesempatan dan kemampuan, sungguh mulia jika Anda bersedia ikut menjaga agar tidak terjadi kecurangan pada tahap-tahap pemilihan. Hal ini perlu kita lakukan melulu sebagai wujud tanggungjawab kita, bukan karena tidak percaya kepada kinerja penyelenggara Pemilu.
Kami juga menghimbau agar umat katolik yang terlibat dalam kampanye mengusahakan agar kampanye berjalan dengan santun dan beretika, tidak menggunakan kampanye hitam dan tidak menggunakan isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Khususnya kami berharap agar media massa menjalankan jurnalisme damai dan berimbang. Pemberitaan media massa hendaknya mendukung terciptanya damai, kerukunan serta persaudaraan, mencerdaskan dan tidak melakukan penyesatan terhadap publik, sebaliknya menjadi corong kebaikan dan kebenaran.
Marilah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihan dengan hati dan pikiran yang jernih. Konferensi Waligereja Indonesia menyerukan agar saudara-saudari menggunakan hak untuk memilih dan jangan tidak ikut memilih. Hendaknya pilihan Anda tidak dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya. Sikap demikian merupakan perwujudan ajaran Gereja yang menyatakan, “Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum” (Gaudium et Spes 75).
Pada akhirnya, marilah kita dukung dan kita berikan loyalitas kita kepada siapa pun yang akan terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019. Segala perbedaan pendapat dan pilihan politik, hendaknya berhenti saat Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada bulan Oktober 2014. Kita menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, menjadi seratus prosen Katolik dan seratus prosen Indonesia, karena kita adalah bagian sepenuhnya dari bangsa kita, yang ingin menyatu dalam kegembiraan dan harapan, dalam keprihatinan dan kecemasan bangsa kita (bdk. Gaudium et Spes 1).
Marilah kita mengiringi proses pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dengan memohon berkat dari Tuhan, agar semua berlangsung dengan damai serta berkualitas dan dengan demikian terpilihlah pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia. Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.
Jakarta, 26 Mei 2014
P R E S I D I U M KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
| Mgr. Ignatius Suharyo – K e t u a | Mgr. Johanes Pujasumarta – Sekretaris Jenderal |
PESAN SRI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-48
PESAN SRI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-48
1 Juni 2014
1 Juni 2014
Saudara-saudari terkasih,
Dewasa ini kita hidup dalam suatu dunia yang tumbuh semakin “kecil” dan di mana, sebagai hasilnya, nampaknya lebih mudah bagi kita sekalian untuk menjadi sesama. Perkembangan dalam teknologi perjalanan dan komunikasi lebih mendekatkan kita bersama dan membuat kita lebih terhubungkan, karena globalisasi semakin membuat kita saling bergantung. Biarpun demikian, pemisahan-pemisahan, yang seringkali demikian mendalam, terus menerus hadir dalam keluarga manusiawi. Pada tataran global kita melihat suatu kesenjangan yang mencengangkan antara kelimpahan kaum kaya raya dan keterbuangan yang menganga dari kaum miskin. Kita hanya perlu menjalani jalan-jalan dari sebuah kota untuk melihat perbedaan antara orang-orang yang hidup di jalanan dan cahaya yang berkilauan dari jendela-jendela kawasan perdagangan. Kita sudah menjadi biasa dengan hal-hal ini, sehingga tidak lagi mengusik kita. Dunia kita menderita banyak bentuk dari pengasingan, keterpinggiran dan kemiskinan, tanpa mengutarakan perselisihan-perselisihan yang muncul dari suatu kombinasi dari alasan-alasan ekonomi, politik dan ideologi, serta sayangnya, juga agamawi.
Dewasa ini kita hidup dalam suatu dunia yang tumbuh semakin “kecil” dan di mana, sebagai hasilnya, nampaknya lebih mudah bagi kita sekalian untuk menjadi sesama. Perkembangan dalam teknologi perjalanan dan komunikasi lebih mendekatkan kita bersama dan membuat kita lebih terhubungkan, karena globalisasi semakin membuat kita saling bergantung. Biarpun demikian, pemisahan-pemisahan, yang seringkali demikian mendalam, terus menerus hadir dalam keluarga manusiawi. Pada tataran global kita melihat suatu kesenjangan yang mencengangkan antara kelimpahan kaum kaya raya dan keterbuangan yang menganga dari kaum miskin. Kita hanya perlu menjalani jalan-jalan dari sebuah kota untuk melihat perbedaan antara orang-orang yang hidup di jalanan dan cahaya yang berkilauan dari jendela-jendela kawasan perdagangan. Kita sudah menjadi biasa dengan hal-hal ini, sehingga tidak lagi mengusik kita. Dunia kita menderita banyak bentuk dari pengasingan, keterpinggiran dan kemiskinan, tanpa mengutarakan perselisihan-perselisihan yang muncul dari suatu kombinasi dari alasan-alasan ekonomi, politik dan ideologi, serta sayangnya, juga agamawi.
Dalam sebuah dunia seperti ini, media dapat membantu kita untuk merasa lebih dekat satu sama lain, dengan menciptakan suatu makna persatuan dari keluarga manusiawi yang pada gilirannya dapat mengilhami solidaritas dan upaya-upaya serius untuk menjamin suatu hidup yang lebih bermartabat bagi semua orang. Komunikasi yang baik membantu kita tumbuh lebih dekat, saling mengenal lebih baik, dan akhirnya, berkembang dalam persatuan. Tembok-tembok yang memisahkan kita, hanya dapat diruntuhkan jika kita bersedia untuk mendengarkan dan belajar satu sama lain. Kita perlu menyelesaikan perbedaan-perbedaan melalui bentuk-bentuk dialog yang membantu kita berkembang dalam sikap saling memahami dan menghargai . Suatu budaya perjumpaan menuntut bahwa kita tidak saja siap sedia untuk memberi, tetapi juga menerima. Media dapat sangat membantu kita dalam hal ini, terutama dewasa ini, sewaktu jejaring komunikasi manusiawi mengalami kemajuan yang tak terkirakan. Internet khususnya mempersembahkan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas bagi perjumpaan dan solidaritas. Ini adalah sesuatu yang sejatinya baik, suatu pemberian dari Allah.
Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa persoalan-persoalan tertentu tidak ada. Kecepatan penyampaian informasi melampaui kemampuan kita untuk berefleksi dan menilai, dan hal ini tidak membuat bentuk-bentuk yang tepat dan lebih seimbang untuk mengungkapkan diri. Keragaman pendapat yang tertayangkan dapat dipandang sebagai sesuatu yang membantu, tetapi juga membuka kemungkinan bagi orang untuk membentengi dirinya sendiri di balik sumber-sumber informasi yang hanya memperkuat keinginan-keinginan dan cita-cita, atau kepentingan politik dan ekonomi sendiri. Dunia komunikasi dapat membantu kita entah memperluas pengetahuan kita atau menjadikan kita tersesat. Keinginan akan keterhubungan digital dapat membawa dampak yang mengasingkan kita dari sesama kita, dari mereka yang paling dekat dengan kita. Kita tidak seharusnya menyepelekan kenyataan bahwa mereka yang atas alasan apapun kehilangan akses pada media sosial, berada dalam bahaya tertinggal.
Biarpun kelemahan-kelemahan ini memang nyata, mereka tidak membenarkan untuk menolak media sosial; sebaliknya, mereka mengingatkan kita bahwa komunikasi pada akhirnya berwatak manusiawi lebih daripada pencapaian teknologis. Jadi, apa yang membantu kita dalam lingkungan digital untuk berkembang dalam kemanusiaan dan sikap saling memahami? Kita perlu misalnya untuk menemukan kembali suatu makna tertentu dari kebebasan dan ketenangan. Hal ini meminta waktu dan tenaga untuk berdiam diri dan mendengarkan. Kita juga perlu bersabar jika kita ingin memahami mereka yang berbeda dengan kita. Orang hanya mengungkapkan diri sepenuhnya sewaktu mereka tidak hanya menemukan tenggang rasa, tetapi tahu bahwa mereka benar-benar diterima. Jika kita benar-benar peka mendengarkan orang lain, kita akan belajar untuk memandang dunia dengan mata berbeda dan siap menghargai kekayaan pengalaman manusiawi, sebagaimana terungkap dalam budaya-budaya dan tradisi-tradisi yang berbeda. Kita juga akan belajar untuk menghargai lebih penuh nilai-nilai utama yang diilhami oleh Kristianitas, seperti pandangan tentang pribadi manusia, kodrat perkawinan dan keluarga, pembedaan yang benar antara lingkup agamawi dan politik, prinsip-prinsip solidaritas dan subsidiaritas, dan banyak lagi hal lain.
Bagaimana komunikasi dapat hadir demi suatu budaya sejati dari perjumpaan? Apa artinya bagi kita, sebagai murid-murid Tuhan, berjumpa dengan orang lain dalam terang Injil? Meskipun keterbatasan-keterbatasan dan kedosaan kita, bagaimana kita sesungguhnya menjadi dekat satu sama lain? Pertanyaan-pertanyaan ini tersimpulkan dalam apa yang seorang ahli kitab – seorang komunikator - pernah mempertanyakan kepada Yesus: “Dan siapakah sesama-ku?” (Lk 10:29). Pertanyaan ini dapat membantu kita untuk melihat komunikasi dalam istilah “kesesamaan”. Mungkin kita dapat mengkalimatkannya sebagai berikut: Bagaimana kita dapat menjadi “sesama” dalam penggunaan media komunikasi dan dalam lingkungan baru yang diciptakan oleh teknologi digital? Saya menemukan suatu jawaban dalam perumpamaan Orang Samaria yang baik, yang juga merupakan sebuah perumpamaan tentang komunikasi. Orang-orang yang mengadakan komunikasi, nyatanya, menjadi sesama. Orang Samaria yang baik tidak hanya lebih mendekatkan orang yang ia temukan setengah mati di pinggir jalan; dia mengambil tanggungjawab baginya. Yesus mengalihkan pemahaman kita: itu bukan saja perihal memandang orang lain sebagai seseorang seperti diri saya sendiri, tetapi kemampuan untuk membuat diri saya seperti orang lain. Komunikasi sesungguhnya menyangkut kesadaran bahwa kita sekalian adalah makhluk manusiawi, anak-anak Allah. Saya ingin memandang kemampuan komunikasi sebagai “kesesamaan”.
Manakalah komunikasi pertama-tama bertujuan untuk memajukan konsumsi atau memanipulasi orang-orang lain, kita berhadapan dengan suatu bentuk penyerangan yang kejam seperti apa yang diderita oleh orang dalam perumpamaan itu, yang dipukuli oleh perampok dan ditinggalkan di jalan. Orang Levi dan imam tidak memandang dia sebagai seorang sesama, tetapi sebagai seorang asing yang tidak boleh dijamah. Dalam masa itu, peraturan dari kemurnian ritual yang mengkondisikan jawaban mereka. Dewasa ini terdapat seorang asing yang media tertentu mengkondisikan jawaban-jawaban kita, sehingga kita gagal memandang sesama kita yang sebenarnya.
Tidaklah cukup untuk lalu lalang dalam jalan bebas hambatan digital, asalkan “terhubungkan”; keterhubungan perlu berkembang menjadi rekan-rekan perjumpaan yang sejati. Kita tidak dapat hidup terpisah, tertutup dalam diri kita sendiri. Kita perlu mencintai dan dicintai. Kita perlu kelembutan. Strategi-strategi media tidak menjamin kecantikan, kebaikan dan kebenaran dalam komunikasi. Dunia media juga harus peduli akan kemanusiaan; media juga dipanggil untuk menunjukkan kelembutan. Dunia digital dapat menjadi suatu lingkungan yang kaya dalam kemanusiaan; suatu jejaring bukanlah untaian kabel-kabel, tetapi hubungan orang-orang. Ketidak-berpihakan media hanyalah suatu penampilan; hanya orang-orang yang keluar dari dirinya sendiri dalam komunikasi dapat menjadi titik rujukan yang benar bagi orang-orang lain. Keterlibatan pribadi adalah dasar dari kepercayaan dari seorang komunikator. Kesaksian Kristiani, terima kasih atas internet, olehnya dapat mencapai kawasan pinggiran dari keberadaan manusiawi.
Sebagaimana saya sering mengamati, jika suatu pilihan harus dilakukan antara sebuah gereja memar yang pergi keluar ke jalan-jalan dan sebuah gereja yang menderita karena kepuasan diri, maka pasti saya lebih menyukai yang pertama. “Jalan-jalan” itu adalah dunia di mana orang-orang hidup dan di mana mereka dapat dijumpai, baik secara efektif maupun secara afektif. Jalan bebas hambatan digital adalah salah satunya, sebuah jalan yang digandrungi oleh orang-orang yang sering terlukai, laki-laki dan perempuan, yang mencari keselamatan atau pengharapan. Dengan sarana internet, pesan Kristiani dapat menjangkau “sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8). Dengan menjaga pintu-pintu gereja-gereja terbuka juga berarti menjaganya terbuka dalam lingkungan digital, sehingga orang-orang, apapun keadaan hidupnya, dapat masuk, dan demikian Injil dapat pergi menjumpai setiap orang. Kita dipanggil untuk menunjukkan bahwa Gereja adalah rumah semua orang. Apakah kita mampu menayangkan gambaran dari sebuah Gereja demikian? Komunikasi adalah suatu sarana untuk mengungkapkan panggilan misioner dari seluruh Gereja; dewasa ini jejaring sosial adalah salah satu jalan untuk mengalami panggilan ini guna menemukan kembali keindahan dari iman, kecantikan perjumpaan dengan Kristus. Dalam lingkup komunikasi juga, kita perlu sebuah Gereja yang mampu membawa kehangatan dan menggerakkan hati.
Kesaksian Kristiani yang efektif bukanlah tentang mencekoki orang-orang dengan pesan-pesan agamawi, tetapi tentang kerelaan kita untuk siap sedia bagi orang-orang lain “dengan menanggapi secara sabar dan penuh hormat pertanyaan-pertanyaan dan keragu-raguan yang mereka ajukan guna mencari kebenaran dan makna keberadaan manusiawi” (Benediktus XVI, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-47, 2013). Kita cukup mengingat kembali kisah murid-murid dalam perjalanan ke Emmaus. Kita harus mampu berdialog dengan laki-laki dan perempuan semasa, untuk memahami kecemasan, keraguan dan pengharapan mereka, dan memperkenalkan Injil, Yesus Kristus sendiri, Allah yang menjelma, yang wafat dan bangkit untuk membebaskan kita dari dosa dan kematian. Kita ditantang untuk menjadi orang-orang berkerohanian, peka terhadap apa yang terjadi sekitar kita dan siap sedia secara rohaniah. Berdialog berarti percaya bahwa “orang lain” mempunyai sesuatu yang pantas disampaikan, dan menyenangi pandangan dan perspektifnya. Dengan melibatkan dalam dialog tidak berarti mengesampingkan ide-ide dan tradisi-tradisi kita sendiri, tetapi menampik pendakuan bahwa hanya milik kita yang sah atau mutlak. Semoga gambaran Orang Samaria yang baik yang peduli akan luka-luka dari orang itu dengan menuangkan minyak dan anggur atasnya menjadi inspirasi kita. Biarlah komunikasi kita menjadi sebuah balsam yang meringankan rasa sakit dan anggur enak yang meriangkan hati. Semoga terang yang kita bawa kepada orang-orang lain tidak merupakan buah hasil kosmetik atau akibat-akibat khusus, tetapi “kasih dan belaskasih “bersesama” kita akan mereka yang terluka dan ditinggalkan di tepi jalan. Biarlah kita dengan berani menjadi warga dari dunia digital. Gereja perlu menjadi peduli dan hadir dalam dunia komunikasi, agar berdialog dengan orang-orang semasa dan membantu mereka berjumpa dengan Kristus. Dia perlu menjadi sebuah Gereja yang berpihak pada orang-orang lain, mampu menemani siapa saja sepanjang jalan. Revolusi yang terjadi dalam media komunikasi dan dalam teknologi informasi menghadirkan suatu tantangan yang besar dan mendebarkan hati; semoga kita menanggapi tantangan itu dengan tenaga dan imaginasi yang segar, sewaktu kita berupaya untuk berbagi kecantikan Allah bersama orang-orang lain.
Vatikan, 24 januari 2014, Pesta St. Fransiskus dari Sales.
PAUS FRANSISKUS
PAUS FRANSISKUS
*) alihbahasa oleh Mgr. Petrus Turang (Uskup Keuskupan Agung Kupang)
Kamis, 01 Mei 2014
SAFARI BULAN MARIA & LITURGI NASIONAL 2014
Kamis,
1 Mei 2014 Pukul 18.30
DOA ROSARIO dan MISA Pembukaan Bulan Maria & Liturgi
Nasional di Gereja Pusat
Minggu,
4 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes.
Petugas dan Koor : Rukun Santo Yohanes Pembaptis
Senin,
5 Mei 2014 Pukul 08.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Tanea
Selasa,
6 Mei 2014 Pukul 09.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Moramo
Rabu,
7 Mei 2014 Pukul 18.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Punggaluku
Jumat,
9 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi DKB 1
Minggu,
11 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes
Petugas dan Koor: Rukun Santa Monika
Minggu,
11 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Lapoa
Minggu,
18 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes
Petugas dan Koor: Rukun Regna Rosari
Selasa,
20 Mei 2014 Pukul 09.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi SP 1
Selasa,
20 Mei 2014 Pukul 16.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Rumbia
Rabu,
21 Mei 2014 Pukul 17.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi DKB 5
Kamis,
22 Mei 2014 Pukul 09.00
Doa Rosario dan Pendalaman Iman di Stasi Baito
Minggu,
25 Mei 2014 Pukul 18.30
Doa Rosario Bersama di Gua Maria Bunda dari Lourdes
Petugas dan Koor: Rukun Santo Stefanus
Rabu,
28 Mei 2014: ZIARAH di DKB 1
Pagi – Sore : Acara
Khusus OMK dan REFRANXA
Pukul 18.30 – Selesai : Pawai Lilin, Pendalaman Iman,
Nonton Bareng
Kamis,
29 Mei 2014
Pukul 07.00 – Selesai : Jalan Salib, Perayaan Ekaristi
Hari Raya Kenaikan Tuhan
Sabtu,
31 Mei 2014 Pukul 18.30
DOA ROSARIO dan MISA Penutupan Bulan Maria & Liturgi
Nasional di Gereja Pusat
CATATAN:
Susunan AcaraPendalaman Iman selama Bulan Maria &
Liturgi Nasional:
- Tentang
Liturgi
- Tendang
Bunda Maria
- Doa
Litani Santa Perawan Maria (PS 214)
Sepanjang Bulan Maria ini sangat diharapkan agar Stasi
dan Rukun menjadwalkan Doa Rosario Bersama.
Untuk ZIARAH DKB 1 pada hari Rabu – Kamis, 28 – 29 Mei
2014, sangat diharapkan kehadiran seluruh umat. Untuk itu, para pengurus Stasi
dan Rukun dapat sesegera mungkin untuk mengkoordinir umatnya masing-masing.
SAFARI PEMBINAAN PEMIMPIN IBADAT SABDA UNTUK STASI
Jadwal Pembinaan Para Pemimpin dan Calon Pemimpin Ibadat
Sabda se Paroki:
Senin,
5 Mei 2014: Stasi Tanea
Selasa,
6 Mei 2014: Stasi Moramo
Rabu,
7 Mei – Kamis, 8 Mei 2014: Stasi
Punggaluku (untuk Stasi Punggaluku dan Stasi Baito)
Jumat,
9 Mei – Sabtu, 10 Mei 2014: Stasi
DKB 1 (untuk Stasi DKB 1 dan DKB 5)
Minggu,
11 Mei – Senin, 12 Mei 2014: Stasi
Lapoa (untuk Stasi Lapoa, SP 1 dan Rumbia)
Selasa,
13 Mei 2014: Stasi
Wawonii
Peserta
kegiatan:
Stasi Wawonii : 17 orang
Stasi Tanea : 8 orang
Stasi Moramo : 13 orang
Stasi Punggaluku : 22 orang
Satasi Baito : 3 orang
Stasi DKB 1 : 17 orang
Stasi DKB 5 : 12 orang
Stasi Lapoa : 15 orang
Stasi SP 1 : 4 orang
Stasi Rumbia : 12
orang
Para
Narasumber:
a. Staf
Komisi Liturgi, Katekik dan Kitab Suci KAMS: Bapak Petrus Matutu, SE
b.
Pastor Paroki Santo Fransiskus Xaverius
Sadohoa: P. Marthin Paonganan Solon, Pr
c. Frater
dari Kongregasi Hamba-Hamba Kristus (HHK)
CATATAN:
Stasi-stasi diharapkan untuk dapat membentuk panitia
kecil demi kelancaran kegiatan ini, khususnya untuk menyiapkan tempat
pembinaan, penginapan serta konsumsi bagi para peserta selama kegiatan
berlangsung.
Biaya konsumsi TIDAK AKAN dibebankan ke Stasi
tetapi akan ditanggulangi atas bantuan donatur. Untuk itu, semua nota dan
kwitansi pengeluaran agar dapat dimasukkan segera setelah acara selesai untuk
mendapatkan penggantian/restitusi.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan kerjasama Bimas Katolik Departemen Agama Provinsi
Sulawesi Tenggara.
Langganan:
Postingan (Atom)