Search by Google
PROMOSI
Selasa, 13 Desember 2022
Senin, 21 November 2022
Pesan Natal 2022 KWI dan PGI
Maka Pulanglah
Mereka Ke Negerinya Melalui Jalan Lain (Mat. 2:12)
Saudara-saudari
terkasih,
Perayaan Natal selalu membawa sukacita dan damai
sejahtera bagi hidup kita, karena Yesus datang untuk membebaskan kita dari belenggu
dosa. Oleh Dia yang lahir di kandang hewan, wafat di kayu salib, dan kemudian
bangkit dari antara orang mati, kita dilahirkan kembali sebagai ciptaan baru
dan memperoleh hidup kekal.
Orang-orang bijak dari Timur dengan bantuan bintang
datang untuk menyembah-Nya dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Setelah
mengalami sukacita dalam perjumpaan yang istimewa tersebut, orang-orang bijak
itu kembali ke negerinya melalui jalan lain seperti yang ditunjukkan Tuhan (bdk. Mat. 2:12). Mereka mampu melewati
tantangan, hambatan, dan kesulitan dalam perjalanan mereka mencari Yesus dan
setelah berjumpa dengan-Nya mereka juga berani menempuh jalan baru yang belum
tentu lebih mudah dari sebelumnya.
“Jalan lain”
itu dapat dipahami juga secara rohani. Sesudah bertemu dengan Yesus, orang
tidak lagi menjalani hidup dengan cara lama, tetapi dengan cara yang baru,
menjadi manusia baru. Dengan demikian, Natal juga mengajak kita untuk menemukan
jalan baru dan kreatif dalam mewartakan kasih-Nya kepada sesama dan semua
makhluk ciptaan.
Saudara-saudari
terkasih,
Orang-orang bijak dari Timur yang berjalan bersama-sama
mencari Yesus mengajak kita untuk berjalan bersama juga, dalam menemukan
kehendak Dia yang “tinggal di antara
kita” (bdk.Yoh. 1:14) untuk
menegakkan Kerajaan Kasih-Nya. Sebagai warga bangsa dan warga Gereja, meskipun
kita bhinneka – berbeda agama, suku, golongan, budaya – kita mesti selalu
berjalan bersama agar dalam kebersamaan itu mampu menghadapi berbagai macam
tantangan dan kesulitan hidup. Keanekaragaman merupakan anugerah Allah yang
harus disyukuri, dirawat, dan dikembangkan. Kebhinekaan yang kita sadari
sebagai anugerah Tuhan itu seharusnya mendorong kita untuk saling bergandengan
tangan dalam mewujudkan tata kehidupan bersama yang lebih bermartabat.
Dengan berjalan bersama kita dimampukan untuk “pulih lebih
cepat, bangkit lebih kuat”: membangun kembali kehidupan dari keterpurukan dalam
berbagai bidang akibat pandemi COVID-19; membangun peradaban kasih di tengah
menguatnya tindak kekerasan; merajut kerukunan di tengah merebaknya
intoleransi; mempopulerkan budaya jujur di tengah mengguritanya tindak
kejahatan korupsi; menggemakan pertobatan ekologis di tengah maraknya kerusakan
lingkungan hidup, dan mengembangkan hidup berpolitik yang beretika menjelang
pesta demokrasi tahun 2024. Berjalan bersama dapat menghasilkan kekuatan yang
luar biasa. Oleh karenanya semangat itu perlu ditopang dengan sikap saling
memahami, menerima, mendengarkan, dan menghargai kawan seperjalanan yaitu
seluruh warga bangsa kita. Kita hilangkan berbagai pikiran negatif dan
prasangka buruk. Kita kembangkan budaya hidup damai dan bersaudara.Kasih Allah
juga bisa diwartakan dengan kesediaan kita untuk menjadi teman dan sahabat bagi
saudara-saudari kita yang menjadi korban pelecehan seksual, peredaran obat-obat
terlarang, pemutusan hubungan kerja, diskriminasi, bencana alam, dan berbagai
bentuk ketidakadilan lainnya.
Kasih Allah yang hadir dalam peristiwa Natal ini
memanggil kita untuk peduli pada sesama yang sedang menderita, karena apa yang
kita lakukan untuk saudara-saudari kita yang sedang menderita atau mengalami
kehinaan, kita lakukan juga untuk Allah (bdk. Mat. 25:40). Berlandaskan iman
yang teguh dan kasih yang tulus kita bersama-sama dapat menumbuhkan harapan dan
semangat saudarasaudari kita untuk kembali melangkah dan berjuang meraih
mimpi-mimpi yang mungkin telah hilang. Berani berpihak kepada korban juga
merupakan jalan kasih yang perlu kita tempuh saat ini, mana kala masih banyak
orang yang hanya menjadi penonton saat sesamanya menderita, atau sengaja
menutup mata agar hidupnya tetap aman dan nyaman. Teladan orang Samaria yang
tergerak oleh belas kasih untuk menolong korban perampokan (bdk. Luk.10:25-37)
perlu dihidupkan dan diwujudkan dalam keseharian kita.
Saudara-saudari
terkasih,
Kehadiran Sang Kasih Sejati yang menyelamatkan kita harus
terus diwartakan. Berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai
karya manusia seharusnya dimanfaatkan untuk memuliakan Allah dengan membangun
tata kehidupan bersama yang penuh kasih. Media sosial sebagai bagian dari
kemajuan ini menawarkan jalan-jalan menarik untuk mewartakan kasih Allah.
Marilah kita menuliskan pendapat, renungan, dan kotbah yang menyejukkan dan
mendamaikan hati banyak orang. Kita mengunggah foto-foto tentang keindahan
hidup bersama di tengah aneka perbedaan atau membuat film-film pendek yang
menginspirasi orang untuk peduli kepada orang lain serta alam sekitarnya. Kita
mengisi ruang publik dengan kesejukan dan kedamaian guna menyebarluaskan
nilai-nilai keadilan, kesetaraan, kesederhanaan, dan kebersamaan. Marilah kita
juga berani melawan ujaran kebencian dan berita bohong yang dapat merusak
kerukunan hidup bersama.
Dalam terang Natal kita diajak untuk semakin bijak dan
cerdas dalam bermedia sosial, semakin kreatif dalam mewartakan kasih, semakin
setia dalam memegang nilai-nilai moral dan etika di dunia maya, sehingga kasih
Allah semakin terpancar dan damai sejahtera semakin nyata. Jalan-jalan kreatif
yang ditawarkan oleh media sosial sudah sepantasnya kita manfaatkan sebagai
sarana pewartaan sehingga mampu menggerakkan banyak orang untuk menjadi
duta-duta kasih dan pelopor perdamaian di lingkungan keluarga, Gereja, dan
masyarakat.
Semoga dalam menyambut dan merayakan Hari Natal ini, kita
sungguh merasakan kasih-Nya. Allah Sang Kasih selalu bersama dengan kita,
Imanuel, Allah beserta kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan
apa pun (bdk. Ibr. 13:5). Ia juga selalu menjaga kita sehingga kaki kita tidak
pernah goyah (bdk. Mzm. 121:3) dalam mencari dan menemukan jalan-jalan kreatif
agar karya keselamatan Allah dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin orang.
Atas nama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), kami mengucapkan selamat Natal
Tahun 2022 dan selamat menyongsong Tahun Baru 2023.
Tuhan
memberkati!
Jakarta, 21 November 2022
Ketua
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Mgr.
Antonius Subianto Bunjamin OSC
Sekretaris
Jenderal KWI
Mgr.
Paskalis Bruno Syukur OFM
Ketua
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)
Pdt.
Gomar Gultom
Sekretaris
Umum PGI
Pdt.
Jacklevyn F. Manuputty
Minggu, 13 November 2022
JADWAL PESTA PELINDUNG & ULANG TAHUN KE 56 PAROKI SANTO FRANSISKUS XAVERIUS SADOHOA
Sabtu, 3 Desember 2022 Pukul 17.30 : Misa Syukur
Minggu, 4 Desember 2022 Pukul 06.00 : Jalan Santai
Misa Hari Minggu, 4 Desember 2022: Tidak ada Misa Pagi
Stasi Anduonohu Pukul 16.00
Paroki Pusat Pukul 18.30
Mohon partisipasi umat dalam kegiatan tersebut.
Minggu, 15 Mei 2022
Rabu, 02 Februari 2022
PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS untuk HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-30
11 Februari 2022
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”
(Luk 6:36)
Dalam perjalanan kasih, mendampingi mereka yang menderita
Saudara dan saudari terkasih,
Tiga puluh tahun yang lalu, Santo Yohanes Paulus II
mencanangkan Hari Orang Sakit Sedunia untuk mendorong umat Allah,
lembaga-lembaga kesehatan Katolik, dan masyarakat sipil untuk semakin
memperhatikan orang sakit dan mereka yang merawatnya.
Kita bersyukur kepada Tuhan atas kemajuan yang dicapai
Gereja-Gereja partikular selama bertahun-tahun di seluruh dunia. Banyak
kemajuan telah didapat, namun jalan masih panjang untuk memastikan bahwa semua
orang sakit, juga mereka yang tinggal di tempat dan situasi yang sangat miskin
dan terpinggirkan, menerima perawatan kesehatan yang mereka butuhkan, serta
perawatan pastoral yang dapat membantu mereka menanggung penyakit mereka dalam
persatuan dengan Kristus yang disalibkan dan bangkit. Semoga Hari Orang Sakit
Sedunia ke-30 – yang perayaan penutupannya, karena pandemi, tidak akan
berlangsung di Arequipa, Peru seperti yang direncanakan, namun di Basilika
Santo Petrus di Vatikan – membantu kita bertumbuh dalam kedekatan dan pelayanan
kepada orang sakit dan keluarga mereka.
1. Murah hati seperti Bapa
Tema yang dipilih untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-30 ini
– “Hendaklah kamu murah hati, sama
seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36) – mengajak kita pertama-tama
mengarahkan pandangan kepada Allah yang “kaya akan belas kasih” (Ef. 2:4). Dia
selalu menjaga anak-anak-Nya dengan kasih seorang bapa, bahkan ketika mereka
berpaling dari-Nya. Belas kasih adalah nama Tuhan yang luar biasa. Belas kasih
dipahami bukan sebagai perasaan sentimental sesaat, tetapi sebagai kekuatan
yang selalu hadir dan aktif yang mengungkapkan sifat Tuhan. Pemahaman ini
menggabungkan kekuatan dan kelembutan. Untuk alasan inilah, kita dapat
mengatakan dengan takjub dan syukur bahwa belas kasih Allah mencakup baik
kebapaan maupun keibuan (lih. Yes. 49:15). Tuhan memelihara kita dengan
kekuatan seorang ayah dan kelembutan seorang ibu. Dia tak henti-hentinya ingin
memberi kita hidup baru dalam Roh Kudus.
2. Yesus, belas kasih Bapa
Kesaksian tertinggi dari cinta Bapa yang penuh belas kasih
bagi orang sakit adalah Putra tunggal-Nya. Injil sering menceritakan perjumpaan
Yesus dengan orang-orang yang menderita berbagai penyakit! Ia “berkeliling di
seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil
Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa
itu” (Mat. 4:23). Ada baiknya kita bertanya kepada diri kita sendiri mengapa
Yesus menunjukkan perhatian yang begitu besar kepada orang sakit, sedemikian
rupa sehingga Ia menjadikannya yang terpenting dalam perutusan para rasul, yang
diutus oleh Sang Guru untuk mewartakan Injil dan menyembuhkan orang sakit (bdk.
Luk. 9:2).
Seorang filsuf abad XX mengemukakan alasan untuk ini: “Rasa
sakit benar-benar mengisolasi, dan isolasi mutlak ini menimbulkan kebutuhan untuk
menarik yang lain, untuk memanggil yang lain”. Ketika seseorang dalam
kedagingannya merasa lemah dan menderita karena sakit, hatinya menjadi berat,
sangat takut, mengalami ketidakpastian yang semakin meningkat dan
mempertanyakan makna dari apa yang sedang terjadi dalam hidupnya itu. Bagaimana
kita bisa melupakan, dalam hal ini, semua pasien yang selama masa pandemi
menghabiskan akhir hidup mereka dalam kesendirian, di unit perawatan intensif,
meski dibantu oleh petugas kesehatan yang murah hati, namun jauh dari keluarga,
orang yang mereka cintai dan orang yang paling penting dalam hidup mereka? Ini
membantu kita untuk melihat betapa pentingnya kehadiran kita sebagai saksi
cinta kasih Allah yang mengikuti teladan Yesus, belas kasih Bapa, untuk menuangkan
minyak oles penghiburan dan anggur harapan pada luka orang sakit.
3. Menyentuh daging Kristus yang menderita
Undangan Yesus untuk berbelas kasih seperti Bapa memiliki
makna khusus bagi para petugas kesehatan. Saya mengingat semua dokter, perawat,
teknisi laboratorium, staf pendukung dan perawat orang sakit, serta banyak
sukarelawan yang menyumbangkan waktu mereka yang berharga untuk membantu
orang-orang yang menderita. Para petugas kesehatan yang terkasih, Anda
melakukan pelayanan bersama orang sakit dengan kasih dan kompetensi, melampaui
batas profesi Anda dan ini menjadi suatu misi. Tangan Anda, yang menyentuh
daging Kristus yang menderita, bisa menjadi perpanjangan tangan belas kasih
Bapa. Sadarilah martabat besar profesi Anda, serta tanggung jawab yang
menyertainya.
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas kemajuan yang telah
dicapai oleh ilmu kedokteran, khususnya belakangan ini. Teknologi-teknologi
baru telah memungkinkan untuk mempersiapkan terapi yang sangat bermanfaat bagi
orang sakit. Penelitian terus memberikan kontribusi yang berharga untuk
mengatasi patologi lama dan baru. Kedokteran rehabilitasi telah sangat
mengembangkan keahlian dan keterampilannya. Namun, semua ini jangan sampai
membuat kita melupakan keunikan setiap pasien, martabat dan kerentanannya.[4]
Pasien selalu lebih penting daripada penyakitnya, dan untuk alasan inilah,
setiap pendekatan terapeutik tidak dapat mengabaikan upaya mendengarkan pasien,
riwayatnya, kecemasan dan ketakutannya. Bahkan ketika tidak ada kemungkinan untuk
sembuh, perawatan selalu dapat diberikan. Selalu dimungkinkan untuk menghibur,
selalu dimungkinkan untuk membuat orang merasakan kedekatan yang mementingkan
orangnya daripada penyakitnya. Untuk alasan inilah, saya berharap bahwa
pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada para petugas kesehatan hendaknya
memampukan mereka untuk mengembangkan kapasitas mendengarkan dan berelasi dekat
dengan orang lain.
4. Pusat perawatan sebagai “rumah belas kasih”
Hari Orang Sakit Sedunia juga merupakan kesempatan yang baik
untuk memusatkan perhatian kita pada pusat-pusat perawatan. Selama
berabad-abad, belas kasih kepada orang sakit telah menggerakkan komunitas
Kristiani membuka banyak sekali “penginapan orang Samaria yang baik hati”, di
mana kasih dan perhatian dapat diberikan kepada orang-orang dengan berbagai
jenis penyakit, terutama mereka yang tidak mendapatkan jawaban atas persoalan
kesehatannya, kemiskinan, pengucilan sosial, atau kesulitan mengobati penyakit
tertentu. Dalam situasi ini, anak-anak, orang tua, dan mereka yang paling
lemahlah yang paling sering membayar mahal harganya. Dalam semangat belas kasih
seperti Bapa, para misionaris yang tak terhitung jumlahnya telah mengiringi
pewartaan Injil dengan pembangunan rumah sakit, apotek, dan tempat-tempat
perawatan. Itu semua adalah karya-karya berharga yang melaluinya kasih
Kristiani telah terlihat nyata dan kasih Kristus, yang disaksikan oleh para
murid-Nya, menjadi lebih meyakinkan. Saya mengingat terutama orang-orang di
daerah termiskin di belahan bumi tempat kita berada, di mana terkadang mereka
perlu melakukan perjalanan jarak jauh untuk menemukan pusat perawatan, yang
meskipun dengan sumber daya terbatas, menawarkan apa yang tersedia. Perjalanan
kita masih panjang dan di beberapa negara, akses ke perawatan yang memadai
masih tetap menjadi kemewahan. Kita melihat ini, misalnya, dalam kelangkaan
vaksin yang tersedia untuk melawan Covid-19 di negara-negara miskin; tetapi
terlebih lagi kurangnya pengobatan untuk penyakit yang membutuhkan obat-obatan
yang jauh lebih sederhana.
Dalam konteks ini, saya ingin menegaskan kembali pentingnya
lembaga kesehatan Katolik: mereka adalah harta berharga yang harus dilindungi
dan dilestarikan; kehadiran mereka telah membedakan sejarah Gereja, menunjukkan
kedekatannya dengan yang sakit dan yang miskin, dan dengan situasi yang
diabaikan oleh orang lain. Betapa banyak pendiri keluarga-keluarga religius
yang telah mendengarkan tangisan saudara-saudari mereka yang tidak memiliki
akses ke perawatan atau dirawat dengan buruk, telah memberikan yang terbaik
dalam pelayanan mereka! Hari ini pun demikian, bahkan di negara-negara yang
paling maju, kehadiran mereka adalah berkah, karena selain merawat tubuh dengan
semua keahlian yang diperlukan, mereka selalu dapat menawarkan persembahan amal
kasih, yang berfokus pada orang sakit itu sendiri dan keluarga mereka. Di saat
budaya membuang merajalela dan kehidupan tidak selalu diakui layak untuk
disambut dan dijalani, bangunan-bangunan ini, seperti “rumah belas kasih”,
dapat menjadi teladan dalam melindungi dan merawat semua kehidupan, bahkan yang
paling rapuh sekalipun, dari awal hingga akhir hayatnya.
5. Belas kasih pastoral: kehadiran dan kedekatan
Dalam tiga puluh tahun terakhir, pastoral kesehatan juga
semakin diakui pelayanannya yang tak tergantikan. Jika diskriminasi terburuk
yang diderita oleh orang miskin – dan orang sakit berarti miskin dalam
kesehatan – adalah kurangnya perhatian rohani, kita tidak bisa tidak menawarkan
kepada mereka kedekatan Tuhan, berkat dan sabda-Nya, serta perayaan sakramen
dan dukungan untuk perjalanan pertumbuhan dan pendewasaan iman. Dalam hal
ini, saya ingin mengingatkan semua orang bahwa kedekatan dengan orang sakit dan
pelayanan pastoral mereka bukan hanya tugas pelayanan tertentu yang ditunjuk
secara khusus; mengunjungi orang sakit adalah undangan yang diberikan Kristus
kepada semua murid-Nya. Banyak sekali orang sakit dan lanjut usia yang tinggal
di rumah dan menunggu kunjungan! Pelayanan penghiburan adalah tugas bagi setiap
orang yang dibaptis, ingat sabda Yesus: “ketika Aku sakit, kamu melawat Aku”
(Mat 25:36).
Saudara dan saudari terkasih, melalui pengantaraan Maria,
Bunda Kesehatan, saya mempercayakan semua orang sakit dan keluarga mereka. Dengan
bersatu bersama Kristus, yang menanggung penderitaan dunia atas diri-Nya
sendiri, semoga mereka menemukan makna, penghiburan, dan kepercayaan. Saya
berdoa untuk para petugas kesehatan di
mana pun berada, agar dengan penuh belas
kasih, mereka dapat mempersembahkan perawatan yang memadai dan kedekatan
persaudaraan mereka kepada para pasien.
Kepada semua orang, dengan hormat saya menyampaikan Berkat
Apostolik saya.
.
Roma, Santo Yohanes Lateran, 10 Desember 2021
Peringatan Bunda Maria dari Loreto.
Fransiskus


