Search by Google

PROMOSI

Minggu, 18 November 2018

Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia 2018

YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA
Saudara-saudari terkasih,
Setiap kali merayakan Natal, kita bersukacita atas kelahiran Yesus. Peristiwa ini sungguh menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita: “sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh yang kekal” (Yoh 3: 16). Kedatangan-Nya disambut baik oleh para gembala, yakni orang-orang kecil yang merindukan Juruselamat, maupun oleh orang-orang Majus, yakni kalangan bijak dan terhormat yang mencari kebenaran dan keselamatan. Janji Allah akan keselamatan terwujud dalam diri Yesus, yakni meskipun Anak Allah telah “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Melalui kerendahan hati dan pengorbanan diri, Yesus melaksanakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Begitulah hikmat Allah yang berbeda dengan hikmat dunia. Itulah sebabnya Paulus menyebut Yesus sebagai hikmat Allah bagi Kita (I Kor 1: 24, 30).
Sudah lebih dari dua ribu tahun Yesus datang ke dunia, tetapi karya keselamatan yang Dia tawarkan kepada umat manusia masih harus terus diwujudkan. Banyak orang telah menanggapi undangan Allah ini dalam hidup sehari-hari, di antaranya, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Akan tetapi, kita masih menjumpai orang yang tidak peduli pada suara hati dan tidak mengindahkan hati nurani serta tidak malu terhadap sesamanya dan tidak takut kepada Allah hingga berbuat sesuatu yang melanggar hak asasi manusia. Tiada lagi sukacita dan gembira ketika manusia diperlakukan tidak adil oleh sesama; saat HAM diinjak-injak.
Saudara-saudara terkasih,
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat yang dianugerahkan Allah kepada setiap orang. Perwujudan HAM secara baik dan benar membuat manusia hidup secara manusiawi. Dalam Perjanjian Lama, Allah memanggil para nabi, salah satunya, untuk mewujudkan keadilan yang juga berkaitan dengan HAM. Nabi Amos mengingatkan bahwa mereka yang menginjak-injak hak asasi orang-orang lemah dan miskin tidak akan hidup sejahtera (bdk. Am 5:11-12). Lalu, Amos mengajak umatnya: “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu….” (Am 5: 14).
Kita patut bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia menjunjung tinggi HAM. Kita pantas berterima kasih kepada pemerintah yang telah berusaha menangani masalah HAM secara serius. Sekalipun demikian, persoalan HAM masih terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di masa lalu belum selesai secara tuntas. Hak hidup layak di bidang ekonomi, sosial dan budaya yang berkaitn dengan keamanan dan kenyamanan hidup masih terganggu di beberapa daerah. Kebebasan berbicara dan berujar dikacaukan oleh maraknya ujar kebencian dan berita bohong yang kadang disertai kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Ancaman, pengrusakan dan penutupan rumah ibadah masih terjadi. Izin mendirikan rumuh ibadah masih tersendat. Eksploitasi alam berlebihan dan transaksi penjualan tanah masih merugikan masyarakat tertentu. Hak ekologis untuk menikmati lingkungan yang sehat tidak sepenuhnya dirasakan, terutama oleh kalangan masyarakat sederhana, karena pencemaran air, tanah dan udara. Hal-hal sedemikian merupakan pelanggaran terhadap HAM dan itu adalah tindakan manusia yang hidup menurut hikmat dunia.
Syukur kepada Allah, berkat Yesus Kristus kita dipanggil untuk hidup menurut hikmat ilahi. Yesus Kristus itulah hikmat Allah bagi kita. Kristus itulah yang mengajarkan kita nilai-nilai Kerajaan Allah serta mengajak kita hidup saling mengasihi dan rela berkorban demi terciptanya kesejanteraan bersama. Yesus menunjukan hikmatnya, melalui pewartaan Injil dan tindakan belaskasihan untuk menguduskan dan menebus kita. Paulus merumuskannya dengan bagus: “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30).
Kita diajak untuk menyadari panggilan sebagai pribadi berkhitmat yang dipilih untuk melayani bukan untuk dilayani. Prilaku pemimpin yang koruptif telah merusak kesadaran moral masyarakat, seolah jalan pintas yang tidak pantas adalah cara cepat mencapai keberhasilan. Tindakan koruptif sering berhubungan dengan pelanggaran HAM. Untuk itu, kita membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang penuh hikmat. Hal ini sejalan dengan sila ke-4 Pancasila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Saudara-saudari terkasih,
Natal mengingatkan kita akan hikmat Allah yang terwujudkan dalam diri Yesus. Natal bukan semata mengenang kelahiran Yesus sebagai bayi di atas palungan, tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat dan dicurahi Roh Kudus. Ia datang membawa Tahun Rahmat Tuhan (bdk. Luk 4: 18-19). Kata-katanya tidak menekan, tetapi menyejukkan. Nasihatnya tidak meninabobokan, tetapi menegur dan memberi jalan. Tegurannya bukan penghujatan, tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan asal menyenangkan, tetapi mengembalikan martabat manusia. Saat ditanya murid-murid Yohanes apakah Dia itu Mesias, Yesus menjawab: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22).
Marilah kita merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian saja, tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah. Kita diajak untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan kewajiban asasi manusia. Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, menjadi saat dan kesempatan untuk memahami hakikat HAM secara baik dan benar, menyadari luhurnya martabat manusia dan pentingnya gerakan menghormati hak asasi manusia.
Semoga Natal ini sungguh menjadi saat bagi kita untuk bersukacita dan bergembira. Yesus, Sang Imanuel dan Hikmat Allah bagi kita, sungguh lahir di tengah-tengah kita dan memimpin kita untuk hidup dalam hikmat Allah.

SELAMAT NATAL 2018 DAN TAHUN BARU 2019

Jakarta, 14 November 2018

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)

Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Ketua Umum PGI)
Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua KWI)
Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI)
Mgr. Antonius Bunjamin, OSC. (Sekretarian Jenderal KWI)

Kamis, 15 November 2018

PENGUMUMAN


·      Minggu, 2 Des. 2018 Pkl. 05.30: Jalan Santai (dikoordinir oleh OMK ) untuk  menyongsong Pesta Pelindung Paroki St. Fransiskus Xaverius Sadoha-Kendari, oleh karena itu Misa Minggu pagi dipindahkan ke Minggu malam Pkl. 18.30. (Setelah Jalan Santai dilanjutkan dengan Kerja Bakti membersihkan gereja).

·      
   Perayaan Ekaristi Pesta Pelindung Paroki St. Fransiskus Xaverius Sadoha: Senin, 3 Desember 2018 Pkl. 18.30

Para Petugas Liturgi:

-      Lagu/Koor   : YOX.                                      - Organis                : Bp. Eko

-      Dirigen         : Sdri. Magda                         - Lektor                   : Ibu Kresensia Lisa

-      Mazmur        : Ibu Yasinta Ambe                             

-      Doa Umat    : Bp. John Tulung

-     Pemb. Persembh: Bp/Ny. Athiam, Bp/Ny. Yohanes Utan, Bp/Ny. Novianus, Bp/Ny. Simon  

                                  La Sarudi.

-     PPK               : Fr. Fredy, Fr. Alo, Sr. Patricia, Fr. Patrio

-     PPA               : Bryan, Maria Sofiani, Desta, Quin, JB

-     Tatib              : Seksi Ketertiban Depas (Koord. Basilius Suprayogi).

-     Dekorasi      : Koord. Sie KIK, Ibu Charlex, Ibu Vivi, Ibu Roswita, Ibu Veronika Handayani,  

                         Ibu Wahyudi, Ibu Yulianti SK.

Selasa, 06 November 2018

RAPAT DEPAS PLENO


Rapat Dewan Pastoral Pleno akan dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Nopember 2018 mulai pukul 17.00 - Selesai di Aula Paroki.
Diharapkan kehadiran segenap anggota Dewan Pastoral dalam rapat ini.
Topik pembahasan: Perayaan Pesta Pelindung dan Ulang Tahun ke 52 Paroki Santo Fransiskus Xaverius, Perayaan Natal dan Tahun Baru 2019.

Terima kasih.

Senin, 29 Oktober 2018

PENUTUPAN BULAN ROSARIO

Rabu, 31 Oktober 2018 Pukul 18.00: Doa Rosario dilanjutkan dengan Misa Penutupan Bulan Rosario di depan Gua Maria.

Jumat, 26 Oktober 2018

PENGUMUMAN

1. Hari Kamis, 1 November 2018 Pkl. 18.30: 
Misa Hari Raya   Semua Orang Kudus di gereja pusat

2. Hari Jumat, 2 November 2018 Pkl. 18.30: 
Misa Hari Raya Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman, di gereja pusat. Dihimbau kepada umat yang mau mendoakan keluarga atau kenalan yang telah meninggal, harap dicatat namanya dan dikumpulkan untuk dibakar (tidak dibacakan) pada waktu Misa.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Pesan Paus Fransiskus untuk Umat Katolik pada Hari Minggu Misi Sedunia 21 Oktober 2018

“Bersama kaum muda, marilah kita wartakan Injil kepada semua orang”
Orang-orang muda yang terkasih,
Aku ingin bersama denganmu merenungkan misi yang telah kita terima dari Kristus. Saat berbicara denganmu ini, aku juga berbicara kepada semua orang Kristiani yang hidup dalam Gereja dalam peziarahan hidup mereka sebagai anak-anak Allah.
Apa yang membawaku berbicara kepada setiap orang melalui percakapan denganmu ini adalah kepastian bahwa iman Kristiani tetap awet muda ketika terbuka pada misi yang Kristus percayakan kepada kita. “Misi menghidupkan iman” (Redemptoris Missio, 2), dalam kata-kata Santo Yohanes Paulus II, seorang Paus yang memperlihatkan cinta dan perhatiannya yang besar bagi orang-orang muda.
Sinode yang diselenggarakan di Roma pada bulan Oktober ini, bulan misi, memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk memahami lebih penuh, dalam terang iman, apa yang Tuhan Yesus ingin katakan kepadamu kaum muda, dan melaluimu, kepada semua komunitas Kristiani.

Hidup adalah perutusan

Setiap pria dan wanita adalah perutusan; itulah alasan bagi kita hidup di dunia ini. Ditarik dan diutus adalah dua gerakan yang hati kita, khususnya saat kita muda, merasa seperti kekuatan cinta dari dalam; mereka memegang janji untuk masa depan kita dan mereka memberi bimbingan terhadap hidup kita.
Lebih dari yang lain, orang-orang muda merasakan kekuatan hidup yang mengobarkan dan menarik perhatian. Menghidupi tanggung jawab kita terhadap dunia dengan penuh kegembiraan merupakan sebuah tantangan besar.
Aku sungguh sadar akan cahaya dan bayangan kaum muda; ketika aku memikirkan kembali masa mudaku dan keluargaku, aku ingat kekuatan harapanku akan masa depan yang lebih baik.
Kenyataan bahwa kita berada dalam dunia ini bukan karena pilihan kita sendiri membuat kita merasakan bahwa ada suatu inisiatif yang mendahului kita dan membuat kita ada. Masing-masing dari kita dipanggil untuk merenungkan kenyataan ini: “Aku adalah misi di atas bumi ini; itulah alasan mengapa aku berada di sini di dunia ini” (Evangelii Gaudium, 273).

Kita mewartakan Yesus Kristus

Gereja, dengan mewartakan apa yang ia terima dengan bebas (bdk. Mat 10:8; Kis 3:6), dapat berbagi denganmu orang-orang muda akan jalan dan kebenaran yang memberi makna pada hidup kita di atas bumi ini.
Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit bagi kita, memberikan kebebasan kepada kita dan menantang kita untuk mencari, menemukan dan mewartakan pesan akan kebenaran dan pemenuhannya ini. Orang-orang muda yang terkasih, jangan takut akan Kristus dan Gereja-Nya! Karena di sana, kita menemukan harta kekayaan yang memenuhi hidup dengan sukacita.
Aku dapat mengatakan kepadamu tentang hal ini dari pengalamanku sendiri: puji syukur dan terima kasih atas iman, aku menemukan landasan yang yang sungguh kuat atas mimpi-mimpiku dan kekuatan untuk mewujudkannya. Aku telah melihat penderitaan dan kemiskinan yang besar yang dihadapi oleh begitu banyak saudara-saudariku.
Tetapi, bagi mereka yang tinggal bersama Yesus, kejahatan adalah insentif untuk cinta yang lebih besar. Banyak pria dan wanita, dan banyak orang muda, telah dengan murah hati mengorbankan diri mereka sendiri, terlebih pada masa kemartiran, cinta pada Injil dan melayani saudara-saudari mereka.
Dari salib Yesus, kita belajar logika ilahi pengorbanan diri (bdk. 1Kor 1:17-25) sebagai pewartaan Injil bagi hidup dunia (bdk. Yoh 3:16). Dikobarkan oleh cinta Kristus adalah dinyalakan oleh api itu, untuk tumbuh dalam pengertian oleh terangnya dan dihangatkan oleh cintanya (bdk. 2Kor 5:14).
Melalui hidup para kudus, yang memperlihatkan cakrawala Allah yang luas, aku mengundang kamu untuk tidak pernah berhenti bertanya: “Apa yang akan Kristus lakukan jika Ia ada di posisiku ini?”

Menyebarkan iman sampai ke ujung bumi

Kamu juga, teman-teman muda, oleh baptisan kamu telah menjadi anggota Gereja yang hidup; kita bersama-sama telah menerima tugas perutusan untuk membawa Injil kepada setiap orang. Kamu berada pada ambang pintu kehidupan.
Tumbuh dalam rahmat iman yang dicurahkan atasmu oleh sakramen-sakramen Gereja menceburkan kita ke dalam gelombang besar saksi-saksi yang, dari generasi ke generasi, memampukan kebijaksanaan dan pengalaman orang-orang yang lebih tua untuk menjadi saksi dan dorongan untuk menyongsong masa depan. Kesegaran dan antusiasme orang muda menjadi suatu sumber dukungan dan harapan bagi mereka yang mendekati akhir perjalanan mereka.
Dalam paduan perbedaan tahap-tahap kehidupan ini, tugas perutusan Gereja menjembatani satu generasi ke generasi selanjutnya; iman kita pada Tuhan dan cinta sesama merupakan sumber kesatuan yang mendalam.
Pewartaan iman ini, inti perutusan Gereja, datang dari penerusan cinta, dimana kegembiraan dan antusiasme menjadi ungkapan dari penemuan makna baru dan pemenuhan hidup. Penyebaran iman “dengan daya tarik” memanggil hati yang terbuka dan diperluas oleh cinta.
Tidak mungkin menempatkan batas-batas pada cinta, karena cinta itu kuat seperti kematian (bdk. Kid 8:6). Dan, perluasan cinta itu menghasilkan perjumpaan, kesaksian, pemakluman; hal itu menghasilkan kesediaan berbagi amal kasih dengan semua orang yang jauh dari iman, tidak peduli dan bahkan mungkin musuh dan lawan.
Tata hidup manusiawi, budaya dan religius yang masih asing terhadap Injil Yesus dan kehadiran sakramental Gereja mewakili pinggiran yang ekstrem, “ujung-ujung bumi”, yang dituju oleh murid-murid Yesus yang diutus sejak Paskah pertama, dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai mereka (bdk. Mat 28:20; Kis 1:8). Inilah yang sekarang kita sebut “missio ad gentes”, misi kepada para bangsa.
Pinggiran yang terpencil adalah dimana umat manusia, dalam kehausan akan Kristus, acuh tak acuh terhadap iman atau memperlihatkan kebencian terhadap kepenuhan hidup dalam Tuhan. Segala kemiskinan material dan spiritual, setiap bentuk diskriminasi terhadap saudara-saudari kita, selalu merupakan konsekuensi dari penolakan akan Tuhan dan cinta-Nya.
Kaum muda terkasih, ujung bumi, saat ini sangat relatif dan selalu mudah “dijangkau”. Dunia digital – jejaring sosial yang dapat menembus dan siap tersedia – menghilangkan batas-batas, memperpendek jarak dan mengurangi perbedaan.
Segala sesuatu tampak dalam jangkauan, begitu dekat dan langsung. Tetapi, kehilangan ketulusan hidup, kita dapat memiliki begitu banyak kontak tak terhitung, namun tidak pernah berada dalam kesatuan hidup yang sejati.
Berbagi dalam misi sampai ke ujung bumi menuntut pemberian diri dalam panggilan bahwa Tuhan, yang telah menempatkan kita di bumi ini, memilih memberi kita (bdk. Luk 9:23-25). Aku berani menyatakan bahwa, bagi orang muda baik pria maupun wanita yang ingin mengikuti Kristus, apa yang paling penting adalah mencari, menemukan dan bertekun dalam panggilannya.

Menjadi saksi cinta kasih

Aku bersyukur kepada semua kelompok gerejawi yang memungkinkan Anda mengalami perjumpaan personal dengan Kristus yang hidup dalam Gereja-Nya: paroki-paroki, asosiasi-asosiasi, gerakan-gerakan, komunitas-komunitas religius, dan aneka ungkapan pelayanan misioner.
Begitu banyak orang muda menemukan jalan melayani yang “paling kecil” dari saudara-saudari kita dalam pelayanan sukarelawan misioner (bdk. Mat 25:40), dengan menjunjung keluhuran martabat manusia dan menjadi saksi sukacita cinta dan kegembiraan menjadi orang Kristiani!
Pengalaman-pengalaman gerejawi ini mendidik dan melatih kaum muda tidak hanya untuk kesuksesan profesional, tetapi juga untuk mengembangkan dan memupuk karunia-karunia yang Tuhan berikan bagi pelayanan yang lebih baik. Bentuk-bentuk pelayanan misioner yang terpuji ini adalah awal yang baik dan, melalui penegasan panggilan, dapat membantumu untuk menyempurnakan rahmat panggilan sebagai misionaris.
Serikat-serikat Misi Kepausan lahir dari hati orang muda sebagai sarana yang mendukung pewartaan Injil kepada setiap bangsa dan demikian mendukung pertumbuhan manusia dan budaya dari semua yang haus akan pengetahuan kebenaran.
Doa dan bantuan material yang diberikan dengan murah hati dan dibagikan melalui Serikat-serikat Misi Kepausan memampukan Tahta Suci untuk menjamin bahwa mereka yang dibantu dalam kebutuhan-kebutuhan personalnya dapat kembali menjadi saksi Injil di lingkungan hidupnya sehari-hari. Ijinkan aku mengulang kata-kata penyemangat yang aku sampaikan kepada kaum muda Chile: “Jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak memiliki apa-apa untuk diberikan, atau tidak ada seorangpun yang membutuhkanmu. Banyak orang membutuhkanmu. Pikirkan ini! Setiap dari kamu, pikirkan dalam hatimu: banyak orang membutuhkanku” (“Pertemuan Kaum Muda”, Maipu Shrine, 17 Januari 2018).
Orang muda terkasih, Oktober ini, bulan misi, kami akan menyelenggarakan Sinode yang ditujukan bagimu. Sinode itu merupakan satu kesempatan untuk membantu kita menjadi murid-murid yang diutus, bahkan lebih berbakti lagi kepada Yesus dan misi-Nya, sampai ke ujung bumi. Aku memohon kepada Maria, Ratu para Rasul, Santo Fransiskus Xaverius, Santa Theresia Kanak-kanak Yesus dan Beato Paolo Manna untuk menjadi pengantara kita semua dan selalu menyertai kita.
Dari Vatikan, 20 Mei 2018
Hari Raya Pentakosta
Paus Fransiskus

Kamis, 18 Oktober 2018

AKSI PEDULI GEMPA & TSUNAMI PALU, SIGI & DONGGALA


Kongregasi Suster-suster JMJ, PT Citra Ratna Nirmala bersama Tim Dokter & Perawat Rumah Sakit Sta. Anna Kendari 
menjadi Tim Relawan Gelombang II Peduli Gempa & Tsunami Palu, Sigi dan Donggala
akan berangkat ke lokasi Bencana pada awal November 2018,
untuk itu bagi bapak/ibu, Saudara/saudari, yang mempunyai bantuan berupa makanan dan obat-obatan  yang belum sempat didistribusikan ke sana,
kami membuka bantuan untuk proses distribusinya langsung ke Lokasi Bencana. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi
Sdri. Lusi (Hp. 0821 9509 5581)